Merusak Generasi Anak Negeri dengan Game Online

Oleh: Mochamad Efendi

Sudah banyak bukti kecanduan game berdampak buruk bagi pelakunya mulai dari perubahan sikap yang buruk, gila, bahkan sampai pada kematian.  Banyak siswa yang tidak sopan dengan guru bahkan berani dengan orang tuanya sendiri karena kecanduan game online. Mereka malas berfikir dan bahkan tidak mau ke sekolah karena kecanduan game online. Bahkan ada yang dinyatakan gila membenturkan kepalanya sendiri ke tembok saat dilarang bermain game online.

Di India seorang remaja yang sehat akhirnya merenggang nyawa setelah 6 jam bermain game online padahal dia adalah perenang yang memiliki jantung yang sehat. Tetapi jantungnya tidak kuat karena selama enam jam dipacu terus menerus oleh permainan pupgy yang memacu kerja jantung secara berlebihan. Sehingga jenis permainan ini sempat dilarang. MUI di Aceh juga mengharamkan jenis permainan ini dengan pertimbangan efek buruk yang ditimbulkan dari  permainan ini.

Sungguh aneh dan tidak masuk akal saat ada perhelatan besar “esport 2020” memperebutkan piala presiden yang dibuka oleh Moeldoko, sekretaris kepresidenan dan disiarkan langsung oleh GTV hari Minggu, 13 Oktober 2019.

Sudah tahu dampak buruk dari game online jika dilakukan secara berlebihan, presiden malah memfasilitasi dan mendukung mereka para remaja yang suka bermain game online.

Semakin sulit aja bagi orang tua untuk melarang anaknya agar tidak berlebihan dalam bermain game online dengan alasan mereka ingin mempersiapkan diri untuk memperebutkan esport piala presiden. Lebih parah lagi jika orang tua ikut mendukung karena tergiur anaknya memenangkan piala presiden. Mau dibawa kemana negeri ini jika para remajanya jadi pecandu game online.

Generasi yang malas belajar karena mata dan otaknya dirusak oleh game online. Generasi yang memilih kekerasan dalam menyampaikan keinginannya karena mereka terinspirasi untuk menyerang dan melawan seperti yang mereka mainkan dalam game online.

Generasi yang tidak pandai berinteraksi dalam dunia nyata yang perlu mempertimbangkan adab dan kesopananan. Generasi yang hanya bisa menyerang dan menggunakan kekerasan karena terpapar game online. Apa yang bisa diharapkan dari generasi gamer yang malas dalam berfikir.

Esport piala presiden yang dibuka oleh Moeldoko menggelar pertandingan game online dari kalangan millenial. Ekonomi menjadi pertimbangan. Banyaknya remaja yang bermain game online akan menyedot dana dari mareka untuk membeli pulsa atau paketan data. Namun, dampak buruk jangka panjang akan menimpa para remaja yang merupakan generasi penerus negeri ini.

Remaja generasi gamers tidak akan peka dengan kondisi sosial politik disekitarnya. Mereka bersikap acuh terhadap segala permasalahan negeri ini yang makin hari semakin parah. Mungkin inilah yang juga diinginkan oleh penguasa agar mereka mati secara politik. Benarkah? Ah, semoga saja tidak.

Remaja yang sadar politik dan peka dengan permasalahan negeri ini diharapkan mampu menjadi generasi unggul, calon pemimpin masa depan. Remaja yang cerdas dalam berfikir akan memilih cara damai, perang pemikiran dari pada cara-cara kekerasan.

Generasi gamers akan lebih memilih cara kekerasan untuk menyampaikan keinginannya. Esport piala president secara tidak disadari telah membentuk generasi yang terpapar oleh radikalisme. Ini akan menjadi bom waktu yang akan menciptakan permasalahan baru, karena generasi ke depan tidak bermutu yang lebih suka bersenang-senang serta menggunakan kekerasaan.

Inilah demokrasi yang menjadikan nilai ekonomi sebagai pertimbangan utama. Nilai moral dan agama sering dikesampingkan sehingga terbentuklah generasi buruk yang rendah moralnya dan kering dengan nilai agama yang lebih suka bersenang-senang dan lebih memilih cara kekerasaan untuk memaksakan keinginannya. Hanya Islam yang mampu menghasilkan generasi unggul dan cemerlang dengan al-Qur’an. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *