Mungkinkah Merajut Toleransi, Lewat Terowongan Silaturahmi?

Oleh : Dini Azra

Seperti diketahui Presiden Jokowi telah menyepakati proyek renovasi Masjid Istiqlal. Termasuk didalamnya, usulan pembangunan terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral. Renovasi Masjid Istiqlal boleh jadi diperlukan mengingat masjid ini terakhir kali direnovasi pada tahun 1978 atau sekitar 41 tahun silam. Proyek renovasi sendiri telah dimulai sejak Mei 2019. Sedangkan terkait rencana pembangunan terowongan masih dalam kajian.

“Ada usulan dibuat terowongan dari Masjid Istiqlal ke Katedral. Tadi sudah saya setujui. Ini menjadi terowongan silaturahim. Tidak kelihatan berseberangan tapi (terjalin) silaturahim,” jelas Presiden Joko Widodo di kompleks Masjid Istiqlal, Jumat (7/2)

Rencana ini mendapat respon positif dari anggota Komisi DPR, Sekjen MUI, dan pihak Masjid Istiqlal sendiri. Sebab nantinya keberadaan terowongan dalam tanah ini akan menjadi ikon toleransi di Indonesia. Dan menjadi simbol kerukunan antar umat beragama. Wakil Kepala Humas Masjid Istiqlal Abu Hurairah mengatakan, ikon toleransi di Indonesia sangat diperlukan. Sementara Imam Besar Masjid Istiqlal Prof.Nasaruddin Umar yang memang telah menggagas rencana ini mengungkapkan pendapatnya.

“Gagasan-gagasan itu saya pernah melontarkan, lanskap rumah ibadah itu satu kompleks. Cuma ini Istiqlal dan Katedral dipisahkan sama jalan sehingga pesan psikologisnya itu masih terpisah. Seandainya ada terowongan itu akan semakin tampak. Ini nilai jualnya Indonesia, di luar kan tidak bisa seperti di Indonesia ini,” kata Nasaruddin. (detik.com) Dia berharap bahwa konsep soal terowongan silaturahmi ini bisa jadi contoh yang baik. Yakni menjadi contoh tentang indahnya perbedaan dalam kedamaian.

Namun ditengah masyarakat, banyak pula yang menganggap pembangunan terowongan ini sebagai hal yang kontroversial. Aneh dan tidak masuk akal. Salah satunya karena negara sedang dalam keterbatasan finansial. Di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia. Dengan beragam perbedaannya, terutama dalam beragama. Merawat toleransi agar tetap terjaga, diperlukan adanya peran negara. Tidak hanya sekadar simbol, lebih urgen lagi menciptakan toleransi secara nyata. Dengan mengatasi berbagai persoalan yang masih mendera umat beragama.

Seperti disampaikan Direktur Riset Setara Institut Halili, “Terowongan secara simbolik, barangkali kita tidak mengatakan tidak membutuhkan simbol perjumpaan antar suatu agama. Tapi ada persoalan yang lebih serius.” kata Halili pada TEMPO.CO (8/2)

Jangan sampai pemerintah melupakan hal yang lebih penting dalam mewujudkan cita-cita kerukunan beragama. Sebab menurutnya, Indonesia saat ini masih dihantui sejumlah persoalan ditengah kehidupan umat beragama. Setidaknya ada tiga persoalan yang mesti diselesaikan oleh level negara. Yaitu regulasi, kapasitas aparat dan penegakan hukum.

Apa yang terjadi baru-baru ini adalah contohnya. Pengrusakan balai pertemuan di Tumaluntung, Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Balai pertemuan yang rencananya akan dijadikan musholla bagi warga muslim, mendapat penolakan dari warga disana yang mayoritas non muslim. Mereka merasa khawatir akan adanya pengeras suara. Mereka juga takut nantinya bisa dipidana, terkait pasal penodaan agama jika memprotes pengeras suara tersebut. Pemerintah menanggapi ini sebagai masalah kecil, dan menghimbau agar masyarakat tidak terpancing. Meskipun akhirnya polisi menetapkan tiga tersangka pengrusakan, namun berbeda sikap jika yang dirusak adalah tempat ibadah agama lain. Maka dari aparat hingga pejabat tertinggi akan segera terjun ke lokasi. Dan beritanya akan menghebohkan seluruh negeri.

Selain urgensi pembangunan terowongan yang dipertanyakan, perlu juga diperhatikan adanya maksud terselubung didalamnya. Bahwasanya pemerintah saat ini memang sedang gencar mempromosikan moderasi agama (liberalisasi agama). Dimana ide pluralisme sering dilontarkan ditengah masyarakat. Dengan mengatasnamakan Islam moderat, yang dianggap sebagai jalan tengah antara Islam radikal dan Islam liberal. Paham pluralisme menyatakan, bahwa beragam keyakinan dan agama itu hanyalah kulit luarnya. Sedang esensi didalamnya, semuanya bermuara pada tujuan yang sama. Menyembah kepada Tuhan yang Maha Esa, hanya caranya saja yang berbeda. Karenanya menurut penganut pluralisme, tidak ada yang boleh mengklaim agamanya yang paling benar. Sebab semua agama memiliki kebenaran yang diyakini oleh pemeluknya.

Hal ini harus disadari oleh umat Islam. Pluralisme adalah paham yang menyesatkan, dan bertentangan dengan akidah Islam. Padahal bagi kaum muslimin , Islam bukanlah agama yang paling benar. Tapi harus mengakui, bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Ini bukan klaim dari umat Islam, tapi adalah wujud keimanan atas firman Allah Subhanahu wa ta’ala yang berbunyi :

” Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam ….”(QS. Ali Imran[3] :19)

Dengan begitu kita meyakini bahwa agama yang diterima dan diridhoi Allah adalah yang diturunkan kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam. Satu-satunya jalan menuju keselamatan di akhirat hanyalah Islam dan akan merugi orang-orang yang memilih jalan selain nya. Sebagaimana firman Allah yang lain :

“Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.”(QS.Ali Imran [3]:85)

Toleransi dalam Islam, bukan berarti membenarkan apa yang diyakini oleh umat agama lain. Bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam telah mencontohkan dalam kepemimpinan beliau saat menjadi kepala negara di Madinah. Dimana disana juga terdapat kemajemukan beragama, yaitu Yahudi, Nasrani dan Majusi. Mereka tetap diberikan kebebasan dalam beribadah sesuai kepercayaannya. Akan tetapi, Rasulullah tidak berhenti mendakwahkan Islam kepada mereka tanpa paksaan. Begitu juga berlanjut pada masa Khulafaur Rasyidin, hingga Khalifah-Khalifah berikutnya yang berlangsung selama ribuan tahun.

Islam mengakui pluralitas, karena itu adalah keniscayaan. Sesuatu yang tidak terelakkan, yakni adanya perbedaan dan keberagaman. Sikap kita terhadap yang berbeda, dalam urusan dunia kita bebas berbuat baik sebanyak apapun kepada mereka. Namun, dalam hal akidah serta ritual ibadah, prinsip kita tegas bagiku agamaku bagimu agamamu. Prinsip dasar Islam adalah tauhid, menundukkan penyembahan hanya kepada Allah ta’ala. Islam tidak mungkin bercampur dengan kesyirikan. Dan benang merah antara haq dan batil sudah sangat terang. Karena itu setiap upaya menggiatkan pluralisme, harus kita bendung. Jika tidak akan menyusul kebijakan-kebijakan lain yang lebih berbahaya dampaknya.

Wallahu a’lam bishawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *