New Normal Life = Berdamai Dengan Corona, Bisakah?

Oleh: Dwi Indah Lestari, S.TP

Entah sampai kapan pandemi covid 19 ini akan berakhir. Tren yang terjadi hingga saat ini, jumlah orang yang terinfeksi virus ganas ini terus meningkat jumlahnya. Ribuan orang telah meninggal sementara jutaan lainnya terus berpotensi terpapar akibat penanganan wabah yang setengah hati.
Pemerintah sendiri akhir-akhir ini getol menyuarakan untuk berdamai dengan corona. Wacana new normal life terus digulirkan. Alih-alih menuntaskan wabah, masyarakat diminta untuk menerima kondisi yang ada dan melanjutkan hidup dengan berbagai penyesuaian cara hidup baru yang harus diikuti. Mal-mal yang semula ditutup akhirnya diijinkan beroperasi kembali. Bahkan Presiden JokoWidodo beberapa waktu lalu hadir dalam pembukaan sebuah mal di Bekasi. Tak hanya itu, sejumlah protokol baru dirilis oleh pemerintah sebagai panduan masyarakat menjalani new normal life.

Seperti yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor HK.02.01/MENKES/335/2020 tentang Protokol Pencegahan Penularan Corona Virus Disease (COVID-19) di Tempat Kerja Sektor Jasa dan Perdagangan (Area Publik) dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha. Perusahaan diwajibkan membatasi jarak pekerjanya minimal 1 meter. Penerapan batasan jarak itu dilakukan baik di titik tempat bekerja maupun di bagian lainnya (detik.com,25 mei 2020). Sementara itu untuk para ASN (Aparatur Sipil Negara) dan karyawan BUMN, pemerintahpun telah mengeluarkan panduan cara kerja ala new normal life. Diantaranya sistem kerja yang fleksibel (flexible working arrangement), sehingga memungkinkan mereka untuk bisa bekerja dari rumah (cnbcindonesia.com, 25 Mei 2020).

Namun tak sedikit pula kalangan yang mengkritik wacana ini. Pasalnya, mereka menilai kondisi Indonesia saat ini belum memiliki kesiapan menjalankan new normal life. Diantaranya adalah Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr Hermawan Saputra yang mengkritik persiapan pemerintah menjalankan kehidupan new normal. Menurutnya berbicara new normal life, setidaknya ada 4 syarat yang harus dipenuhi. “Jadi, new normal ini adalah sesuatu yang akan dihadapi, namun berbincang new normal ini banyak pra syaratnya. Pertama, syaratnya harus sudah terjadi perlambatan kasus. Dua, sudah dilakukan optimalisasi PSBB,” sebutnya. Ketiga, masyarakatnya sudah lebih memawas diri dan meningkatkan daya tahan tubuh masing-masing. Keempat, pemerintah sudah betul-betul memperhatikan infrastruktur pendukung untuk new normal. (merdeka.com,25 mei 2020). Keempat syarat tersebut dinilai belum nampak dimiliki oleh Indonesia saat ini. Lantas mengapa pemerintah begitu gencar menyuarakan new normal life akhir-akhir ini?

Dibalik New Normal Life

Sangat terlihat pemerintah terkesan memaksakan new normal life ini kepada masyarakat. Dalihnya, tak ada pilihan lain selain hidup berdampingan dengan wabah agar kehidupan kembali berjalan “normal”, sampai vaksin corona berhasil ditemukan. Pemerintah seolah menutup mata akan adanya bahaya yang mengintai dibalik “hidup normal yang baru” itu. Kesiapan pemerintah dipertanyakan untuk menjalankan konsep ini. Bagaimana tidak, kurva penambahan kasus positif covid belum juga menunjukkan tanda-tanda akan melandai, bahkan kecenderungannya semakin beranjak naik. Kebijakan pemerintah yang sering berubah-ubah dan setengah hati dalam menangani wabah ditengarai menjadi penyebab pandemi tak kunjung berakhir. Pada akhirnya wacana new normal life disinyalir hanya mengikuti tren global yang bertujuan membangkitkan ekonomi yang kolaps sebagai dampak dari pandemi covid 19 yang meluas.

Padahal tanpa kesiapan yang optimal, hidup baru ini justru akan mendulang bahaya yang lebih besar lagi. Banyak pihak yang mengingatkan wabah gelombang kedua akan menerjang dengan korban jiwa yang jauh lebih banyak. Pasalnya dengan digulirkannya new normal life yang melonggarkan kembali aktivitas manusia, masyarakat bisa jadi menganggap sudah bisa beraktivitas normal. Padahal virus corona masih belum hilang, sehingga diperkirakan akan meyebabkan lebih banyak orang yang akan dengan mudah terpapar. Alih-alih hilang, virus malah menyebar luas. Meskipun berbagai protokol kesehatan telah dicanangkan, namun sulit mengontrol pelaksaannya sesuai dengan yang ditetapkan. Apalagi sarana dan prasarana pendukung masih minim tersedia.

Motif ekonomi sangat kuat tercium dari digalakkannya new normal life. Sistem kapitalisme yang menyandarkan “hidup”nya pada sektor ekonomi jelas sangat terdampak wabah ini. Mesin-mesin pabrik yang berhenti beroperasi, mal-mal yang tutup, alur ekonomi yang mandeg, membuat pengusaha-pengusaha besar bermodal elit kelimpungan. Mereka jelas sangat berkepentingan untuk memulihkan kembali kondisi ekonominya yang porak-poranda. Karenanya disinyalir ada aroma kepentingan ekonomi negara-negara besar menyeruak di balik gencarnya wacana new normal life. Aspek manfaat (materi) begitu kental melumuri hidup baru yang mereka canangkan dan nyaring digaungkan oleh pemerintah saat ini, tanpa mereka memperhitungkan nyawa rakyat yang akan menjadi taruhannya. Hal ini menunjukkan betapa negara tak lagi peduli akan keselamatan jiwa rakyatnya.

New Life dalam Naungan Islam

Berbeda dengan kapitalisme, Islam tak pernah lalai melakukan pengurusan terhadap rakyat yang hidup di bawah sistem mulia ini. Bukan hanya kepada umat Islam bahkan non muslim pun akan merasakan keadilan dan kesejahteraan hidup dalam naungannya.

Sebab Allah mengutus Rasulullah adalah sebagai rahmatan lil ‘alamiin. Peradaban Islam adalah satu-satunya peradaban berkarakter mulia, pemberi rasa tenteram dan ketenangan bagi kehidupan umat manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan penyejahtera bagi seluruh alam.” (TQS Al Anbiya [21]: 107).

Dalam Islam, negara akan menjadi pelindung yang sesungguhnya bagi rakyat. Mengurusi urusan mereka dengan syariatNya yang sesuai dengan fitrah manusia. Dengan Islam, penanganan wabah akan dilakukan sesuai dengan tuntunan syariah.

Kebijakan karantina wilayah, pengobatan bagi warga yang terkena wabah dengan penanganan kesehatan terbaik serta pemenuhan seluruh kebutuhan pokok warga hingga wabah benar-benar teratasi. Dengan demikian warga negara yang tidak terkena wabah masih bisa beraktivitas secara normal dalam memenuhi ekonominya. Bahkan mereka dapat bersatu untuk menolong saudaranya yang terdampak wabah. Wabah akan cepat diselesaikan dan kehidupan akan bisa kembali normal seperti sedia kala.

Gagalnya kapitalisme yang digawangi oleh negara-negara besar, menjadikan Islam sebagai satu-satunya harapan yang akan membebaskan umat manusia dari krisis akibat wabah. Tidak sekadar konsep, peradaban Islam dengan karakternya yang mulia sebagai pewujud kesejahteraan seluruh alam, benar-benar telah teruji selama puluhan abad dan di dua per tiga dunia. Ini semua telah diukir oleh tinta emas peradaban sejarah. Pada gilirannya, peradaban Islam akan membawa dunia pada puncak kesejahteraan untuk kedua kalinya dengan izin Allah SWT.

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan din yang benar agar dimenangkan-Nya atas semua din. Dan cukuplah Allah sebagai saksi…” (TQS Al Fath[48]: 28).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *