Merdeka dari Cengkraman Sekularisme, Merdeka yang Sebenarnya

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Wardani

 

Euforia Sesaat
Peringatan kemerdekaan RI ke 76 kali ini mengangkat tema Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. Adalah Menteri Sekretaris Negara, Pratikno yang mengatakan, semua warga untuk menghentikan semua kegiatan dan aktivitas selama tiga menit saja pada tanggal 17 Agustus (2021) pukul 10 lewat 17 menit WIB. Beliau menyeru seluruh elemen masyarakat untuk mengambil sikap sempurna, berdiri dengan sikap tegak untuk menghormati peringatan detik-detik kemerdekaan.

Setelah tiga menit mengenang detik detik kemerdekaan, euforia kemerdekaan pun selesai. Kehidupan pun berjalan seperti semula. Kembali kepada kenyataan bahwa negeri ini belum merdeka dari pendemi. Sudah 1,5 tahun pendemi melanda, meluluhlantakkan berbagai sektor.

Kasus COVID sampai dengan 21 Agustus mencapai 3.989.060 kasus terhitung sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020. Meskipun lonjakan kasus tidak terjadi tetapi masih ada penambahan kasus harian. Angka positif rate masih di atas 10%. Pemberlakuan PPKM level 4 di berbagai daerah pun diperpanjang hingga awal September. Para ahli belum bisa memprediksi kapan pendemi ini akan berakhir.

Di sektor ekonomi, negeri ini seolah tak berdaya. Roda perputaran ekonomi berjalan seret. Banyak orang kehilangan pekerjaan. Jumlah penduduk miskin pun meningkat. Jumlah pengangguran terbuka nyaris 10 juta orang dan angka kemiskinan menembus 10%. Secara faktual angkanya bisa lebih lagi, karena angka ini hanya dihitung secara rata-rata.

Kebutuhan biaya yang begitu besar untuk menjalankan roda pemerintahan ternyata tidak sebanding dengan pendapatannya. Tidak ada jalan lain yang diambil selain berutang. Berdasarkan catatan Kementerian Keuangan posisi utang pemerintah sampai akhir Juni 2021 sebesar Rp6.554,56 triliun atau 41,35% dari rasio utang pemerintah terhadap PDB. Komposisi utang tersebut terdiri dari pinjaman sebesar Rp842,76 triliun (12,86%) dan SBN sebesar Rp5.711,79 triliun (87,14%). (Merdekacom, 24/7/2021)

Di sektor pendidikan pun nampak ternyata sistem pendidikan kita rapuh. PJJ yang diaplikasikan saat pendemi ini ternyata tidak didukung dengan fasilitas yang memadai. Akibatnya PJJ berjalan tidak efektif. Angka putus sekolah pun tinggi. Ancaman loss learning menghampiri anak-anak kita .

Dengan memperhatikan fakta-fakta tersebut di atas, slogan Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh yang didengungkan seolah tinggallah slogan. Negeri ini terancam lumpuh menghadapi pendemi. Tujuh puluh enam tahun termyata belum membuat negeri ini tangguh menghadapi berbagai permasalahan yang menghadang. Lantas mengapa semua ini bisa terjadi?

Penjajahan Gaya Baru
Secara fisik dan territorial negeri kita memang sudah bebas dari penjajah. Belanda sudah tidak lagi menjajah. Namun penjajahan fisik sekarang bertransformasi menjadi penjajahan non fisik. Penjajahan ideologi, penjajahan pola pikir, yang membuat negeri ini terkungkung.

Seperti yang kita ketahui bahwa di dunia ini ada 3 idelogi atau mabda. Ketiga mabda tersebut adalah sekuler kapitalis, sosial komunisme dan Islam. Mabda sekuler kapitalis dan komunis diemban oleh negara pengembannya. Sedangkan Islam hanya diemban oleh individu.

Mabda yang sekarang diterapkan adalah sekuler kapitalis. Sistem pemerintahan demokrasi, sistem ekonomi kapitalis, gaya hidup hedeonisme, liberalism, materialism, feminisme merupakan isme turunan mabda sekuler kapitalis, Isme-isme inilah yang dicekokan para penjaga mabda ini ke negeri-negeri kaum muslim.

Mabda ini diekspor ke negeri-negeri muslim. Berbagai program global yang ditawarkan seolah demi kebaikan negeri muslim. Padahal tujuannya untuk melanggengkan ideologinya yang berorientasi manfaat atau keuntungan materi belaka.

Inilah yang terjadi di negeri kita. Menelan racun-racun yang ditawarkan mabda sekuler kapitalis. Lihatlah sistem penyelenggaraan negara demokrasi yang diadopsi. Demokrasi hanya menguntungkan pihak tertentu, yaitu para pemodal/kapitalis. Demokrasi membuka peluang praktek kolusi, korupsi. Semboyan dari rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat tinggallah semboyan.

DI bidang ekonomi, liberalisasi dan kapitalisasi ekonomi mengakibatkan SDA hanya bisa dinikmati segelintir orang. Padahal SDA adalah milik umum yang seharusnya dikelola negara untuk kepentingan rakyat. Akibatnya kesenjangan yang lebar antara si kaya dan si miskin.

Praktek pengelolaan SDA yang cenderung eksploitative yang dilakukan oleh para kapitalis juga mengakibatkan kerusakan lingkungan yang cukup parah. Bencana banjir, tanah longsor kebakaran hutan hampir setiap tahun melanda negeri kita. Lagi-lagi rakyat yang menjadi korbannya.

Sistem ekonomi ini juga yang membuat negara semakin terjerat dengan utang. Negeri pemberi utang tentu mengajukan syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi. Hal ini tentu saja akan menurunkan wibawa negeri ini di kancah dunia. Berhutang sama saja dengan membiarkan negeri lain mencampuri kebijakan dalam negeri. Apakah yang demikian ini bisa dikatakan merdeka?

Menjadi Negeri yang Tangguh dan Tumbuh dengan Islam

Momen hari kemerdekaan merupakan momen yang tepat untuk memaknai lagi kemerdekaan yang sesungguhnya. Tidak cukup hanya dengan bersikap sempurna, namun perlu perubahan yang hakiki. Yaitu merubah sandaran mabda sekular kapitalis yang dipakai selama ini ke mabda Islam. Mabda Islam, yang sahih yang berasal dari Sang Maha pencipta .

Islam bukanlah sekadar agama. Islam tidak hanya hanya mengatur masalah ibadah namun juga mengatur hubungan antara manusia dengan sesama. Sistem ekonomi , sistem penyelenggaraan negara, sistem sanksi , sistem pergaulan sosial, dan sistem kehidupan lainnnya telah diatur dalam Islam.

Penerapan Islam secara kafah (dalam seluruh aspek kehidupan) pernah diterapkan semenjak Rasullullah mendirikan Daulah Islam pertama di Madinah hingga kekhalifahan Turki Ustmani. Hampir selama 13 abad Islam diemban sebagai mabda dan terbukti telah membawa kebaikan dan keberkahan. Dalam naungan Islam, Daulah Islamiyah merupakan negara yang tangguh dan disegani.

Dengan sekularisme negeri ini hanya kian terpuruk. Dengan penerapan Islam secara kafah, negeri ini merdeka dari penjajahan kapitalisme. Dengan Islam negeri ini akan tangguh. Dengan Islam negeri ini dan negeri-negeri muslim bisa tumbuh sebagai negara adidaya seperti dahulu.

Pilihan ada di tangan umat, akan kah memperjuangkan kemerdekaan yang sebenarnya atau tetap pasrah hidup dibawah cengkeraman penjajah

Wallahua’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.