Millenials; Jangan Jadi Bucin Please !!

Oleh : Ismawati (Aktivis Dakwah Muslimah Palembang)

Pada Selasa (7/1/2020) warga Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dihebohkan dengan aksi seorang remaja yang memanjat tower dengan tinggi 100 meter. Remaja berinisial YA itu tenyata masih sekolah dikelas XII SMK Swasta. YA diduga hendak bunuh diri lantaran baru putus cinta. Namun, aksinya berhasil digagalkan karena diselamatkan petugas Damkar, BPBD dan Babinsa Desa Tanjungbaru Kecamatan Baturaja OKU. (tribunsumsel.com)

Bukan hanya itu dikutip dari serambinews.com seorang remaja bernama Dinda 20 tahun, ditemukan tewas tergantung di kantornya di Jalan Bunga Herba Raya, Medan Selayang, Kota Medan, Jumat (3/1/2020). Dinda nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri menggunakan dua helai kain kerudung yang diikatkan di lehernya karena diduga frustasi setelah putus cinta.

Dua contoh kasus diatas apabila kita kaji akan kita temui beberapa faktor mengapa remaja nekat berbuat seperti itu, padahal pepatah mengatakan remaja adalah generasi penerus bangsa. Pertama, krisis indentitas individu. Istilah bucin atau budak cinta adalah sebuah ungkapan yang muncul di era millennial saat ini untuk menggambarkan perilaku kecintaan seseorang yang kebablasan sampai kehilangan jati diri. Krisis identitas sedang melanda remaja muslim saat ini. Kurangnya pemahaman akidah remaja menjadikan perilaku mereka tidak mencerminkan individu yang beradab. Sekulerisme (paham yang memisahkan agama dari kehidupan) adalah biang kerusakan akhlak para remaja. Mereka menganggap, hidup dan agama adalah dua hal yang terpisah. Maka, dalam kehidupan mereka berperilaku sesuai aturan sendiri. Setelah putus cinta, mereka dengan mudahnya mengakhiri hidup karena terlampau sakit hati.

Kedua, kondisi lingkungan. Kondisi lingkungan juga berpengaruh terhadap moralitas bangsa. Lingkungan yang beragama juga penting dalam menghalau virus bucin. Kepedulian masyarakat akan remaja yang berpacaran amatlah penting, bukan malah melabeli remaja yang tidak pacaran dibilang kuno, kurang gaul ataupun kalimat “tidak laku”.

Ketiga, hilangnya kontrol negara untuk generasi peradaban. Lihat saja, bagaimana negara saat ini menfasilitasi remaja terserang virus “bucin” dengan mengizinkan tayangan film berbau cinta ala remaja atau bahkan mudahnya mengakses tentang cinta lewat sosial media. Pendidikan remajapun haruslah berasas pendidikan islami, bukan pendidikan materialistik ala barat sehingga output pendidikan yang lahir dari Rahim sistem islam yaitu seseorang yang memiliki kepribadian islam, pola sikap islami, dan pola fikir islami.

Islam memang tidak menafikkan cinta. Didalam islam, urusan cinta telah diatur oleh-Nya. Namun, pemenuhan naluri cinta ini juga diatur sesuai dengan syariat islam. Didalam islam, haram hukumnya pacaran. Seperti dalam firman Allah “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk) QS. Al-Isra; 32. Maka, atas nama apapun haram hukumnya berpacaran. Karena salah satu pintu masuknya zina adalah pacaran. Menyalurkan cinta didalam islam adalah dengan menikah. Rasulullah SAW bersabda : “Saya belum pernah melihat solusi untuk dua orang yang saling jatuh cinta, selain menikah” (HR. Ibnu Majah 1847, Mushannaf Ibn Syaibah 15915 dan disahihkan Al-Abani).

Bila masih usia sekolah tentu belum siap menikah ya? So, janganlah jadi remaja bucin. Jadilah remaja baper (bawa perubahan) untuk masa depan umat. Hujamkan keimanan dalam diri kalian para remaja, karena islam bukanlah agama ritual semata, namun islam juga mengatur kehidupan manusia dengan syariat-Nya. Isilah waktumu dengan mengkaji islam, dengan mengkaji islam kalian akan mengetahui ajaran islam. Sehingga apa-apa yang kita lakukan senantiasa terikat dengan hukum syara’. Karena setiap perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban kelak, Senantiasa berkumpul dengan orang-orang yang soleh serta terlibat dalam dakwah islam untuk berjuang menegakkan syariah dan Khilafah. Karena hanya dengan syariah dan Khilafah generasi bucin akan menjadi generasi baper (bawa perubahan) demi masa depan islam yang gemilang. Jangan sia-siakan masa mudamu dengan mengakhiri hidup karena cinta. Gunakan usia mudamu untuk menorehkan tinta sejarah kehidupan, karena ditanganmulah generasi peradaban islam itu lahir.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *