New Normal Mengancam Kita!

Oleh: Fatimmah Azzahra1453 (Muslimah Trenggalek, Member AMK dan penggiat literasi)

Berbicara tentang virus Covid-19 (Corona) sepertinya tidak pernah kehabisan kata-kata, tetap akan ada masukan dan kritik atas setiap penangan yang ada di Negara-negara yang terjangkiti virus ini, tak terkecuali Indonesia tercinta.

Indonesia masuk dalam kategori negara yang terjangkiti virus Corona terbesar di Dunia, dari hari ke hari tingkat Positif, kematian meningkat namun tak di pungkiri tingkat kesembuhan juga meningkat namun persentase nya sangat minim. Tercacat per 7 Juni 2020 kasus Corona di Indonesia terus meningkat, 31.186 orang positif, 1.851 orang meninggal dan 10. 498 orang sembuh.Virus ini yang sangat unik, sampai saat ini belum ditemukan obat atau vaksin untuk mengendalikannya, semua kalangan dapat tertular virus ini namun yang sangat rentan adalah lansia.

Melihat data orang yang terpapar Covid-19 yang masih sangat mengkhawatirkan. Pemerintah malah membuat kebijakan baru yang bikin geleng-geleng kepala. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak masyarakat untuk dapat hidup berdamai dengan Covid-19, Jokowi mengimbuhkan saat ini sudah saatnya “Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan,” kata Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, dikutip dari Kompas.com, Kamis (7/5/2020).

A new normal life (normal yang baru) adalah keadaan dimana aktivitas berjalan normal seperti sebelum ada Corona namun disertai dengan protokol-protokol yang harus di patuhi seperti memakai masker, menjaga jarak juga selalu sedia hand sanitizer. Toko, pasar, Mal, sekolah dan tempat umum lainnya akan segera dibuka dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan Covid-19 namun ada kekhawatiran ini menjadi salah satu cluster baru dalam penyebaran virus covid-19.

Tak hanya orang dewasa yang akan terinfeksi virus Corona ini namun besar kemungkinan anak kecil akan terinfeksi dengan aktivitas new normal yang sejatinya abnormal. Menurut Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman B Pulungan, resiko penularan virus corona pada anak memang cukup tinggi. Maka orang tua harus berperan penting mengawasi anak, terlebih jika ada kegiatan di luar rumah. “Ada kegiatan di luar rumah yang rawan menularkan ke anak, maka perlu pengawasan,” ujarnya, dikutip CNN Indonesia.

Jakarta sebagai salah satu wilayah dengan jumlah kasus corona tinggi memiliki banyak kasus anak positif corona. Dilihat dari situscorona.jakarta.go.id, pada Minggu (31/5/2020), hingga hari ini ada 91 balita (0-5 tahun) di Jakarta tercatat positif terinfeksi COVID-19. Data menunjukkan sebanyak 42 balita perempuan positif COVID-19. Sedangkan sisanya aadalah balita laki-laki sejumlah 49 orang.Ada pun balita yang menjadi orang dalam pemantauan (ODP) mencapai 682 perempuan dan 681 laki-laki. Sementara pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 159 balita perempuan, serta 210 laki-laki (haibunda.com, 31/05).

Kebijakan new normal life menuai banyak kritik dari berbagai pihak, terutama saat mengetahui sekolah akan dibuka. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag) terus mengkaji langkah pembukaan sekolah pada 13 Juli 2020. Langkah pembukaan sekolah dikhawatir mengancam kesehatan anak karena penyebaran virus corona (Covid-19) belum menurun. Bahkan kasus Covid-19 pada anak di Indonesia cukup besar dibandingkan negara lain.

Melihat data-data anak yang terinfeksi Corona cukup besar, KPAI meminta Kemendikbud dan Kemenag belajar dari negara lain dalam langkah pembukaan sekolah. “Beberapa negara membuka sekolah setelah kasus positif Covid-19 menurun drastis bahkan sudah nol kasus. Itupun masih ditemukan kasus penularan Covid-19 yang menyerang guru dan siswa. Peristiwa itu terjadi di Finlandia. Padahal mereka tentu mempunyai sistem kesehatan yang baik. Persiapan pembukaan yang matang. Sekolah pun jadi klaster baru,” ungkap Retno (okezone.com, 27/05).

