New (Ab) Normal Life, Sinyal Lonceng Kematian

Oleh : Ati Solihati, S.TP (Aktivis Muslimah, Anggota Revowriter)

Bulan Ramadan, bulan suci umat Islam, baru saja berlalu. Selama satu bulan penuh kaum muslimin melalui bulan yang berlimpah keberkahan dan kemuliaan, dengan beragam amalan ibadah dan amalan sholeh, berharap selepas Ramadan dapat meraih derajat taqwa. Derajat insan paling mulia di sisi Allah.

Ramadan tahun ini sungguh sangat istimewa. Kaum muslimin harus melewatinya di tengah pandemi Covid-19. Sementara pemerintah abai dalam mengambil langkah-langkah efektif untuk melindungi rakyat dari wabah dan dari dampak wabah. Kehidupan rakyat semakin sulit dan penuh derita. Korban terus berjatuhan. Baik korban karena infeksi virus Corona, maupun korban karena lilitan kesulitan hidup sebagai dampak dari wabah.

Sungguh kentara abainya pemerintah. Kebijakan yang diambil bukan yang berkorelasi positif dengan upaya melindungi rakyat dari wabah dan dampaknya. Strategi “lock down”, yang merupakan strategi paling efektif dalam menghentikan rantai penyebaran virus, ditolak mentah-mentah. Karena akan berhadapan dengan payung hukum yang mewajibkan pemerintah untuk menjamin pemenuhan kebutuhan hidup seluruh rakyat selama lock down berlangsung. Padahal sumber dana cukup. Terlebih jika berani menghentikan berbagai rencana proyek yang bersifat non populis, dan mengalihkannya untuk pembiayaan wabah selama lock down. Sungguh sangat cukup. Namun sistem pemerintahan yang berbasis kapitalisme, telah menjerat para penguasa menjadi abdi para pemilik modal dan korporasi, bukan mengabdi dan melayani rakyat.

Akhirnya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) lah yang digulirkan. Dengan PSBB, secara hukum, pemerintah tidak berkewajiban menanggung pemenuhan kebutuhan hidup rakyat. Target massa PSBB telah terlewati. Namun ternyata nyaris tidak efektif dalam melindungi rakyat dari wabah, terlebih dari dampak wabah. Korban terus berjatuhan. Kehidupan rakyat pun semakin sulit. Kebijakan ‘stay at home’, membuat rakyat tidak dapat bekerja untuk memenuhi hajat hidupnya, sementara tidak ada subsidi dari negara sebagai kompensasi dari kebijakan ‘stay at home’. Wal hasil jumlah penduduk dengan kategori ‘tiba-tiba miskin’ pun semakin meningkat. Tak sedikit rakyat yang meregang nyawa karena menahan lapar.

Nampaklah kalau kebijakan PSBB hanyalah kebijakan setengah hati. Tidak dalam rangka melindungi rakyat. Tapi melindungi para pemilik modal dan korporasi. Karena kalau bukan PSBB, tapi kebijakan ‘lock down’ yang diambil, maka akan mengancam proyek-proyek non populis, yang menjadi sumber pundi-pundi harta karun para pemilik modal dan korporasi, dan otomatis penguasa yang menjadi abdinya pun akan kehilangan sumber ‘remah-remah’, komisinya sebagai abdi setia.

Kebijakan PSBB telah nyata tidak efektif mengatasi wabah. Terlebih lagi ternyata berdampak pada laju roda perekonomian melambat, bahkan nyaris terhenti. Para pemilik modal pun mulai panik. Korporasi mulai ketar-ketir. Sebagai abdi setia, pemerintah pun mulai ancang-ancang mengubah kebijakannya. Presiden Jokowi pun pada 7 Mei 2020, dalam akun resminya, @jokowi, menyatakan,”Sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan”. Yang dipertegas deputi bidang Protokol, Pers, dan media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, “..hidup berdamai itu penyesuaian baru dalam kehidupan. Ke sananya yang disebut “The New Normal”. Tatanan kehidupan baru”.

Gagasan “New Normal Life” hakikatnya adalah sebuah skenario global. Merupakan eksit strategi kapitalisme, terhadap kegagalannya menangani pandemi Covid-19, yang berkelindan dengan krisis akut sistemik kapitalistik pada semua aspek. Skenario ini telah dicanangkan jauh sebelumnya, oleh United Nation, dalam artikel tertanggal 27 April 2020, bertajuk “A New Normal Life”. Dinyatakan, “..“Kondisi normal lama” tidak akan pernah kembali, sehingga pemerintah harus bertindak menciptakan ekonomi baru dan lapangan pekerjaan yang lebih banyak”. Jadi jelaslah bahwa hanya semata pertimbangan ekonomilah, lebih tepatnya kepentingan korporasi dan para pemilik modallah yang menjadi fokus eksit strategi global ini.

Indonesia pun, sebagai bagian dari keluarga besar negara-negara kapitalisme dunia, walaupun dalam posisi pengekor, mengamini skenario ini. Kementrian Perekonomian mengeluarkan skenario “new normal” dengan tajuk, “Road map Ekonomi Kesehatan keluar Covid-19”. Dalam time line nya dirumuskan 5 tahapan, yang dimulai tanggal 1, 8, 15 Juni hingga 6, 20, 27 Juli 2020. Tahapan ini akan diikuti dengan kegiatan membuka berbagai sektor industri, jasa bisnis, toko, pasar, mall, sektor kebudayaan, sektor pendidikan, aktivitas sehari-hari di luar rumah, dan lain sebagainya. Yang dilakukan secara bertahap.

Skenario ini benar-benar tidak menimbang upaya penanggulangan wabah sama sekali. Sebab, kasus yang terkonfirmasi terus meningkat. Per 29 Mei 2020, kasus yang terkonfirmasi sejumlah 24.538, bertambah 687 kasus dari hari sebelumnya. Bahkan terkesan kuat bahwa pemerintah menegaskan ketidakpeduliaannya dalam mengurusi kesehatan dan nyawa ratusan juta orang yang berada dalam ancaman kuman mematikan.

Memang benar, pemerintah menghimbau agar masyarakat memperhatikan protokol kesehatan dalam kehidupan normal baru nanti, dengan menjaga kebersihan, menggunakan masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan. Jelas ini tidaklah cukup. Terlebih lagi sangat minimnya pengadaan berbagai fasilitas perlindungan wabah. Salah satu contoh, betapa masih sangat terbatas jumlah peserta rapid tes dan swab.

Skenario hidup berdamai dengan Covid-19 atau “New Normal Life”, tidaklah beda dengan menerapkan konsep “herd immunity” (kekebalan kelompok). Ini adalah konsep ala kapitalisme dalam menangani wabah. Yang membiarkan wabah meluas, hingga menyerang sedikitnya 70% populasi terinfeksi virus, dengan asumsi akan mendapatkan kekebalan antibodi secara alami. Rakyat diserahkan pada seleksi alam, yang kuat maka dia dapat bertahan, bahkan immun, sementara yang lemah dibiarkan meninggal dengan sendirinya. Dari seleksi alam ini, prediksinya akan kehilangan penduduk hampir separuh juta jiwa. Kematian massal bukan hal yang mustahil terjadi. Skenario kehidupan normal baru seakan menjadi sinyal lonceng kematian

Skenario New Normal Life, yang merupakan eksit strategi dari ideologi kapitalisme ini, tidak saja membahayakan kesehatan dan keselamatan jiwa ratusan juta orang. Namun konsep ini juga bertentangan dengan fakta upaya efektif dalam penangggulangan wabah. Sementara Islam, sebagai sebuah ideologi dan sekaligus agama, memiliki cara penanggulangan yang efektif dalam mengahadapi wabah.

Ada 3 prinsip cara menanggulangi wabah dalam Islam :

1.Penguncian areal wabah

Islam mengharuskan wabah dikunci di areal asalnya (“lock down”). Rasulullaah SAW bersabda:
“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Lock down (penguncian wilayah) yang dilaksanakan sesuai ketentuan syariat Islam adalah cara paling efektif dalam memutus rantai wabah. Lock down hanya diberlakukan pada wilayah zona merah. Sementara untuk wilayah zona hijau, aktifitas tetap berjalan. Sehingga roda perekonomian tetap dapat berputar. Dan selama lock down, karena otomatis secara umum masyarakat di zona merah “stay at home”, maka negara menanggung semua kebutuhan hidup rakyat di wilayah tersebut.

2.Isolasi yang sakit

Rasulullaah SAW bersabda :
“Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR Imam Bukhari). “Hindarilah orang yang berpenyakit kusta seperti engkau menghindari singa.”(HR Abu Hurairah).

3.Pengobatan hingga sembuh

Rasulullaah SAW bersabda :
“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan diadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya, maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram.”(HR Bukhari).

InsyaAllah, jika saja Sistem Kehidupan Islam, Khilafah Islamiyah, tegak di muka bumi ini, tentu pandemi ini dapat segera diatasi, dan atas izin Allah dapat segera berakhir. Tanpa harus berlama-lama masyarakat hidup dalam ancaman wabah. Zero kesakitan dan kematian. Bahkan tidak terjadi krisis pemenuhan kebutuhan hidup selama “lock down”.

Dengan skenario “New Normal Life”, yang sejatinya adalah tawaran kehidupan baru yang abnormal, bukan hal yang mustahil terjadinya second wave pandemi Covid-19. Pada tataran inilah satu-satunya jalan agar indonesia dan dunia segera bebas dari pandemi Covid-19 dan sekaligus terbebas dari krisis akut multidimensi sistemik kapitalistik adalah dengan kembali tegaknya peradaban islam dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Wallaahua’lam bishshowab.

Tangerang, 30 Mei 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *