Minimnya Edukasi Covid-19, Penyebab Masyarakat Saling Dzalim Satu Sama Lain

Oleh : Verawati (Mahasiswi)

Pandemi virus covid-19 kini terus berlanjut dan menghantui masyarakat Indonesia bahkan dunia. Pasalnya, bukan sekedar keresahan akan bahaya wabah ini terhadap kesehatan, tetapi juga kekhawatiran masyarakat terhadap terganggunya ketenangan secara psikis. Sebagaimana yang dilansir pada laman artikel berita, berbagai kekhawatiran yang muncul tampaknya menghadirkan berbagai tindakan yang justru bertolak belakang dengan kemanusiaan.

Seperti yang dialami oleh jenazah perawat Covid-19 yang sempat menjadi viral akibat penolakan pemakaman tak terduga oleh warga di Semarang Kamis (9/4/2020) lalu. Peristiwa tersebut merupakan buah dari provokasi oleh oknum dengan prasangka buruk yang ditumbuhkan dalam masyarakat. Hal ini memberikan beberapa dampak lain pada beberapa tenaga medis lainnya.
(lihat : https://semarang.kompas.com/read/2020/04/11/05300071/dengan-mata-berkaca-kaca-ganjar-meminta-maaf-ada-penolakan-jenazah-perawat?page=all).

Hal serupa turut dialami oleh beberapa tenaga medis baik perawat maupun dokter yang harus mengalami tindakan buruk akibat pandemi Covid 19 ini. Perawat dan dokter sebagai orang yang berada di garda terdepan dalam menghadapi Covid 19 ini, malah mendapat perlakuan buruk oleh warga setempat, dari dikucilkan hingga diusir dari kos tempat mereka tinggal akibat kekhawatiran akan penyebaran wabah Covid 19.
(lihat : https://www.liputan6.com/news/read/4210702/dokter-dan-perawat-rs-persahabatan-diusir-dari-kos-di-tengah-pandemi-covid-19

Tidak lepas dari itu, masyarakat menjadi mudah terprovokasi terhadap opini yang tidak tepat tentang tuduhan tersangka Covid-19 yang ditujukan pada Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Akibatnya diskriminasi serta pengucilan pun harus mereka terima dengan dasar tuduhan kecemasan serta ketakutan dari masyarakat karena dinilai pembawa wabah dari daerah zona merah yang terindifikasi Covid-19.
(lihat : https://www.beritasatu.com/kesehatan/619417/jangan-kucilkan-karena-dituduh-odp-dan-pdp-covid19 ).

Minimnya informasi akurat dan edukasi yang benar kepada masyarakat terkait wabah Covid 19, menjadi pemicu terjadinya berbagai tindakan diskriminasi terhadap orang-orang yang berhubungan dengan Covid 19 baik ODP, PDP, Tim medis, hingga jenazah PDP sekalipun.

Masyarakat hanya menerima informasi dan ditekankan pada hal seputar penanganan wabah, ciri-cirinya hingga dampak buruk bagi siapa yang terjangkiti sampai pada kondisi terburuknya adalah kematian. Tentu hal ini bukannya memotivasi masyarakat untuk terus berhati-hati terhadap virus Covid 19, tetapi justru dapat menambah ketakutan dan kepanikan berlebih di tengah masyarakat.

Maka wajar ketika terjadi tindakan diskriminasi terhadap pasien, tim medis, serta keluarga dari keduanya yang berhubungan langsung dengan Covid 19, oleh masyarakat setempat akibat kekhawatiran tertularnya wabah ini pada mereka.

Masyarakat harus lebih paham tidak hanya sebatas pencegahan dan penghindaran virus tapi juga tau kapan mereka akan berpotensi terkena wabah sesuai prosedur penularan yang akurat dan jelas. Edukasi harus benar-benar tersampaikan kepada masyarakat dengan segala tenaga dan usaha, dilihat dari pengaruhnya yang cukup besar ke depan agar tidak terulang lagi kejadian negatif yang tidak berdasar dan justru merugikan banyak orang.

Pemanfaatan media bisa menjadi salah satu cara yang efektif untuk mengedukasi masyarakat, namun sayangnya itu tidak dimanfaatkan dengan baik untuk mengedukasi masyarakat. Bahkan stasiun televisi cenderung banyak memberikan tayangan hiburan yang tidak berbobot dan minim edukasi.

Dengan melihat serangkaian fakta diatas, menjadi contoh kelalaian negara dalam menangani pandemi global hari ini. Tidak heran, beberapa kebijakan dan sikap plin-plan negara sebelumnya juga dinilai tidak meminimkan status tertularnya wabah Covid 19.
Semua itu terjadi akibat sistem Kapitalisme yang diterapkan hari ini, yang mendorong manusia hidup hanya untuk materi dan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Yang tidak pernah tulus mengurusi urusan rakyat, melainkan selalu ada kepentingan yang ingin dikejar. Alhasil, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan tidak mampu menyelesaikan masalah dengan tuntas,

Berbeda halnya dengan Islam, selalu menghadirkan berbagai solusi tuntas bahkan memiliki sejarah dalam menyelesaikan wabah yang patut untuk dijadikan contoh serta pengajaran di tengah kondisi saat ini. Dalam Islam ketika mengalami bencana dan musibah, negara selalu mengarahkan untuk memprioritaskan masyarakatnya. Dari segi kebutuhan kesehatan hingga makanan terpenuhi dan masyarakat tidak khawatir serta cemas dengan keadaan wabah.

Pada sistem Islam, media massa juga memiliki peran strategis untuk mengedukasi masyarakat tentang pelaksanaan kebijakan hukum Islam di dalam Negara terkait menanggulangi wabah dan langsung bertanggungjawab pada khalifah.

Dalam sistem pemerintahan Islam, atau yang dikenal deangan Khilafah yang berdasar pada metode kenabian sangat bertanggungjawab langsung pada pengedukasian di tengah wabah ini. Memberikan pencerahan bahwa wabah ini juga seharusnya meningkatkan ketakwaan dan kesadaraan akan dosa serta maksiat akibat jauhnya kita pada syariat.

Khalifah tidak serta merta menyerahkan tugas secara gamblang pada daerah dan media masaa dalam urusan wabah, melainkan tetap dikontrol langsung oleh Khalifah. Dengan begini masyarakat setiap saat akan mendapatkan informasi yang benar dan akurat, mendidik dan pengetahuan yang bermanfaat. sehingga dukungan masyarakat bisa didapatkan dan memudahkan kerja pada masa pandemi.

Demikianlah luarbiasanya Islam mengatasi suatu permasalahan dengan cepat dan sigap, dengan begitu wabah tidak semakin menyebar luas, serta dengan mengedukasi masyarakat dengan informasi yang benar maka masyarakat akan menyikapi nya dengan tepat, tidak akan kita temukan lagi tindakan diskriminasi terhadap orang-orang yang berhubungan dengan wabah, justru masyarakat akan memberi dukungan dalam penangan wabah tersebut. Inilah hasil dari penerapan syariat Islam secara menyeluruh dalam setiap lini kehidupan, yang akan mengantarkan manusia pada keadilan dan kesejahteraan. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *