Nasehat Untuk Suami yang Mau Poligami

Oleh: Alia Kurniawati S.Psi, CHt, Sefter (Founder HNM – Konselor Psikologi Islam)

Sedikit nasehat buat para suami…

Hati-hatilah dengan tren meskipun itu baik. Jika dijalankan dengan baik, poligami jadi jawaban bagi banyak problem perempuan.

Namun demikian, mengikuti tren yang baik tetaplah harus dengan niatan lillahi ta’ala. Yang artinya mempersembahkan kepada Allah amal berpoligami dalam bentuknya yang terbaik. Bukan asal, bukan karena desakan tren, bukan dengan kondisi yang tidak siap (antara lain yang penting adalah kesiapan iman dan mental suami, istri dan anak-anak) sehingga rentan konflik. Jika terburu-buru menambah amal sunnah tanpa menyiapkan ilmu, iman dan mental diri sendiri sebagai qowwam, sehingga rentan konflik, lalu dimana letak keberkahannya?

Menurut saya pribadi, monogami itu sebaiknya bukan harga mati. Demikian juga, alangkah sayang jika poligami dikampanyekan tanpa diiringi edukasi dan pembinaan/pendampingan yang memadai. Alangkah baik jika monogami terlebih dulu jadi ajang pembuktian keberhasilan suami membina rumah tanggga dengan 1 istri menjadi rumah tanggga samara. Jika berhasil, itu pertanda bahwa keluarga ini siap untuk ‘buka cabang’ dan siap untuk mnjalani poligami.

Kedzaliman yang dimaksud dalam maknanya yang luas. Akibat lemahnya iman dan syakhsiyah suami, sehingga lemah dalam menghadapi problem rumah tanggga, sehingga rentan berbuat dzalim. Kedzaliman itu sendiri sebetulnya akan menyengsarakan semua pihak, baik istri-istri, anak-anak dan suami itu sendiri. Inilah yang saya maksud dengan “ketidaksiapan” dan pelaksanaan poligami yang amburadul. Walhasil, alih-alih ittiba’ pada Rasul saw dan para sahabat yang rumah tanggganya mulia, jadinya malah meremukkan pondasi semua ‘cabang’, melukai hati anak-anak yang mestinya digembirakan, mengacaukan wadah generasi yang mestinya dikokohkan, dan dampak yang paling ironis adalah merusak citra poligami itu sendiri sembari cuek menjadikannya sebagai bahan olok-olok.

Poligami itu solusi dari asy-Syari, tapi kenyataanya bisa pahit saat para pelakunya kehilangan substansi dari hikmah poligami. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *