Misi Mengemban Risalah Islam Ke Penjuru Dunia (Kisah Ruba’i bin ‘Amir Ats-Tsaqafi ra)

Oleh: Neng RSN

Kewibawaan Daulah Islam di hadapan negara-negara adidaya kafir tercermin dari sikap panglima dan pasukan muslim. Mereka tidak pernah kehilangan nyali ketika berhadapan dengan penguasa negara besar, apalagi tunduk pada kekuatan negara-negara kafir imperialis. Tak tergoda sedikit pun dengan kenikmatan dunia yang ditawarkan. Cita-cita dan tujuan pasukan muslim adalah akhirat. Dan misi mengemban risalah Islam ke penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Misi Islam inilah yang menorehkan tinta emas kejayaan Islam hampir 13 abad lamanya.

Kondisi ini sangat kontras dengan kondisi negara muslim saat ini. Tidak memiliki wibawa, bahkan harga diri, di hadapan negara-negara kafir. Para penguasanya cenderung tidak mandiri, mirisnya malah bergantung pada mereka. Tunduk pada kekuatan hingga tak berdaya mencegah negaranya dari intervensi negara-negara kafir imperialis. Ironi!

Dikisahkan oleh Ibnu Katsir dalam karyanya Al-bidayah wa an an-nihayah,  menjelang terjadinya Perang Qadisiyah di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Ketika itu Sa’ad bin Abi Waqqash merupakan panglima pasukan muslimin yang memimpin 30.000 pasukan, berperang melawan 120.000 pasukan Persia di bawah panglima bernama Rustum. Melihat sedikitnya jumlah kaum muslim namun berani melawan, membuat Rustum penasaran sehingga mengirim undangan kepada Sa’ad bin Abi Waqqash agar mengirim seorang utusan menemuinya untuk melakukan perundingan, maka bin Abi Waqqash mengirim Mughirah, mendakwahi Rustum dengan menawarkan 3 opsi yakni Islam, jizyah atau perang. Kemudian berikutnya, diutuslah Ruba’i bin ‘Amir Ats-Tsaqafi ra. Inilah kisah teladan yang menampakkan kegagahan dan kemuliaan seorang muslim di hadapan panglima musuh.

Ruba’i melaju dengan keledai menuju perkemahan Rustum, bersenjatakan pisau dapur dan tombak yang dipinjam dari temannya serta bertopi panci masak. Beliau berpostur kecil dan tidak kekar, sedangkan pasukan Persia terkenal berpostur tinggi besar dan kekar. Namun tidak ada rasa takut sedikit pun dalam dirinya.

Rustum sengaja menghiasi perkemahannya dengan hamparan permadani dan sutra mahal serta bantal-bantal yang dirajut dengan benang emas. Mereka mempertontonkan berbagai macam perhiasan mahal. Rustum duduk di atas singgasananya dengan memakai mahkota yang terbuat dari emas berhias batu permata. Sebaliknya, Ruba’i datang dengan kesederhanaannya tapi tampak kegagahannya.

Setibanya di gerbang, pasukan Persia menyuruh Ruba’i agar memberi penghormatan dengan berkata, “wahai Rustum yang terhormat saya pamit mau masuk”. “Saya tamu, dan saya yang harus dipersilakan untuk masuk, bukan saya yang pamit untuk masuk!”, jawab Rubai. Lalu Rubai melihat ada permadani berhiaskan emas, diambil permadaninya di belah dua dengan pisaunya dan diletakan di atas keledainya. Lalu Rubai berkata, “Ini pembukaan harta rampasan perang kami kalau kalian tidak membuka pintu untuk saya masuk.”
Lalu Rustum memerintahkan prajuritnya untuk membuka sedikit saja pintu gerbang agar Ruba’i secara tidak langsung menunduk padanya. Firasatul mukmin Ruba’i membaca maksud (tipu muslihat) dari Rustum tersebut, kemudian dia membalikkan badan dan bokongnya, begitu juga keledainya lalu berjalan mundur seraya membungkukkan badannya, sehingga yang seharusnya menunduk justru membelakangi.

Ruba’i lalu menghadap Rustum tanpa turun dari keledainya Dan tetap menyandang tombaknya. Lalu mereka berseru, ”Letakkan senjatamu!”. Dengan tenang Ruba’i menjawab, “Aku tidak pernah berniat mendatangi kalian tetapi kalianlah yang mengundangku datang kemari. Jika kalian memerlukanku maka biarkan aku masuk ke dalam”. ”Biarkan dia menghadap!.” perintah Rustum

Rustum memanggil penerjemah lalu mengajukan pertanyaan, “Hai orang arab kalian dulu tinggal di padang pasir, penggembala dan tidak memiliki apa-apa. Apa yang mendorong kalian datang ke negeri kami?. Jika kalian butuh harta sebut saja berapa yang kalian inginkan ambil dan pulang, jika butuh hewan gembala kami akan kasih berapa pun unta dan kambing yang kalian minta, jika kalian meminta jabatan pilihlah yang terbaik diantara kalian lalu aku jadikan pemimpin diantara kalian dan kami akan kasih upah”.

Ruba’i menjawab dengan tegas,
“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dari kezaliman agama-agama kepada keadilan Al-Islam. Maka Dia mengutus kami dengan agama-Nya untuk kami seru mereka kepadanya. Maka barang siapa yang menerima hal tersebut, kami akan menerimanya dan pulang meninggalkannya. Tetapi barang siapa yang enggan, kami akan memeranginya selama-lamanya hingga kami berhasil memperoleh apa yang dijanjikan Allah”
“Apa yang dijanjikan Allah itu ?”, tanya Rustum penasaran. “Surga bagi orang yang mati syahid dalam memerangi orang yang menolak dan kemenangan bagi yang masih hidup”, jawab Ruba’i
Maka Rustum berkata, “Baiklah aku telah mendengar seluruh perkataan kalian Tetapi maukah kalian memberi tangguh perkara ini sehingga kami mempertimbangkannya dan kalian pun mempertimbangkannya?”. “Berapa hari kalian minta ditangguhkan ?, satu atau dua hari ?”, tanya Ruba’i. “Kami mungkin butuh satu atau dua bulan hingga kami menulis surat kepada para petinggi kami dan para pemimpin kami”, jawab Rustum
Ruba’i berkata dengan tegas, “Rasul kami tidak pernah mengajarkan kepada kami untuk menunda peperangan setelah bertemu musuh lebih dari tiga hari, Maka pertimbangkanlah perkaramu dan pilihlah satu dari tiga pilihan apabila masa penangguhan telah berakhir, pilihlah Islam, kami akan membiarkanmu dan bumimu, atau jizyah, kami akan menerimanya dan melindungimu. atau Perang ! pada hari keempat !”. Rustum bertanya kembali, “Apakah engkau pemimpin mereka?”. “Bukan, saya pasukan yang berada paling belakang, tetapi kaum muslimin itu ibarat satu jasad, yang paling rendah dari mereka dapat memberikan jaminan keamanan terhadap yang paling tinggi sekalipun”, jawab Rustum

Pada akhirnya Persia memilih berperang dan dengan izin Allah Swt kemenangan berada di pihak tentara kaum muslimin.

Lihatlah, keimanan luar biasa dari sahabat Rasulullah Saw yang tidak tergoda oleh kenikmatan dunia dan keberaniannya di hadapan penguasa kafir. Dari kisah ini pula, dapat disimpulkan bahwa ekspansi Daulah Islam tidaklah untuk tujuan duniawi, tetapi menyebarkan risalah tauhid. Dan ketika umat Islam memiliki institusi negara yang kuat maka kewibawaan akan terpancar, sehingga akan disegani negara lain. Institusi negara yang menjadikan akidah Islam sebagai ideologinya dan mengemban risalah Islam ke penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber: Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, IV/43

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *