New Normal Life: Antara Tren Global dan Kesiapan Internal

Oleh: Herawati, S.Pd.I

Pandemi Corona Virus Diseases 2019 (Covid-19) didunia dan Indonesia belum berakhir, data statistik Indonesia terus mengalami kenaikan kasus posisif covid19, disebabkan adanya kelonggaran dalam kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjelang hari raya ldul Fitri.

Dilansir dari KOMPAS.com – Beberapa ahli mengatakan bahwa Indonesia harus bersiap menyambut kedatangan gelombang kedua virus corona.
Salah satu peneiliti yang mengungkapkan hal itu adalah Epidemiolog Indonesia kandidat doktor dari Griffith University Australia, Dicky Budiman.

Menurut Dicky, pandemi Covid-19 berpotensi memiliki beberapa gelombang serangan wabah, termasuk di Indonesia.
“Gelombang kedua biasanya menyerang hingga 90 persen penduduk yang belum terpapar tadi,”

Dicky mengungkapkan, gelombang kedua mempunyai masa jeda yang relatif jauh dengan puncak gelombang pertama, bisa memakan waktu sebulan atau lebih. Kata Dicky saat dihubungi Kompas.com, Selasa (14/4/2020).

Namun, ditengah meningkatnya kasus positif covid19, Presiden Joko Widodo mengumumkan (7/5/2020), melalui akun resmi media sosial Twitter @jokowi, dinyatakan, “Sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan.”

Keputusan presiden Joko Widodo, mengikuti pernyataan dari World Health Organization (WHO), pada Rabu (14/05), bahwa virus corona jenis baru SARS-CoV-2 mungkin tidak akan pernah hilang dan seluruh populasi di dunia harus belajar untuk hidup berdampingan dengan covid 19 (New Normal Life).

“Virus ini mungkin menjadi virus endemik di sekitar kita dan virus ini mungkin tidak akan pernah hilang,” jelasnya Ryan, Direktur Kedaruratan  World Health Organization (WHO) dalam konferensi pers virtual di Jenewa, Swiss. (dw.com)

Bahkan pemerintah sudah merilis beberapa skenario new normal life untuk pekerja (PNS, BUMN dan Perusahaan). Dilansir dari m.detik.com 23/5/2020 Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Dwi Wahyu Atmaji, menyebutkan Ada tiga komponen pengaturan saat menjalankan new normal.

Pertama, terkait sistem kerja untuk PNS. Ia menjelaskan nantinya akan diterapkan sistem flexible working arrangement yang mana ASN bisa bekerja dari kantor, rumah, atau tempat lain.

Kedua, penerapan protokol kesehatan. Mulai dari jaga jarak di tempat kerja, pemakaian masker dan cuci tangan untuk mencegah penularan virus selama bekerja. Skema ini, kata Wahyu, tentunya nanti membutuhkan penyesuaian sarana dan ruang kerja.

Ketiga, percepatan dan perluasan penerapan teknologi informasi dan komunikasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik antara lain seperti e-office (less paper/paper less), digital signature hingga rapat fisik dikurangi (sebagian besar rapat melalui video conference).

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). Dr Hermawan Saputra mengkritik persiapan pemerintah menjalankan kehidupan new normal. Menurut beliau belum saatnya, karena temuan kasus baru terus meningkat dari hari ke hari.

“Saya kira baru tepat membicarakan new normal ini sekitar minggu ketiga/empat Juni nanti maupun awal Juli. Nah, sekarang ini terlalu gegabah kalau kita bahas dan memutuskan segera new normal itu,”

“Jadi, new normal ini adalah sesuatu yang akan dihadapi, namun berbincang new normal ini banyak pra syaratnya. Pertama, syaratnya harus sudah terjadi perlambatan kasus. Kedua, sudah dilakukan optimalisasi PSBB,” sebutnya.

Ketiga, masyarakatnya sudah lebih mawas diri dan meningkatkan daya tahan tubuh masing-masing. Keempat, pemerintah sudah betul-betul memperhatikan infrastruktur pendukung untuk new normal. Ujar Hermawan saat dihubungi merdeka.com, Senin (25/5/2020).

Sistem kapitalisme global telah gagal dalam menangani pandemi covid19, kebijakan new normal life yang akhirnya menjadi tren dunia sesungguhnya mengungkap bagai mana buruknya sistem pemerintahan dan sistem kesehatan idiologi kapitalisme.

Tidak terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat selama masa karantina, serta ekonomi yang lesu akibat PSBB menjadi alasan Indonesia mengikuti tren global new normal life.

Tidak adanya persiapan yang matang dari pemerintahan dalam menjalankan new normal, dianggap berbahaya bagi rakyat, masih banyak rakyat yang belum mempunyai kesadaran akan pentingnya mengikuti protokol kesehatan dan keamanan saat berada di area publik, seperti memakai masker dan menjaga jarak.

Alih-alih ekonomi bangkit justru wabah gelombang ke dua mengintai di depan mata, karena menjalankan new normal life dalam kondisi jumlah positif covid19 sedang mengalami pemeningkatan.

Solusi Islam tuntaskan wabah

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَٰمُ ۗ
Artinya:”Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam”.(QS. Ali-Imran ayat 19).

Sebagai mana firman Allah diatas,
Islam adalah agama yang diridhai oleh Allah, Sistem Islam yang konferensif menjadi problem solving bagi seluruh problematika yanh dihadapi manusia.

Sejarah pemerintahan Islam dimasa kholifah Umar bin Khattab,
telah mengungkap bagai mana Negara Islam mampu menangani serta menuntaskan wabah tha’un, yang menjangkiti warga di wilayah syam.

Kholifah Umar bin Khattab bisa berhasil mengendalikan wabah tah’un karena mengikuti metode Nabi Muhammad saw, Nabi bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.”
(HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Dari sini seharusnya pemimpin Islam bisa mengambil pelajaran bahwa karantina wilayah terdampak covid19 (lock down) dianggap metode paling efektif dalam memutus rantai penyebaran wabah.

Namun kewajiban menjamin seluruh kebutuhan rakyat harus dipenuhi oleh pemerintah, agar rakyat merasa tenang dan aman saat melewati masa masa karantina. Negara berkewajiban memenuhi kebutuhan sandang, papan dan pangan warga.

Solusi new normal life saat wabah sedang berlangsung, sangat membahayakan bagi rakyat serta bertentangan dengan solusi yang diajarkan Nabi Muhammad saw

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat.”
(HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh berbuat madlarat dan hal yang menimbulkan madlarat.”
(HR Ibn Majah dan Ahmad ibn Hanbal dari Abdullah ibn ‘Abbas)

Maka menjadi tugas utama bagi seorang pemimpin, menjauhkan rakyat dari segala bahaya dan dari segala madlarat yang disebabkan oleh wabah.

Bukan malah sebaliknya, mengikuti tren global memberlakukan new normal life ditengah wabah sedang mengganas, kebijakan ini justru malah mencampurkan orang yang sehat dengan yang terdampak covid 19.

Wahai khoirul umah mari terapkan syariah islam secara kaffah, karena hanya dengan syariah islam pandemi covid19 dan seluruh problematika umat bisa tuntas. Tanpa menimbulkan masalah baru, sehingga islam bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam.

«وَ اِنَّهُ لَهُدىً وَ رَحْمَهٌ لِلْمُؤْمِنینَ»
”Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs Al-Naml [27]: 77).

Wallahualam bishowab..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *