Mimpi Dalam Sistem Demokrasi Dipermasalahi?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh. Siti Juni Mastiah, SE (Anggota Penulis Muslimah Jambi dan Aktivis Dakwah)

 

Sistem demokrasi dan penyeru hak asasi manusia di Indonesia semakin dicederai. Kenapa begitu ? Lihat saja fenomena yang terjadi saat ini di negara kita, bagaimana brutal nya pembunuhan 6 pemuda dari salah satu ormas Islam di Indonesia. Kemudian yang terbaru terkait mimpi yang dipersoalkan sampai dibawa ke persidangan.

Anehkan ? Katanya demokrasi asasnya kebebasan berpendapat dan berekspresi. Katanya hak asasi manusia untuk hidup itu harus dijaga dan dihormati. Nah ini malah melanggar sendiri. Mengungkapkan mimpi yang tak berpengaruh di dunia nyata malah menjadi terpidana. Penembakan sampai mati yang dilakukan oleh anggota polisi adalah pelanggaran undang undang kepolisian sendiri. Seharusnya polisi hanya boleh melumpuhkan dengan menembaki kaki, ini malah melumpuhkan sampai menembaki anggota tubuh rakyat yang dilarang untuk ditembak.

Semakin hari negeri kita melihatkan keanehan para penguasanya. Perkara mimpi yang dipersoalkan. Deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Refly Harun merasa aneh terhadap pelaporan Haikal Hassan.

“Saya buat video What’s wrong with this country ? Jadi apa yang salah dengan negara ini ? Masa mimpi diadukan ke polisi. Aneh itu. Pertanyaannya adalah dia mimpi bertemu Rasulullah. Ya namanya mimpi. Saya orang hukum ya, pertanyaannya bagaimana polisi mau mengklarifikasikannya ? Apakah mimpi itu benar atau tidak ?”. Kata Refly Harun di Pulau Dua Restaurant Jakarta. (DetikNews.Com, Kamis 17/12/2020)

Begitulah sistem demokrasi hasil buatan manusia yang berasal dari peradaban bangsa Yunani dan Romawi kuno. Plato dari bangsa Barat saja sudah mengatakan bahwa negara yang menerapkan sistem demokrasi akan menghasilkan negara yang tidak ideal. (Researchgate.Net, November 2018)

Sistem demokrasi akan bisa menjadikan yang baik dan benar dikatakakan jahat dan salah. Sebaliknya yang salah dan jahat dikatakan benar dan baik. Terbukti bagaimana ketidakadilan yang terjadi di negara kita saat ini. Para koruptor bebas berkeliaran dan semakin menjadi. Tega sekali saat dana bantuan sosial untuk masyarakat yang terdampak pandemi yang berasal dari pinjaman utang luar negeri juga di korupsi. Jahat sekali bukan ?

Jadi jelas sekali bahwa demokrasi sistem yang rusak yang tak akan mampu memberikan keadilan pada kebenaran. Asas kebebasan dalam membuat aturan dan hukum akan berpihak pada kepentingan kelompok dan para penguasa saja. Keadilan dan kebebasan tersebut tak akan berpihak pada rakyat yang menjalankan Islam secara kaffah.

Rasulullah Saw pun sudah berpesan bahwa sesungguhnya yag haq dan batil itu tak akan bisa menyatu. Maka Rasulullah pun ketika ditawarkan berada diposisi strategis dan ditawarkan apa saja yang di inginkan Rasulullah akan diberi oleh penguasa jahiliyah Mekkah pada saat itu. Asalkan Rasulullah tidak mendakwahkan Islam lagi. Tidak mengajak untuk meninggalkan penyembahan terhadap berhala. Tidak menyampaikan lantunan isi Al Quran yang merupakan wahyu dari Allah Swt.

Akan tetapi jawaban Rasulullah dengan tegas. Jika pemuka penguasa jahiliyah pada saat itu bisa memberikan matahari di tangan kanan nya dan bulan di tangan kirinya. Maka Rasulullah pun tak akan pernah berhenti menyampaikan dakwah dan kebenaran sampai diri nya binasa atau mati karenanya.

Maka sudah saat nya kita tinggalkan sistem demokrasi yang rusak dan zolim saat ini. Kita berjuang bersama memahamkan kepada seluruh masyarakat bahwa hanya sistem yang berasal dari Allah Swt Sang Pencipta manusia, yang Maha Mengetahui kekurangan manusia itulah yang pantas untuk diterapkan di kehidupan kita.

Terbukti bahwa sistem Islam mampu menyatukan masyarakat yang majemuk. Sebagaimana Rasulullah Saw saat menerapkan aturan Islam secara menyeluruh di Madinah, saat itu masyarakat Madinah masih ada yang musyrik, dan agama Nasrani serta Yahudi saat itu tak diganggu dan tak dipaksa untuk masuk Islam.

Ketika masyarakat non muslim yang berada dibawah naungan sistem aturan Allah Swt, merasakan keadilan, kesejahteraan, dan keamanan serta kebaikan lain mereka peroleh, membuat mereka akhirnya berbondong – bondong masuk Islam.

Keadaan tersebut terus berlanjut hingga hampir 14 Abad Islam menguasai peradaban dunia. Dan itu berakhir pada 3 Maret 1924 yang diruntuhkan oleh  Mustafa Kemal AtTartuk penyusup jahat yang berpura sebagai muslim. Saat itu khalifah terakhir kaum muslim adalah Abdul Hamid II atau dikenal dengan nama Mahmed Vahiddin.

Maka ingatlah dengan pesan Allah Swt di dalam Al Qur’an Surat Al Maidah ayat 50 yang artinya “Apakah hukum jahiliyah kah yang kalian kehendaki ? Hukum siapakah yang lebih baik dari hukum Allah bagi orang – orang yang yakin ?”

 Wallahua’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.