Sangat menyedihkan jika kebijakan ini diambil dengan tergesa-gesa tanpa memikirkan dampak kedepan. Melihat jumlah kasus terinfeksi virus semakin hari semakin melonjak bukan semakin menurun, bisa jadi anak sekolah adalah salah satu pihak yang akan di korbankan didalam kebijakan ini. Sifat anak sekolah,apalagi masih SD atau TK sangat labil, jika diminta untuk disiplin mematuhi protokol kesehatan Covid-19 apakah bisa ? Apakah ada jaminan anak sekolah akan menjalankan protokol kesehatan Covid-19 dengan baik dan tidak tertular virus Corona saat berada di sekolah ?
Wajah aslinya !
Wajah aslinya sedikit demi sedikit sudah terlihat semakin nyata, siapa yang menjadi prioritas didalam setiap kebijakan yang diambil, apakah pro rakyat atau pro segelintir orang yang mempunyai kepentingan kapitalis. Ekonomi memang salah satu hal penting dalam suatu negara, jika ekonomi mandeg bisa jadi negara akan kacau balau. Tak dipungkiri rakyat adalah hal yang paling pokok dalam suatu negara, jika rakyatnya mati semua apalah guna ekonomi yang ada ? Siapa yang akan menggunakan ekonomi tersebut ?
Kebijakan new normal life ini lebih mengarah pada herd immunity, hidup atau mati terserah pada imunitas dari individu, jika imunitas rendah maka bisa jadi individu tersebut akan menjadi salah satu korban sia-sia dari virus Corona (Covid-19) tanpa arti apa-apa.
Islam is my life!

Islam itu bukan sekedar agama namun juga penyelesai dari segala permasalahan manusia, karena Islam datang bukan dari manusia yang serba lemah dan terbatas namun datang dari zat yang maha agung “Allah SWT” tanpa mempunyai kelemahan sedikitpun.

Setiap kebijakan yang di buat oleh pemimpin (Kholifah) didalam Islam akan difikirkan secara matang-matang dengan mempertimbangkan banyak hal, kemaslahatan umat salah satu satu hal yang difikirkan serius oleh pemimpin (Kholifah) karena setiap kebijakan akan dimintai pertanggung jawaban. Ketakutan ini yang melandasi Kholifah berhati-hati dalam setiap yang dilakukannya dalam meriayah umat (rakyatnya).

Rosululloh Saw bersabda yang artinya:

“Setiap kalian adalah pemimpin & setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang penguasa adalah pemimpin & akan ditanya tentang kepemimpinannya. …” (shohih bukhari : 893). Dengan rasa khawatir yang begitu besar dan mengingat pahala yang besar pula tak ragu para Kholifah berfikir serius untuk meriayah umat dengan proses dan hasil yang terbaik, sehingga permasalahan terselesaikan dengan tuntas tanpa melanggar hukum Syara’ satupun.
Perkara yang sama dengan Covid-19 pernah terjadi pada zaman Kholifah Umar Ra. Kholifah Umar pun serius mencari jalan keluar untuk menghadapi masalah tersebut. Diskusi terjadi antara kaum Anshar dan muhajirin untuk mencari jalan keluar atas wabah yang terjadi namun belum ada solusi yang jitu sampai datanglah Abdurrahman bin auf, lalu beliau berkata, “Saya tahu tentang masalah ini. Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

“Jika kalian berada di suatu tempat (yang terserang wabah), maka janganlah kalian keluar darinya. Apabila kalian mendengar wabah itu di suatu tempat, maka janganlah kalian mendatanginya.”

Dalam kondisi genting menghadapi wabah kholifah Umar bin Khattab Ra mampu mengambil keputusan  yang berbobot dengan memperhatikan saran dari orang yang berkompeten di bidangnya. Tujuannya tak lain adalah menyelamatkan lebih banyak kaum muslimin dan manusia secara umum agar tidak meninggal tersebab wabah penyakit. Sudah jelas sabda Rasulullah Saw bahwa tak boleh sembarangan dalam menangani wabah penyakit, harus ada pemisahan daerah yang terjangkiti wabah dengan daerah yang bersih dari wabah, semata hanya untuk menjaga umatnya.

Kebijakan new normal life tak patut diambil karena banyak kemudorotan yang akan didapat oleh rakyat, terlebih saat sekolah dibuka maka korban terbesar bukan tidak mungkin adalah anak2 yang sebenarnya mereka belum mengetahui seberapa bahaya virus Corona ini.

Pemimpin sekaliber kholifah Umar Ra tak diciptakan (lahir) dengan sistem yang banyak kurang dan cacatnya, namun terlahir dari sistem peraturan, lingkungan dan individu yang bertaqwa. Menjadikan ridho sang pencipta diatas segalanya, menjadikan umat sebagai tuan dan ia sebagai pelayan, selayaknya pelayan ia akan melayani tuan nya dengan baik dengan mengharap sesuatu yang tak bisa dibeli atau ditukar denga uang yaitu pahala yang besar. Pemimpin seperti ini hanya akan bisa dilahirkan dari rahim-rahim sistem Islam.

Wallahu a’lam, jika penulis ada salah dalam menulis gundahan hati ini, penulis mohon maaf sebesar-besarnya. Semoga kebaikan bisa kita ambil dalam tulisan ini…Aamiin, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *