Niat Baik Saja Tidak Cukup

Oleh: Ratna (Pegiat di Komunitas Ibu Hebat)

Seorang selebgram (SS) membuat heboh dunia Maya. Cuitan lelang keperawanan senilai 2 M menuai pro dan kontra. Uang hasil lelang sepenuhnya akan dijadikan sumbangan bagi masyarakat terdampak Wabah Covid-19.

Pada akhirnya selebgram tersebut membuat klarifikasi permintaan maaf. Bahwa aksinya hanyalah sarkasme pada masyarakat yang kurang peka dalam kondisi pandemi. Katanya tak ada niat merendahkan harga diri wanita. Namun apa mau dikata, cuitan Instagram yang dihapus masih menyisakan kegaduhan warganet. Sanksi sosial berupa hujatan dari netizen telah ia dapatkan. Tinggal menunggu kelanjutan apakah polisi akan menjadikan kasus ini perkara atau tidak. Karena sebelumnya polisi sedang menyelidiki kasus cuitan SS tersebut. (detik.com)

Selebgram membuat gaduh tak hanya kali ini saja. Masih banyak selebgram bahkan youtuber yang membuat gaduh masyarakat. Dengan konten-konten yang dinilai kurang mendidik, Cuitan yang menimbulkan kegaduhan bahkan statement yang kurang baik bagi seorang selebgram atau yotuber yang memiliki ratusan hingga jutaan followers.

Masih hangat dalam ingatan masyarakat. Kasus youtuber bagi-bagi sembako berisi sampah dan batu. Diberikan kepada waria dan anak kecil. Banyak warganet yang mengecam aksi FP yang tidak manusiawi ini. Meskipun FP dan kedua temannya berdalih agar para waria tidak berkeliaran di bulan Ramadhan dan mengejar konten hiburan. Akhirnya FP membuat klarifikasi minta maaf, awalnya maaf bohongan. Hingga akhirnya polisi menangkap youtuber satu ini. FP pun meminta maaf tentang tindakannya. Masih banyak lagi kasus-kasus selebgram atau yotuber yang membuat gaduh dan kecewa masyarakat. (m.cnnindonesia.com)

Cepatnya arus informasi saat ini membuat cuitan ataupun video lebih mudah viral. Baik konten positif maupun negatif. Ditambah liberalisme atau kebebasan dalam sistem demokrasi. Manusia bebas berekspresi dan menuangkan idenya. Selama itu ekspresi seni maka sah-sah saja walaupun norma agama bertentangan. Kebebasan berekspresi ini melahirkan banyak kreator membuat konten-konten yang dinilai kurang berfaedah. Konten yang dibuat yang penting menghibur dan bisa viral. Harapannya followers bertambah dan menghasilkan pundi-pundi rupiah. Disisi lain warganet +62 lebih senang konten hiburan dibandingkan konten yang mengedukasi. Buktinya konten-konten tersebut lebih cepat viral.

Pandangan Islam

Islam mendukung kemajuan teknologi dan informasi yang membantu manusia. Hanya saja kemajuan teknologi ini akan diarahkan untuk memudahkan manusia semakin dekat dengan agamanya. Misal youtube tetap ada dan bisa jadi tetap eksis. Konten-konten yang hadir pun diseleksi. Konten edukasi akan lebih banyak memenuhi. Konten hiburan tetap ada tapi masih dalam batas yang diperbolehkan dalam Islam. Konten sampah hingga konten porno yang merusak generasi bangsa akan ditiadakan.

Selain itu setiap individu yang ingin membuat konten akan berfikir dua kali. Apakah kontennya bermanfaat atau tidak buat umat. Karena individu sadar betul setiap perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban diakhirat nanti. Baik perbuatan di dunia nyata maupun dunia Maya.
أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَٰنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (QS. Al Qiyamah:36)
الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـلِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّـتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلاً

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal.”(QS. Al- Kahfi:107)

Sehingga individu berusaha memastikan amalnya adalah amal Sholih. Amal yang akan diterima Allah. Menjadi kebaikan di akhirat. Amalan Solih/ kebaikan ini harus memenuhi dua syarat. Yaitu Niatnya harus ikhlas karena Allah. Kedua caranya sesuai yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw (Ittiba’ Rasul). Contoh Niat membantu orang yang terkena dampak Covid-19. Niatnya baik, lebih bagus jika karena Allah/ikhlas. Caranya dengan melelang keperawanan. Tentu amalan ini bukan amal Solih karena niat baik tapi caranya tidak baik, berasal dari haarta haram. Bukannya melahirkan kebaikan malah kerusakan.

Kondisi ideal diatas, berupa penyaringan konten-konten bermanfaat. Kondisi individu yang berfikir sebelum bertindak karena kesadarannya tentang pertanggungjawaban diakhirat. Hanya bisa tercapai ketika aturan Islam di terapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Termasuk kemajuan teknologi dan informasi. Dalam sistem Islam kondisi jawil Iman (suasana keimanan) di masyarakat benar-benar terjaga. Amar makruf nahi munkar menjaga manusia dari perbuatan yang mendzolimi dirinya dan orang lain.

Waallahu A’lam Bishawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *