Nestapa Muslim di Negeri Bollywood

Oleh : Rita Yusnita (Komunitas Pena Islam)

Darah saudara muslim kembali tertumpah. Kali ini di India tepatnya di Ashok Nagar, New Delhi. Hingga Kamis (27/02/2020) tercatat ada 27 umat Islam India yang meninggal dan ratusan lainnya luka-luka, seperti dilansir Detiknews. Kekerasan di India ini dipicu adanya Undang-Undang

Kewarganegaraan Negara tersebut. India hanya memberi status kewarganegaraan bagi imigran yang menerima persekusi di negaranya. Imigran juga harus beragama Hindu, Kristen, dan agama minoritas selain Islam. Regulasi ini disahkan pemerintahan Perdana Menteri India, Narendra Modi yang beraliran sayap kanan. Partai pengusungnya, Bhratiya Janata (BJP) dituduh bersikap diskriminatif terhadap kelompok agama tertentu.

Kerusuhan tersebut berawal pada Minggu (23/02) lalu dengan aksi protes terhadap UU Kewarganegaraan yang dijuluki undang-undang “anti muslim”.

Undang-undang ini telah memicu protes Nasional, khususnya kalangan muslim. Namun aksi damai itu kemudian berubah menjadi ricuh setelah sekelompok massa Hindu yang jumlahnya sekitar 500-an orang menyerang saudara-saudara muslim kita yang tengah menyuarakan keberatannya atas UU yang sangat diskriminatif dan tak adil itu. Kerusuhan diperparah dengan adanya para perusuh yang bersenjatakan pedang, batu dan bahkan senjata api. Ratusan terluka, penjarahan dan kekerasan masih terus berlangsung , korban rata-rata mengalami luka tembak hingga luka bakar akibat cairan asam, luka karena pemukulan dan lemparan batu. Dan yang lebih memilukan lagi mereka membakar masjid- masjid dan mengibarkan bendera resmi agama Hindu diatas kubah Masjid Badi. Seakan belum puas masjid lain yang lebih kecil dan toko-toko Muslim di pasar lokal dibakar pula oleh kelompok tersebut.

Reuters melaporkan, kerusuhan terus menyebar ke barat laut Delhi, termasuk Jafrabad, Babarpur, Brahmpuri, Taman Gorakh, Maujpur, Bhajanpura, Kabir Nagar, Chand Bagh, Gokulpuri, Karawal Nagar, Khajuri Khas dan Kardampuri.

Pengerahan pasukan besar-besaran dan para militer terlihat di beberapa daerah yang mengalami kerusuhan paling parah. Padahal, Islam adalah agama terbesar kedua di India. Sensus penduduk yang dilakukan pada 2011 menyebutkan, jumlah Muslim sebanyak 14,2% dari total penduduk atau sekitar 172 juta jiwa. Hindu sebagai mayoritas sebesar 79,62%. Sisanya Protestan, Katolik, Buddha, Jainisme, Sikh dan Yahudi. Umat Islam di India menyebar di Negara-Negara bagian Uttar, Pradesh, Bengali Barat, Bihar, Kerala, Assam, Andra Pradesh, Maharashtra, Tamil Nadu, Gujarat, Karnataka dan Madya Pradesh.

Namun, Dunia bungkam seribu basa bila korbannya adalah umat Islam dan bila pelaku kejahatannya non-Islam. Dimanakah suara penguasa muslim di Negeri-Negeri Islam khususnya penguasa negeri Nusantara yang penduduknya mayoritas muslim terbesar di dunia? Dimanakah para pejuang kemanusiaan dan HAM serta dimana pula mereka yang selama ini getol mengampanyekan toleransi dan perdamaian dunia.

Lagi-lagi mereka diam dan tak mau peduli. Para penguasa negeri-negeri Muslim cenderung bungkam dan ciut nyalinya serta tidak berdaya menghentikan kebiadaban Negara kafir teroris radikal Hindu India tersebut yang tengah mengusir, menganiaya dan membantai secara sistematis, terstruktur, massif dan brutal terhadap umat Islam India. Padahal, mereka menjerit meminta pertolongan kepada dunia khususnya kepada saudara sesama muslimnya di bumi Nusantara ini yang notabene Negara dengan jumlah penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Bahkan di Masjid-masjid di India pun seruan Jihad sudah dikumandangkan oleh para Ulama dan kaum muslim India.

Tak Cuma itu kini Ulama besar dunia, Zakir Naik juga mulai angkat bicara. Zakir naik bahkan menerbitkan seruan kepada pemimpin muslim di seluruh dunia untuk tak berdiam diri dan membiarkan umat Islam di India diperlakukan tak manusiawi. Ulama dunia harus berjihad atau berjuang untuk menyelamatkan umat Muslim di India. Tapi bukan untuk berperang, JurnalMuslim.com (Sabtu, 29/02). Berdiam diri tentang pembantaian yang disetujui oleh Negara ini berarti meninggalkan saudara-saudara kita.

Padahal, peduli dan menolong saudara muslim yang terzalimi dan sangat membutuhkan pertolongan hukumnya wajib. Sekaligus sebagai wujud keimanan serta sebagai wujud solidaritas sesama saudara se-muslim pula kepada muslim India dan juga wujud pelaksanaan tuntutan akidah Tauhid Islam. Nabi Muhammad Saw bersabda : “ Perumpamaan orang-orang muslim, bagaimana kasih sayang sayang dan tolong menolong terjalin antar mereka adalah laksana satu tubuh. Jika satu bagian merintih merasakan sakit, maka seluruh bagian tubuh akan bereaksi membantunya, dengan berjaga (tidak tidur) dan bereaksi meningkatkan panas badan (demam).” (HR. Muslim)

Diamnya mereka atas ketidakadilan dan kebiadaban ini karena tangan dan kaki mereka telah terikat oleh rantai baja bernama demokrasi kapitalisme sekulerisme, Naionalisme, Nation State, Hukum Internasional, kerjasama politik ekonomi Liberal buah busuk dari penerapan Ideologi kufur penjajah yang bernama Sistem Demokrasi-Kapitalisme-Sekulerisme. Jangankan memberikan pertolongan secara real, sekadar kecaman pun hingga hari ini tidak terdengar dari penguasa negeri-negeri Muslim dan sungguh tidak ada simpati serta tidak ada respek sama sekali.

Oleh sebab itu, di sinilah relevansi dan urgensi Khilafah dan jihad. Karena Khilafah dan jihad adalah perkara hidup dan matinya umat Islam. Karena Khilafah adalah pelaksana Syariah dan pemersatu umat islam serta perisai dan penjaga Akidah islam dan umat islam, serta Khilafah adalah benteng kokoh islam. Tanpa Khilafah umat islam kondisinya laksana anak ayam yang kehilangan induknya dan laksana kebun tanpa pagar. Dan tanpa Khilafah umat Islam laksana buih di atas lautan yang centang perenang dan terombang- ambing tak tentu arah dan tiada daya hingga dihempas gelombang pasang air laut hingga akhirnya pecah berkeping-keping. Tanpa Khilafah, umat Islam seperti menu hidangan istimewa di meja makan yang tengah dikerumuni dan diperebutkan oleh musuh-musuhnya baik dari barat dan timur hingga dari utara dan selatan. Rasulillah Saw bersabda: “Sungguh Imam (Khalifah) itu laksana perisai. Kaum muslim akan berperang dan berlindung di belakang dia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *