Muslim Genocide: Never Again

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Sofia Ariyani, S.S (Muslimah Pegiat Litetasi dan Member AMK)

25 tahun yang lalu dunia dikabarkan oleh pembantaian muslim Srebrenica di Bosnia. Tepatnya 11 Juli 1995, pasukan Serbia menyerang daerah kantong muslim Srebrenica di Bosnia yang menjadi tempat berlindung puluhan ribu muslim dari serangan tentara Serbia di timur laut Bosnia.

Dilansir oleh kompas.com, pada tanggal 11 Juli 1995, unit-unit pasukan Serbia Bosnia merebut kota Srebrenica di Bosnia-Herzegovina. Dalam waktu kurang dari dua minggu, pasukan mereka secara sistematis membunuh lebih dari 8.000 Bosniaks (umat Muslim Bosnia)-pembunuhan massal terburuk di tanah Eropa sejak akhir Perang Dunia Kedua.

Ratko Mladic, komandan unit Serbia Bosnia, mengatakan kepada warga sipil yang ketakutan untuk tidak takut ketika pasukannya memulai pembantaian. Mereka tidak berhenti selama 10 hari.

Pasukan penjaga perdamaian PBB yang memegang senjata ringan, yang ada di wilayah yang dinyatakan sebagai “daerah aman” PBB, tidak melakukan apa-apa ketika kekerasan berkobar di sekitar mereka. (kompas.com, 12/07/2020)

Sebuah sejarah modern yang buruk. Muslim Srebrenica bukan satu-satunya etnis muslim yang mengalami pembantaian massal oleh tentara kafir. Muslim di belahan bumi lainnya pun mengalami hal serupa. Muslim Rohingya dibantai kafir Budha. Muslim Suriah diberangus rezim keji Bassar Asad. Muslim Palestina tak henti-hentinya dibombardir pasukan Israel laknatullah. Muslim Uyghur digenosida. Muslim India dibakar hidup-hidup.

Pembantaian yang dilakukan tentara kafir kepada kaum muslimin di seluruh dunia adalah upaya pemusnahan entitas. Sayangnya, perangkat dunia hanya diam. Tak memberikan wewenang mereka untuk menghentikan kekejaman tentara kafir terhadap kaum muslim di mana pun.

PBB hanya pemanis bagi dunia. Sebuah organisasi raksasa yang beranggotakan 193 negara dibentuk untuk menangani masalah internasional, hukum, keamanan, perlindungan sosial bangsa-bangsa, dan ekonomi. Misi PBB sendiri memelihara perdamaian dunia, memajukan dan mendorong hubungan persaudaraan antar bangsa melalui penghormatan hak asasi manusia. Namun, hal itu tidak berlaku bagi kaum muslimin.

Jelas PBB tak akan bergerak untuk melindungi umat Islam di seluruh dunia. Karena PBB sendiri lahir dari negara Barat yang notabene memerangi Islam. Maka mustahil untuk menjaga dan melindungi kaum muslim dari kebiadaban tentara-tentara kafir. Muslim Srebrenica dibohongi “never again”, akan tetapi sejarah buruk terus terulang pada muslim etnis lainnya. Kekejaman dan persekusi terhadap umat Nabi Muhammad seolah tak pernah terhenti. Muslim Uighur, muslim Rohingya, muslim India, muslim Kashmir, muslim Palestina, adalah korban dari silent-nya dunia.

Tak ada yang mampu melindungi umat Islam di dunia ini kecuali berlindung di bawah sistem Islam, yang telah mencapai 1 milenium lebih memelihara umat manusia. Allah Swt. menurunkan Islam sebagai rahmat. Agama yang universal, mengatur segala aspek kehidupan, juga memelihara umat manusia, baik muslim maupun kafir.

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِي

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya: 107)

Sepanjang sejarah Islam, penaklukan wilayah-wilayah pun tak pernah dinodai oleh pembantaian, kebrutalan, kekejaman, kebiadaban pasukannya terhadap warga darul kufur. Justru penaklukan-penaklukan dilakukan dalam wujud ketaatan akan perintah Allah Swt. untuk membebaskan manusia dari penghambaan terhadap selain Allah Swt.

Sejarah pun mencatat, mereka yang beragama selain Islam dijamin dan dilindungi oleh Daulah Khilafah. Sebagaimana yang dicatat TW. Arnold, dalam bukunya The Preaching of Islam, menuliskan bagaimana perlakuan yang diterima oleh non-Muslim yang hidup di bawah pemerintahan Daulah Utsmaniyah. Dia menyatakan,

“Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan pada mereka, dan perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen”.

Arnold kemudian menjelaskan; “Perlakuan pada warga Kristen oleh pemerintahan Ottoman -selama kurang lebih dua abad setelah penaklukkan Yunani- telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa. Kaum Kalvinis Hungaria dan Transilvania, serta negara Unitaris (kesatuan) yang kemudian menggantikan kedua negara tersebut juga lebih suka tunduk pada pemerintahan Turki daripada berada di bawah pemerintahan Hapsburg yang fanatik; kaum protestan Silesia pun sangat menghormati pemerintah Turki, dan bersedia membayar kemerdekaan mereka dengan tunduk pada hukum Islam… kaum Cossack yang merupakan penganut kepercayaan kuno dan selalu ditindas oleh Gereja Rusia, menghirup suasana toleransi dengan kaum Kristen di bawah pemerintahan Sultan.”

Demikianlah, Islam yang telah dan mampu memelihara dan melindungi umat manusia. Serta penjaga perdamaian dunia. Karena Islam sebagai cahaya penerang bagi kehidupan. Hal ini tentunya akan terwujud bila dinaungi oleh institusi Daulah Khilafah. Karena hanya institusi negara yang mampu mengomando perangkat militer untuk menjaga kaum muslimin dari gangguan orang-orang kafir.

Dengan demikian “never again genocide” terhadap agama, etnis, ras, dan bangsa apa pun bukan lip service belaka. Justru perdamaian bagi dunia akan terwujud.

Wallahu a’lam bishshawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.