Musibah dan Bencana, Teguran Agar Kita Kembali kepada Syariat-Nya

Oleh : Wahyu Utami, S.Pd (Guru di Bantul Yogyakarta)

 

Musibah dan bencana bertubi-tubi terus terjadi menimpa negeri ini. Memasuki awal tahun 2021, ada beberapa peristiwa bencana dan musibah yang membuat negeri ini semakin berduka. Padahal saat ini umat masih berjibaku melawan pandemi Covid-19 yang terus menggila.

 

Berawal dari Sabtu (9/1) sekitar pukul 14.40 WIB pesawat Sriwijaya Air SJ 182 tujuan Jakarta Pontianak jatuh di perairan Kepulauan Seribu. Musibah ini menelan korban 50 penumpang dan 12 awak pesawat. Pada hari yang sama sekitar pukul 17.00 WIB bencana tanah longsor melanda sebuah perumahan di tebing sebuah bukit Dusun Bojong Kondang, Desa Cihanjuang di Sumedang, Jawa barat. Dalam longsoran pertama, belasan rumah warga tertimbun tanah dan batu. Sekitar pukul 19.30 WIB, longsoran kedua mengubur warga bersama petugas yang sedang mengevakuasi korban. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bencana ini telah merenggut 24 nyawa dan 16 korban masih belum diketemukan.

 

Kabar duka juga datang dari Pulau Kalimantan. 1.500 rumah warga di Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan kebanjiran. Ketinggian air mencapai 2-3 meter. Saat ini sebanyak 21.900 orang terpaksa mengungsi. Bencana ini disusul gempa bumi yang mengguncang  Sulawesi Barat pada hari Jumat (15/1) pukul 01.28 WIB. Gempa berkekuatan M6,2 ini telah meluluhlantakkan gedung, rumah sakit dan rumah-rumah warga. Gempa ini  juga menyebabkan puluhan jiwa meninggal meninggal dan ratusan lainnya luka-luka (republika.co.id sabtu, 16/1/2021).

 

Belum kering air mata akibat bencana yang bertubi-tubi, air mata negeri kembali mengalir. Satu persatu ulama berpulang ke haribaan-Nya. Tercatat sepanjang Janurai 2021 ada 13 ulama wafat. Bermula dari Habib bin Muhammad Al Kaff Kudus hingga ulama kharismatik Syekh Ali Jabber berpulang. Disusul pada hari Jumat (15/1) Habib Ali bin Abdurahman Assegaf yang merupakan guru Habib Rieziq juga meninggal dunia.

 

Sebagai seorang muslim, kita memahami bencana dan musibah ada dua jenis. Pertama, bencana dan musibah yang merupakan bagian dari qodlo (takdir) sebagai sunatulloh seperti gempa bumi, gunung meletus, tsunami dll. Terhadap bencana jenis ini maka kita harus menyadari semua adalah ketetapan Alloh. Semua jenis musibah ini di luar kuasa manusia sehingga manusia wajib sabar&menerima dengan ikhlas.

 

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Alloh SWT di dalam QS Al Baqoroh ayat 155-17 yang artinya, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

 

Kedua, bencana dan musibah yang berada dalam kuasa manusia. Musibah ini terjadi akibat ulah dan tindakan manusia yang salah. Sebagai contoh bencana banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan terjadi disinyalir akibat pembukaan perkebunan sawit yang terus menerus dan perluasan lahan pertambangan. Dalam 5 tahun terakhir, peningkatan luas lahan perkebunan mencapai 72%, sedangkan lahan pertambangan mencapai 13% dalam 2 tahun terakhir.  Akibatnya terjadi perubahan lahan yang menyebabkan alam tidak mampu lagi menampung air hujan.

 

Musibah jenis yang kedua ini yang paling banyak kita jumpai. Memang betul bencana alam terjadi karena qadha” (ketetapan Alloh). Namun karena kerakusan manusia, keseimbangan alam tidak terjaga sehingga menyebabkan bencana alam. Buruknya pengelolaan alam ini akibat sistem dan paradigma kapitalis yang digunakan dalam pengaturan negeri ini. Asal pengusaha mampu memberi untung besar, maka usahanya diizinkan dan dilindungi oleh Undang-undang yang dibuat penguasa.

 

Oleh karena itu, mari jadikan berbagai bencana dan musibah ini sebagai teguran dari Alloh agar kita kembali ke jalan-Nya, kembali pada Syariat-Nya.  Saatnya kita memilih jalan yang benar yaitu sistem Islam dalam naungan daulah Khilafah. Alloh telah mengingatkan kita di dalam QS Ar Ruum ayat 41 yang artinya, “ Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Alloh menimpakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali kepada jalan yang benar.”

Wallohu a’lam bish showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *