Bagaimana Persahabatan Suami Istri?

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh: Muji Budi Lestari
(Komunitas Muslimah Berbagi dan @tamm_makassar)

Setiap muslim pasti mengharapkan kehidupan rumah tangganya sakinah mawadah warahmah. Relasi yang terjalin antara dua insan itu tidak lain adalah relasi persahabatan.

Tak layak seorang suami memperlakukan istri seperti hamba sahaya bagi tuannya, meskipun memang ada hadits Rasulullah ﷺ menyebutkan “Andaikan pantas, maka akan aku perintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya, sebab besarnya hak suami atas istrinya.” (HR. Ahmad)

Di sisi lain, tak layak pula seorang istri menuntut suami melakukan hal-hal yang tak biasa dilakukan seorang lelaki dengan berdalih “Beliau Rasulullah ﷺ menambal pakaiannya sendiri, memerah sapi dan melayani diri beliau sendiri’.” (HR. Ahmad)

Hendaknya ada kerjasama antara suami istri, rasa saling mengutamakan dan saling memudahkan dalam setiap urusan. Misalnya “Rasulullah Saw. telah memutuskan atas putri beliau, Fatimah wajib mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di dalam rumah, dan atas Ali wajib mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di luar rumah.” (Musnad ibnu Abi Syaibah).

Dengan demikian suami istri saling menghargai dan semakin erat persahabatan yang tercipta antara keduanya. Walhasil kehidupan pernikahan akan menjelma menjadi kehidupan yang penuh kedamaian, ketenteraman, penuh kasih sayang, dan mendapat keberkahan.

Sayangnya hari-hari ini kita sering mendapati rumah tangga yang kering akan rasa persahabatan. Betapa banyak berita perceraian menghiasi media. Ini disebabkan oleh kehidupan yang jauh dari syariat Islam. Misalnya para suami yang bersikap lebih loyal kepada teman kerjanya dibanding kepada istrinya. Begitu juga sebaliknya tak sedikit para istri terbiasa tampil menawan ketika keluar rumah, sedangkan di dalam rumah hanya seadanya. Ini sudah menjadi rahasia umum para pasutri mengingat kita hidup dalam sistem yang tidak islami. Kehidupan kita saatnya diliputi oleh prinsip sekulerisme dan materialisme sehingga lebih mengutamakan apa kata orang daripada apa perintah Allah SWT.

Kebiasaan seperti ini mesti diubah. Masing-masing hendaknya menyadari keutamaan memberi kebahagiaan pada pasangan. Dan tentunya harus dilandasi dengan kekuatan iman. Keyakinan bahwa Allah SWT yang menanamkan rasa sakinah mawadah warahmah pada dua insan. Dan Allah SWT menurunkan seperangkat syariat Islam dalam rangka pasutri ini berlomba dalam kebaikan.

Kehidupan pernikahan yang seperti ini tentunya hanya akan terwujud jika Islam benar-benar diterapkan dalam kehidupan kaum muslimin dengan menjadikan Islam sebagai landasan berpikir dan bersikap.

Sepasang insan bertakwa yang juga hidup di lingkungan masyarakat yang bertaqwa pula. Masyarakat yang saling taawun, tolong menolong dalam kebaikan dan ketaatan. Masyarakat yang menegakkan nasihat serta amar makruf nahi mungkar.

Selain itu butuh pula negara yang mengayomi masyarakat dengan melaksanakan syariat Islam kaffah dalam setiap sendi kehidupan. Sebab negara memiliki peran sentral untuk melakukan edukasi kepada masyarakat dan pasutri untuk membiasakan kehidupan islam, juga menguatkan ekonomi, menjaga keamanan agar terbentengi dari segala kerusakan pemikiran maupun moral, serta memberikan sanksi bagi setiap pelanggaran terhadap syariat Islam baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam masyarakat.

Jika itu semua diterapkan maka kehidupan persahabatan suami istri akan benar-benar nyata terwujud. Sebagaimana kehidupan suami istri Nabi ﷺ dan ahlul baitnya. Masyaallah…

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *