Negara Gagal Lindungi Nyawa Rakyat, Hingga Anak-anak Menjadi Yatim Piatu

Oleh: Siti Munawarotil Milah

 

Lagi-lagi pandemi Covid-19 memakan korban jutaan jiwa diseluruh dunia, sehingga mengakibatkan banyak perubahan di berbagai aspek kehidupan saat ini. Termasuk Anak-anak pun menanggung akibat dari merebaknya virus, mereka menjadi yatim dan piatu karena kehilangan orang tua mereka karena terinfeksi virus. Berdasarkan data dari Satgas Penanganan Covid-19 per 20 Juli 2021 diketahui ada 11.045 anak menjadi yatim piatu, yatim atau piatu (https://kemensos.go.id/perlindungan-anak-yang-kehilangan-orangtua-akibat-covid-19) .

Tidak bisa dipungkiri bahwa kasus covid-19 yang melanda dunia hari ini telah memakan banyak korban. Virus Corona makhluk Allah SWT yang berukuran mikro itu telah menghebohkan dunia. Menurut laman resmi Worldometers hingga 24 juli 2021 telah ada 191 juta orang diseluruh dunia yang terinfeksi virus tersebut, sebanyak 4,1 juta diantaranya telah meninggal dunia. Tingginya angka kematian hingga banyaknya anak yang harus menjadi yatim dan piatu karena pandemi Covid-19 ini menunjukkan gagalnya Kapitalisma sebagai kepemimpinan dunia hari ini dalam mengatasi pandemi.

Hal ini terjadi sejak awal munculnya pandemi Kapitalisme hanya memperhatikan krisis ekonomi sebagai kerugian utama dari pandemi, kapitalisme tidak melihat adanya kerugian kesehatan bahkan nyawa manusia. Solusi lockdown pun tidak diambil karena alasan menyelamatkan ekonomi, selain itu Kapitalisme juga telah menjadikan negara berlepas tangan dari tanggung jawabnya memelihara urusan masyarakat. Karena itu berharap pada Kapitalisme dalam menyelesaikan pandemi hanya akan menjadi harapan kosong, mempertahankannya pun berikut dampaknya hanya akan memperpanjang nyawa pandemi.

Salah satunya harapan masa depan adalah tegaknya negara Khilafah Rasyidah yang akan mengatur dunia berdasarkan hukum syari’ah. Inilah sistem hukum yang akan membawa rahmat dan kesejahteraan bagi dunia, kesejahteraan yang tidak hanya berupa hasil dari sistem ekonomi semata namun juga dari hasil kesehatan, hukum, politik, pendidikan, sosial, dan budaya. Islam memandang bahwa nyawa manusia harus di nomor satukan. Rasulullah SAW bersabda :
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. An-Nasa’i dan At-Tirmidzi)

Dengan demikian dalam pandangan islam nyawa manusia harus diutamakan melebihi ekonomi. Bahkan menjaga nyawa adalah salah satu tujuan syari’ah yang wajib diwujudkan oleh negara. Karena itu, saat wabah menyebar disuatu wilayah fokus utama negara adalah menyelamatkan nyawa rakyat tanpa peduli kerugian ekonomi, sehingga targetnya adalah segera menyelasaikan wabah pandemi sesegera mungkin.

Beginilah kegagalan pada sistem kapitalisme yang hanya mengutamakan ekonomi saja, tidak adanya keadilan bagi rakyat bahkan nyawa pun menjadi taruhannya. Ini merupakan suatu kezaliman negara terhadap rakyaknya, dimana yang seharusnya negara sebagai tanggung jawab atas rakyatnya. Sehingga satu satunya Solusi agar kembalinya tanggung jawab negara yaitu Memberlakukan hukum-hukum Allah SWT dengan kata lain menegakkan negara khilafah, Karena dengannya akan terciptalah keadilan di tengah-tengah manusia dan juga dapat mengatasi berbagai masalah kehidupan dengan tepat termasuk wabah pendemi ini.

Wallahua’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *