Wanita Mulia dengan Islam

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Wanita Mulia dengan Islam

 

Oleh Naila Ahmad Farah Adiba

(Santri Peduli Generasi dan Predator Buku)

 

Gerakan feminisme acap kali dikenal sebagai gerakan pemberontakan yang dilakukan oleh sekelompok wanita di Eropa. Lambat laun gerakan ini semakin meluas hingga sampai di bumi pertiwi ini. Feminism sendiri adalah sebuah paham yang menginginkan kesetaraan wanita dengan pria dalam segala aspek.

Gerakan ini berawal ketika para wanita Eropa berbondong-bondong menjadi intelektual dan merasa bahwa diskriminasi yang dilakukan terhadap wanita harus dihapuskan. Maka muncullah gerakan feminisme yang pada kenyataannya kini menjadi bencana baru bagi wanita itu sendiri. Adanya paham feminisme berasal dari akal seseorang yang tentu saja banyak kecacatan disegala sisinya.

Tidak digunakannya peraturan Islam dalam seluruh ranah kehidupan menjadi penyebab tidak dimuliakannya wanita. Lihat saja bangsa Arab dimasa jahiliyyah yang menganggap bahwa memiliki seorang anak perempuan adalah sebuah aib. Yang tentu saja menghalalkan penguburan bayi perempuan hidup-hidup. Ketika Islam datang, dihapuskanlah sekuruh praktik-praktik jahiliyah termasuk perihal bayi perempuan tadi.

Namun saat ini permasalahannya adalah wanita itu sendiri yang tidak mau dimuliakan. Mereka tak mentaati perintah yang Allah telah turunkan berupa perintah berhijab yang terdapat di surat al-Ahzab ayat 59 dan an-Nur ayat 31. Mereka malah membuka aurat dengan dalih feminisme yang itu justru membuat mereka menjadi terhina.

Islam tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Karena dalam Islam yang membedakan seorang hamba dengan hamba lainnya di hadapan Allah hanyalah ketaqwaan. Memang dalam bentuk anatomi tubuh memiliki perbedaan, karena memang secara fitrah diciptakan berbeda. Karena sejatinya perbedaan yang ada bukan untuk disetarakan, tapi sebagai ajang perlombaan meraih ridho Allah dengan fitrah masing-masing yang telah diberikan oleh Allah yang harus kita syukuri.

Lalu jika kini para wanita kebanyakan telah terlanjur teracuni oleh pemikiran feminisme itu, bagaimana merubahnya? Tentu saja kita mulai dari diri kita sendiri dulu. Kita harus membentengi diri kita dengan istiqomah belajar Islam kaffah. Lalu sadarkan mereka akan peran utamanya sebagai wanita dan muslimah, paparkan juga fakta saat ini yang begitu memprihatinkan, dan jangan lupa beritahu mereka bahwa Islam memiliki solusinya. Ajak mereka untuk bergabung dalam barisan dakwah agar tak goyah.

Sebenarnya solusi di atas tak akan pernah tuntas penyelesaiannya apabila perubahan yang kita lakukan tidak sistematis. Perubahan secara sistematis yakni merubah sistem kapitalis saat ini menjadi sebuah sistem yang berlandaskan syariat Islam. Sehingga nanti akan ada penerapan hukum yang berlandaskan hukum syara’.

Apabila telah menggunakan sistem Islam, solusi yang dihadirkan Islam bisa mencapai hasil yang memuaskan. Nah karena saat ini Islam belum memimpin dunia, maka tugas kitalah sang agent of change untuk terus berupaya mendakwahkan Islam ke tengah-tengah umat, hingga kelak Islam mampu menjadi mercusuar dunia.

Jangan pernah sekalipun mundur dari jalan dakwah ini, karena niat kita hanya untuk Dia semata. Apapun yang kita lakukan baik di ranah domestik maupun di ranah publik, prioritaskan itu semua untuk akhirat. Sebagai bentuk peran kita sebagai pemuda dalam perjuangan menegakkan kebenaran dan menentang berbagai bentuk kezaliman. Terus berdakwah, lugaskan lisan dan tajamkan tulisan, lakukan semua demi kejayaan Islam di masa depan. Takbir!

Wallahu a’lam bish shawwab…

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *