Tingginya Beban Kehidupan, Mematikan Fitrah Keibuan

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tingginya Beban Kehidupan, Mematikan Fitrah Keibuan

Bunda Erma E.

(Pemerhati Keluarga dan Generasi)

Kembali terjadi pembunuhan yang dilakukan seorang Ibu kepada buah hatinya yang baru dilahirkan. Rohwana alias Wana (38 tahun) di Kabupaten Belitung, Bangka Belitung, tega membunuh bayinya. Ia ditangkap polisi karena telah menenggelamkan bayinya ke ember yang berisi air dan dibuang ke semak-semak kebun milik warga sekitar. (kumparan.com, 24/01/2024)

Kasus itu terjadi pada Kamis, 18 Januari 2024 sekitar pukul 21.00 WIB. Tindakan tersebut tidak diketahui oleh suami maupun keluarganya. Saat proses melahirkan, pelaku melahirkan di kamar mandi rumahnya tanpa diketahui oleh siapapun. (kumparan.com, 24/01/2024)

Kepada polisi, pelau mengaku tega membunuh bayinya itu karena tidak menginginkan kelahirannya. Alasannya, karena tidak cukup biaya untuk membesarkan. Rohana memiliki suami yang bekerja sebagai buruh. (kumparan.com, 24/01/2024)

Akibat kebodohannya, Rohwana dijerat Pasal 338 KUHP atau Pasal 305 KUHP Jo Pasal 306 Ayat 2 KUHP atau Pasal 308 KUHP. (kumparan.com, 24/01/2024)

Faktor Ekonomi

Sungguh miris, melihat seorang ibu tega membunuh bayi yang baru dilahirkan karena faktor ekonomi. Lagi-lagi fakta ini menunjukkan tingginya beban hidup telah mematikan fitrah keibuan seorang perempuan. Banyak faktor yang berpengaruh, seperti lemahnya ketahanan Iman, tidak berfungsinya keluarga, sehingga ibu juga terbebani pemenuhan ekonomi, lemahnya kepedulian masyarakat dan tidak adanya jaminan kesejahteraan negara atas rakyat individu per individu. Semua faktor tersebut jelas berkaitan erat dengan sistem saat ini yang diterapkan di negeri ini.

Sistem kapitalisme yang dianut negeri ini merupakan sistem yang lahir dari akidah sekulerisme, yakni akidah yang memisahkan agama dari kehidupan. Sebab tidak menggunakan aturan agama, kehidupan manusia akhirnya diatur oleh aturan manusia sendiri. Maka terwujudlah individu yang minim keimanan, masyarakat yang apatis, dan negara yang abai terhadap peranannya. Semua ini menjadi beban para ibu ketika ingin membesarkan anak-anak mereka.

Terjaganya Fitrah Keibuan dalam Islam

Jika sistem kapitalisme mematikan fitrah keibuan, maka tidak dengan sistem Islam. Sistem Islam justru akan merawat dan menjaga fitrah keibuan. Secara penampakan memang fitrah keibuan akan muncul pada seorang perempuan. Jika fitrah ini terwujud secara optimal dalam diri perempuan, maka generasi pengisi peradaban akan lahir dan terdidik dengan benar.

Hanya saja perlu difahami, fitrah keibuan adalah perwujudan dari gharizatun nau’ (naluri kasih sayang) yang ada pada setiap manusia. Seorang Ibu akan optimal dan tenang merawat anaknya, mengasuhnya, mendidiknya dengan optimal ketika mendapat jaminan kehidupan dengan layak dan baik.

Jaminan kehidupan terkait erat dengan kesejahteraan yang tidak mungkin diwujudkan oleh individu per individu saja, namun butuh peran negara. Disinilah Islam mengatur agar negara menjadi support system bagi para ibu dan anak supaya mereka mendapat jaminan kesejahteraan yang layak.

Dalam Islam, jaminan kesejahteraan diwujudkan dari berbagai mekanisme, baik jalur nafkah, dukungan masyarakat dan santunan negara. Dari jalur nafkah, syariat menetapkan tanggung jawab penafkahan ada di pundak laki-laki. Penafkahan berkaitan erat dengan pekerjaan. Dalam bekerja, tidak cukup hanya dari individu saja yang bersemangat, namun harus ada lapangan pekerjaan. Maka, Islam mewajiblan negara menjadi penanggung jawab agar lapangan pekerjaan tersedia dengan cukup dan memadai, hingga tidak ada seorang laki-laki pun yang menganggur.

Selain itu, Islam juga memerintahkan kehidupan bermasyarakat dilandasi oleh ikatan akidah. Dengan begitu, aksi tolong menolong (taawun) antar masyarakat akan menjadi dukungan tersendiri bagi ibu untuk mengasuh anak-anak mereka. Semisal keluarga kaya membantu yang kekurangan, mensuasanakan keluarga yang taat, dan berlomba-lomba dalam kebaikan, tidak ada dengki, tidak memamerkan kemewahan dan amalan kebaikan lainnya.

Seandainya pun seorang ibu mendapatkan takdir sang suami meninggal atau kehilangan kemampuan mencari nafkah, Islam juga memiliki mekanisme agar mereka tetap mendapat jaminan kesejahteraan. Jalur penafkahan akan beralih kepada saudaranya. Jika tidak memiliki saudara, tanggung jawab itu akan beralih kepada negara. Alokasi anggaran jaminan tersebut akan diambilkan dari Baitul Maal negara Islam.

Tak hanya jaminan penafkahan, Islam juga mewajibkan negara menjamin hatga-harga bahan pangan terjangkau oleh masyarakat. Dengan begitiu, para ibu dapat menyiapkan kebutuhan gizi anak dan keluarganya dengan baik. Selain kebutuhan pokok, Islam mengatur agar kebutuhan dasar publik, seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan dijamin oleh negara secara mutlak. Rakyat mendapatkannya secara gratis dan berkualitas. Karena semua kebutuhan dasar publik tersebut akan dibiayai oleh Baitul Maal negara. Dengan demikian, jaminan kesejahtraan niscaya dapat dirasakan oleh individu per individu. Akhirnya, para ibu bisa optimal mengasuh anak-anak mereka tanpa perlu khawatir terhadap masalah ekonomi. Inilah wujud sistem ekonomi dan politik dari negara yang diatur oleh syariat Islam yakni Kh!l4f4h.

Wallahu’alam bish-shawwab

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *