New Normal, Untuk Siapa?

Oleh: Setya Kurniawati (Aktivis BMI dan Pegiat Pena Langit)

New normal merupakan kebijakan yang ditempuh Indonesia dalam menghadapi wabah covid 19. Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid 19, Wiku Adisasmita, yang dimaksud new normal ialah menjalani kehidupan sebagaimana biasa sebelum ada covid 19, ditambah dengan protokoler kesehatan.

Dimuat dalam lamannya PBB melalui artikel tertanggal 27 April 2020 bertajuk “A New Normal: UN lays out roadmap to lift economies and save jobs after Covid-19” (New Normal: Peta jalan yang diletakkan PBB bagi peningkatan ekonomi dan penyelamatan lapangan pekerjaan setelah Covid-19).

Dinyatakan, “Kondisi ‘normal yang dulu’ tidak akan pernah kembali, sehingga pemerintah harus bertindak menciptakan ekonomi baru dan lapangan pekerjaan yang lebih banyak.”

Indonesia menerapkan new normal salah satunya karena telah ditetapkan oleh PBB sebagai kerangka kerja dunia dan dipromosikan untuk suatu kehidupan baru yang lebih baik dalam menghadapi wabah.

Sebagaimana dinyatakan sekretaris Jenderal PBB Antonio Gutteres. “Kerangka kerja PBB menanggapi langsung persoalan sosial-ekonomi akibat Covid 19: Tanggung jawab bersama, solidaritas global, dan tindakan mendesak bagi orang-orang yang membutuhkan, mengimbau agar melindungi pekerjaan, bisnis, dan mata pencaharian untuk menggerakkan pemulihan masyarakat dan ekonomi yang aman sesegera mungkin secara berkelanjutan, setara gender, dan netral karbon yang lebih baik daripada “normal yang dulu”.

Adanya kebijakan new normal menjadikan sejumlah ahli kesehatan bersuara, terutama Indonesia karena kurva kasus covid 19 masih terus meninggi. Wakil ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan, “Saat ini terlalu cepat untuk mengambil langkah new normal. Untuk masuk new normal, pemerintah harus memiliki indikator dan kriteria berbasis data penanganan corona secara medis dan epidemiologis.” (kompas.tv)

Selain Indonesia, Amerika sebagai Negara adidaya juga mengambil kebijakan new normal. Padahal kasus covid-19 di sana masih terus mengalami peningkatan bahkan menjadi Negara terbanyak kasus covid 19 di dunia. Anthony S Fauci, dokter ahli penyakit menular dan direktur National Institute of Allergy and Infectious Disease. Beliau juga menentang langkah Trump yang membuka kembali sekolah dan ekonomi saat wabah sedang mengganas, dan menyatakan kepada sejumlah gubernur negara bagian, “Ada risiko nyata bahwa Anda akan memicu wabah yang mungkin tidak dapat anda kendalikan”.

Jika tenaga medis berpendapat demikian lantas mengapa penguasa kekeh menerapkan kebijakan new normal? Ya, aspek ekonomi tentu menjadi pertimbangan. Dengan alasan membangun ekonomi justru nyawa milliaran manusia taruhannya. Ditengah wabah memang perekonomian setiap Negara mengalami penurunan sehingga kerugian didapat oleh Negara terutama para korporasi. Pasalnya covid 19 belum mampu teratasi apabila diterapkan kebijakan new normal bukankah wabah akan semakin menjadi? Dan kapan akan terhenti?

Penguasa punya fungsi sebagai pelayan rakyat. Namun faktanya, kini penguasa justru sebagai pelayan korporasi. Penguasa dalam sistem demokrasi kapitalis memang hidup di bawah tekanan korporasi karena untuk masuk di kanca pemerintahan penguasa butuh dana besar dan di sanalah korporasi hadir membantu di awal dan menekan di akhir. Sehingga mengatasi wabah bukan aspek kesehatan semata melainkan nilai materi, serta aspek bisnis tetap yang utama. Inilah karakter sistem kapitalis, materi menjadi tujuannya dari lahir hingga akhir hayatnya.

Berbeda dengan sistem islam memiliki karakter yang sangat mulia, mampu memberikan rasa tentram dan ketenangan kepada siapa saja. Karakter yang begitu sempurna telah ditegaskan Allah SWT dalam firmanNya, “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan penyejahtera bagi seluruh alam.” (TQS Al Anbiya [21]: 107).

Tidak hanya sekadar konsep, sistem Islam dengan karakternya yang mulia sebagai pewujud kesejahteraan seluruh alam, telah terbukti pernah diterapkan kurang lebih selama 1300 tahun dan berhasil diterapkan di dua per tiga dunia. Ini semua telah diukir oleh tinta emas peradaban sejarah. Sehingga sistem Islam dalam bingkai Khilafah adalah satu-satunya harapan dunia untuk menuju puncak kesejahteraan untuk kedua kalinya dengan izin Allah SWT.

Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *