Mural Dibasmi, Baliho Bersemi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Fildareta F. Auliyah, S.Pd

 

Baru-baru ini ramai penghapusan beberapa mural di beberapa daerah, salah satunya di daerah Bangi, Pasuruan. Mural yang beridikan tulisan “Dipaksa Sehat di Negeri yang Sakit” itu dihapus oleh aparat setempat.

Sebetulnya tulisan tersebut masih termasuk kritik yang wajar jika melihat kondisi pandemi saat ini. Karena hampir 2 tahun sudah rakyat bertarung melawan pandemi. Bak simalakama, jika tidak keluar rumah untuk bekerja, rakyat bisa mati kelaparan. Sedangkan jika tetap keluar rumah, rakyat bisa mati karna virus.

Sedangkan disatu sisi, beberapa politikus berlomba memasang baliho. Mereka mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin di periode selanjutnya, 2024. Bagaimana bisa, 2021 belum berakhir apalagi di masa pandemi seperti saat ini. Tentu saja hal ini membuat rakyat semakin muak.

Hal ini semakin menunjukkan bahwa dalam demokrasi, yang katanya suara rakyat suara Tuhan, sudah tidak berlaku lagi untuk negeri ini. Kenyataannya, suara rakyat tidak berarti apa-apa jika tidak membawa keuntungan untuk penguasa. Suara rakyat hanya dibutuhkan ketika pemilu saja. Selepas terpilih, rakyat diabaikan, bahkan dibungkam.

Sudah saatnya kini rakyat sadar, berfikir, dan bangkit. Demokrasi telah kehilangan jati dirinya. Lalu, kepada apa dan siapa lagi rakyat bisa berharap? Tentunya kepada Islam dan Allah SWT.

Wallahua’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.