New Normal Life, Layakkah untuk Indonesia?

Oleh : Umi Rizkyi (Komunitas Setajam Pena)

New normal life, inilah yang lagi ngehit pekan ini. Saat ini pemerintah telah merilis beberapa skenario new normal life untuk semua pekerja. Baik para PNS, BUMN, dan perusahaan. Semua orang berusaha menormalkan kondisi. Baik kondisi kesehatan, sosialisasi bahkan kondisi ekonomi. Namun, sungguh disayangkan usaha penormalan itu tidak diiringi dengan penanganan wabah dari aspek kesehatan dan keselamatan.

Bahkan pemerintah belum memiliki peta jalan new normal life. Hanya sekedar mengikuti tren global tanpa menyiapkan perangkat memadai agar tidak menimbulkan dan menjadi masalah baru. Yakni yang bertujuan untuk membangkitkan dan mendongkrak ekonomi namun begitu membahayakan manusia. Secara logika, alih-alih ekonomi bisa teratasi, justru wabah gelombang kedua telah siap mengintai dan memangsa siapa saja di depan mata.

Begitu pula, pendapat para ahli yang menyatakan bahwa new normal life terdapat empat kriteria yang belum terpenuhi sebagai syarat dijalankannya new normal life di Indonesia. Seperti yang dilansir dari mereka.com (25/05/2020), Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia ( IAKMI ), Dr. Hermawan Saputra mengkritik persiapan pemerintah menjalankan kehidupan new normal. Menurut dia belum saatnya, karena ternyata kasus baru terus meningkat dari hari ke hari.
“Saya kira baru tepat membicarakan new normal ini sekitar minggu ke tiga atau ke empat juni nanti maupun awal juli. Nah, sekarang ini terlalu gegabah kalau kita bahas dan memutuskan segera new normal. Jadi, new normal ini adalah sesuatu yang akan dihadapi, namun berbincang new normal ini banyak persyaratan. Pertama, syaratnya harus sudah terjadi perlambatan kasus. Kedua, sudah dilakukan optimalisasi PSBB. Ketiga, masyarakat harus sudah lebih memawas diri dan meningkatkan daya tahan tubuh masing-masing. Keempat, pemerintah sudah betul-betul memperhatikan infrastruktur pendukung untuk new normal”.

Dengan demikian maka seharusnya tak tergesa-gesa pemerintah untuk menerapkan new normal, dan jangan memaksakan diri. Karena bukan hanya sekedar krisis ekonomi atau darurat makan saja, tapi ini urusan kesehatan dan keselamatan jiwa rakyatnya.

Di sinilah bedanya, bagaimana kapitalisme menanggapi dan berusaha menyelesaikan masalah. Tanpa berpikir panjang, namun justru terkesan tergesa-gesa dengan tren asing yang membahana. Yang ada justru masalah tidak kunjung selesai tapi bahkan malah muncul masalah baru lagi. Dan bisa jadi makin hari makin menggunung tinggi. Karena pemerintah memprioritaskan ekonomi, krisis sosial dan lain sebagainya dari pada keselamatan jiwa rakyatnya.

Islam tidak mengajarkan membebek pada asing, atau ikutan tren yang ada. Seperti sekarang ini, ketika WHO mengarahkan new normal life, kemudian diterapkan di beberapa negara, maka pemerintah kita ikut ngalir saja. Ini menunjukkan negara tidak mempunyai kemandirian. Padahal dalam Islam, negara harus tetap berpegang teguh dengan prinsip dan tetap menerapkan hukum-hukum Islam, bagaimanapun keadaannyanya. Sekalipun dalam kondisi di tengah wabah seperti yang terjadi saat ini.

Sistem Islam tidak akan menghalalkan segala cara untuk menangani berbagai macam permasalahan. Kebijakannya pun diambil tidak karena nafsu Kholifah, tapi dituntun oleh wahyu yang telah tertera dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Kebijakan diterapkan dengan penuh ketaatan kepada Allah SWT dan semata ingin meraih ridho-Nya. Karena seluruh kebijakan akan menjadi tanggung jawab kholifah seutuhnya. Baik dunia, terlebih di akhirat kelak.

Standart kebijakan yang diambil oleh pemerintah hanya semata-mata untuk menerapkan hukum Allah. Memberikan pelayanan dan hak rakyatnya secara merata dan tidak pandang bulu. Baik muslim maupun non muslim, semua diberlakukan sama. Keselamatan dan jiwa rakyatnya adalah standard pokok bagi sistem Khilafah. Wallahua’lam bishowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *