New Normal Life: Antara Tren Global Dan Kesiapan Global

Oleh: Emirza, M. Pd

Ajakan Presiden Joko Widodo untuk menjalankan kehidupan new normal sebaiknya direspons dengan panduan program yang jelas. Jika tidak, sangat berpotensi Indonesia mengalami kegagalan sosial.
Para pembantu Presiden Jokowi dinilai belum tentu mampu menerjemahkan ide besar yang sedang ditunggu masyarakat tersebut. https://www.wartaekonomi.co.id/read286804/jokowi-serukan-new-normal-program-konkret-seperti-apa-nih-pak

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr Hermawan Saputra mengkritik persiapan pemerintah menjalankan kehidupan new normal. Menurut dia belum saatnya, karena temuan kasus baru terus meningkat dari hari ke hari.
“Saya kira baru tepat membicarakan new normal ini sekitar minggu ketiga/empat Juni nanti maupun awal Juli. Nah, sekarang ini terlalu gegabah kalau kita bahas dan memutuskan segera new normal itu,” ujar Hermawan saat dihubungi merdeka.com, Senin (25/5).
Terlalu dini, maksud Hermawan adalah wacana new normal ini membuat persepsi masyarakat seolah-olah telah melewati puncak pandemi Covid-19, namun kenyataan belum dan perlu persiapan-persiapan dalam new normal tersebut. https://www.merdeka.com/peristiwa/pakar-kesehatan-new-normal-ada-4-kriteria-ri-belum-penuhi-syarat.html

Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Dwi Wahyu Atmaji ada tiga komponen yang diatur dalam skenario new normal. Pertama, skenario ini akan menerapkan sistem kerja yang lebih fleksibel (flexible working arrangement) yang membuat ASN bisa bekerja dari kantor, rumah, atau tempat lain.
Kedua, skenario ini juga mewajibkan penerapan protokol kesehatan, seperti jaga jarak, pemakaian masker dan cuci tangan untuk mencegah penularan virus selama bekerja. Skema ini, jelas Wahyu, tentunya akan diiringi dengan penyesuaian sarana dan ruang kerja.
Ketiga, percepatan dan perluasan penerapan teknologi informasi dan komunikasi juga harus dilakukan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik, misalnya melalui e-office, digital signature, dan rapat lewat video conference. https://www.cnbcindonesia.com/news/20200525085906-4-160664/begini-bocoron-cara-kerja-new-normal-ala-pns-bumn

New Normal Life menurut Para Pakar
Pemerintah belum memiliki peta jalan, New Normal Life hanya mengikuti tren global tanpa menyiapkan perangkat memadai agar tidak terjadi masalah baru. Yakni bertujuan membangkitkan ekonomi namun membahayakan manusia. Alih-alih ekonomi bangkit justru wabah gelombang ke dua mengintai di depan mata.

Menurut Dewan Pakar Iakatan Ahli Kesehatan Indonesia (DAKMI) Dr. Hermawan Saputra, banyak pra syarat untuk menuju ke sana. Diantaranya adalah yang pertama, harus sudah terjadi perlambatan kasus, kedua sudah dilakukan optimalisasi PSBB. Ketiga, masyarakat sudah lebih mawas diri dan meningkatkan daya tahan tubuh masing-masing. Keempat, pemerintah sudah betul-betul memperhatikan infrastruktur pendukung untuk New Normal.

Menurutnya, puncak pandemi belum diewati, bahkan kasus cenderung naik. Akibatnya prediksi-prediksi yang mengatakan puncak pandemi pada awal Juni akan mundur hingga akhir Juni maupun awal Juli. Dampak dari perbincangan New Normal belakangan ini, membuat masyarakat mengalami pandangan bebas tanpa melihat potensi penyebaran virus corona. (merdeka.com, 25/05/2020)

Penambahan jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia bisa dilihat di situs covid19.go.id dan disampaikan langsung oleh juru bicara pemerintah terkait penanganan COVID-19 Achmad Yurianto. Hingga Jumat (29/05/2020), ada 25.216 kasus positif. Pada hari sebelumnya, tercatat ada 24.538 kasus positif Corona di Indonesia, 6.240 orang sembuh dan 1.496 meninggal dunia.(detiknews.com, 29/05/2020).

Dari data di atas, belum terjadi perlambatan kasus. Syarat pertama belum terpenuhi. Syarat kedua dan ketiga pun belum terpenuhi terlebih menjelang lebaran kemarin sangat bebas sekali. Banyak kerumunan di pasar. Jelang Hari Raya Idul Fitri, warga memenuhi pusat-pusat perbelanjaan. Meski melanggar PSBB, warga rela berdesak-desakan membeli keperluan lebaran. Seperti busana, sembako walaupun harga sudah melonjak naik.

Meski masih menjadi polemik, nampaknya Indonesia akan melakukan uji coba The New Normal atau fase kehidupan baru di tiga kota yaitu di Yogyakarta, Bali dan Kepulauan Riau sebagai wilayah uji coba. Beberapa pihak dan pengamat masih meragukan kesiapan ini, sebab hingga kini panduan terkait protokol kesehatan di era fase kehidupan baru belum ada. Alasan yang banyak mengemuka terkait pilihan ketiga wilayah tersebut lebih banyak karena aspek ekonomi. (ugm.ac.id, 27/05/2020).

Mengutip dari kolega sosiolog dari Nanyang Tech University, Prof. Sulfikar Amir, Ph. D, yang juga ahli soal Social Networks and Risk Society , ia sependapat bila infrastruktur kesehatan dan semacamnya menjadi prasyarat utama untuk melakukan new normal. Ini penting, sebab infrastruktur yang ada selama ini belum sepenuhnya menjangkau lapisan masyarakat, misalnya seperti mass testing untuk Yogyakarta. (ugm.ac.id, 27/05/2020)

Ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia, Iwan Ariawan menilai masih perlu waktu lagi untuk mulai menerapkan relaksasi. Sebab ia menjelaskan, saat ini tingkat kecepatan penuaran belum sepenuhnya turun. Efek dari PSBB sudah terlihat hampir berhasil sedikit lagi. Belum sampai mengontrol epidemi. Jadi harus bersabar sedikit lagi agar bisa mulai relaksasi. (cnnindonesia,com, 29/05/2020)

“New normal” hanyalah upaya Barat mendustai dunia atas karakter buruk peradaban mereka. Tanda kematian itu tampak jelas pada kondisi Amerika Serikat yang menjadi jantung peradaban Barat. Konsep “new normal” atau “new normal life” ini. Demi hasrat meraih nilai materi, rezim berkuasa berlepas tangan dari mengatasi pandemi Covid-19 yang tengah berkecamuk. Kendati untuk itu kesehatan dan nyawa miliaran manusia taruhannya. Di saat yang bersamaan, ia fokus pada fungsinya sebagai pelayan korporasi dan pelaksana agenda hegemoni Barat, khususnya ekonomi.

Sementara, karakter buruk peradaban kapitalisme tercermin dari kegagalannya mengatasi pandemi Covid-19 yang memperparah resesi kronis. Artinya, “new normal” bukanlah sekadar kehidupan dengan sejumlah protokol kesehatan, melainkan kehidupan dunia dalam peradaban kapitalisme yang berkarakter merusak di tengah pandemi Covid-19 yang dibiarkan mengganas akibat tekanan resesi terburuk sepanjang sejarah. Hasilnya, penderitaan dunia akan semakin dalam.

Karakter peradaban Barat yang tak kalah rendah dan berbahaya, adalah buruknya penghargaan terhadap sains, apalagi wahyu. Tidak dihargai kecuali sekadar mengambil manfaat yang bersifat materi dan ekonomi. Konsekuensi logis dari keberadaan peradaban Barat yang dilandaskan pada jalan tengah, bukan kebenaran, ialah berupa pemisahan agama dari kehidupan.

New Normal Life bukan berarti kita harus ikut-ikutan seperti negara lain yang mungkin kasus positif Coronanya sudah berkurang. Lockdownnya sukses, masyarakatnya disiplin dalam melakukan protokol kesehatan. Sehingga mereka memang sudah siap untuk melakukan kehidupan normal yang baru. Siap dengan segala sesuatunya, masyarakatnya dan infrastrukturnya.

Pengambilan keputusan untuk New Normal Life juga pertimbangannya bukan karena ekonomi saja. Karena pengaturan kehidupan bukan hanya sebatas ekonomi. Namun sosial,budaya, bahkan politik. Pendidikan juga termasuk di dalamnya.

Konsep “new normal” atau “new normal life” atau “hidup berdamai dengan Covid-19” dan kaitannya dengan sejumlah karakter buruk peradaban kapitalisme yang sangat berbahaya bagi kehidupan umat manusia.

Kehidupan baru menurut Islam tentulah kehidupan yang lebih teratur yang sesuai dengan aturan Allah Swt. Karena kehidupan sebelumnya sangatlah jauh dari Islam. Dimana-mana terjadi perzinahan, pelaku riba semakin banyak. Kasus kriminnal yang semakin parah. Membuat kita sadar bahwa selama ini aturan yang kita pakai saat ini bukan dari Sang Pencipta.

Sebagai Umat Islam, untuk pengambilan keputusan harus sesuai standar Islam yaitu halal dan haram. Ketika keputusan New Normal Life diambil namun ternyata masih banyak syarat yang belum dipenuhi dan menyebabkan kesangsaraan bagi rakyat, berarti di sini rakyat terdzalimi, hal ini tidak dianjurkan oleh Islam.

Bahkan ada dalam hadistnya. Rasululah SAW mengatakan, setiap orang adalah pemimpin dan mereka akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Dalam hadist lain, disebutkan, “Barang siapa yang diangkat oleh Allah menjadi pemimpin bagi kaum muslim, lalu ia menutupi dirinya tanpa memenuhi kebutuhan mereka, (menutup) perhatian terhadap mereka, dan kemiskinan mereka. Allah akan menutupi (diri-Nya), tanpa memenuhi kebutuhannya, perhatian kepadanya, dan kemiskinannya.” (Diriwayatkan dari bu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Maryam)
Karakter mulia peradaban Islam yang Indonesia dan dunia hari ini membutuhkan kehadirannya.

Wallahu’alam Bisshawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *