Menyoal Pendidikan Vokasi

Oleh: Weni Anggraeni, S.Pd (Pemerhati pendidikan & sosial masyarakat)

Pendidikan di Indonesia sering memiliki inovasi dan gebrakan baru. Beda Presiden beda aturan, beda menteri beda kebijakan, banyak trial and error, siswa jadi kelinci percobaan.

Belum lama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim membuat gebrakan baru. Seperti kampus merdeka dan “pernikahan masal sekolah/kampus dengan industri“. Nadiem bermimpi banyak orang tua yang berlomba-lomba mendaftarkan anaknya masuk SMK.

Di balik itu semua Mendikbud sedang menggalakkan upaya kerja sama dunia industri dengan dunia pendidikan di Tanah Air yang dia ibaratkan dengan perkawinan masal. Perkawinan masal yang dimaksud adalah sebuah simbiosis mutualisme antara sektor pendidikan dan dunia industri. Sektor pendidikan yang akan disasar adalah prodi vokasi di PTN maupun PTS. (theworldnews.net, 27/06/20)

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto mengatakan sekitar 100 prodi vokasi di PTN dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) ditargetkan melakukan “pernikahan masal” pada tahun 2020 dengan puluhan bahkan ratusan industri. (antaranews.com, 27/05/20)

/Kapitalisasi Pendidikan Vokasi/
Para pemangku hajat negeri begitu berambisi dengan semua hal yang berhubungan dengan para kapital. Pendidikan tinggi pun jadi sasaran, kapitalisasi demi keuntungan dunia kerja dan industri. Dalam sistem kapitalis semua aktivitas di dorong atas dasar kepentingan dan keuntungan. Dengan demikian idealisme kampus akan terkikis karena berorientasi pada kepentingan para kapital dan kebutuhan industri. Seharusnya perguruan tinggi mampu mencetak sumber daya manusia yang memiliki ilmu dan keahlian untuk kepentingan negeri bukan memenuhi kebutuhan industri.

Bagaimana bisa mencerdaskan kehidupan bangsa jika sekelas pendidikan tinggi saja kehilangan fungsi dan tujuannya. Semua ini terjadi karena paparan sistem Kapitalisme yang gagal dalam mengatur kehidupan manusia, salah satunya di bidang pendidikan. Maka tak aneh, jika hasil cetakan pendidikan kapitalis adalah mereka yang menghamba pada uang, bekerja agar balik modal.

/Pendidikan Islam Mencetak Generasi Terampil Bertakwa/
Terbukti dalam sejarah, bagaimana keberhasilan Islam dalam pendidikan. Banyak ilmuwan muslim yang menghasilkan karya dan dikenal hingga sekarang. Mereka memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi kehidupan hingga kini.

Tujuan pendidikan Islam yaitu membentuk kepribadian Islam dan membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan masalah kehidupan. Semua ilmu pengetahuan yang lahir dari kurikulum berbasis akidah Islam akan membentuk kepribadian Islam pada peserta didik. Kepribadian Islam merupakan pilar yang akan membentuk kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ).

Dalam Islam, pendidikan memiliki misi mencetak insan yang bertakwa dan melek teknologi. Para ilmuwan berlomba-lomba untuk berkarya, melakukan penelitian agar ilmunya bermanfaat untuk kemaslahatan umat manusia. Karena ilmu yang bermanfaat kebaikannya akan terus mengalir meski seseorang itu telah tiada. Mereka akan menjadi generasi yang mendedikasikan ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk kejayaan umat. Pemikiran seperti ini lahir dari akidah Islam yang sempurna.

Sudah seharusnya pendidikan vokasi tak sekedar berorientasi mencetak generasi siap kerja saja. Tetapi juga harus berorientasi pada akhirat dan kemaslahatan umat. Hanya pendidikan dengan sistem Islamlah yang akan mencetak generasi terampil bertakwa dan menghasilkan karya. wallahu’alam.

One thought on “Menyoal Pendidikan Vokasi

  • 15 Juli 2020 pada 05:40
    Permalink

    Hanya Islam solusi pendidikan vokasi

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *