MENYOAL MINIMNYA RTH DI KOTA BATU

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Fenti Fempirina K.,S.Pd

 

Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Batu dari tahun ke tahun semakin menyusut. Periset Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur Wahyu Eka Setyawan mencatat dalam sembilan tahun terakhir terjadi penurunan ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Batu sebanyak 799 hektare. Pada 2012 silam, total luasan RTH di Kota Batu masih seluas 6.034 hektare. Namun jumlahnya terus menurun hingga saat ini hanya seluas 5.279 hektare. Kini, RTH di Kota Batu hanya di kisaran 12-15 persen saja. Padahal, jika mengacu pada UU Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, RTH suatu kota semestinya berada pada angka 30 persen.

Jika ditelisik, kemerosotan eksistensi RTH ini disebabkan alih fungsi lahan yang dilakukan besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir. Data dari Walhi menguak bahwa Kota Batu sudah kehilangan 348 hektare hutan primer. Lahan-lahan hijau bertransformasi menjadi pusat rekreasi, hotel, perkantoran dan perumahan. Kota yang dahulu beriklim sejuk, kini terasa lebih panas. Kerusakan lingkungan yang terjadi di Kota Batu terbukti telah memicu beragam bencana alam, semisal banjir bandang dan tanah longsor.

Pemerintah seyogyanya mengambil langkah yang tegas dan konkret untuk mencegah kerusakan alam lebih lanjut lagi. Pembangunan yang eksploitatif selayaknya dicegah. Jangan sampai hanya demi keuntungan materi, lingkungan dan kehidupan manusia menjadi korban.

Apalagi sebagai seorang muslim, sudah selayaknya kita turut menjaga dan melestarikan alam serta kehidupan yang telah Allah ciptakan. Bahkan dalam konteks peperangan, Rasulullah saw tetap mewasiatkan kepada para sahabat agar jangan merusak lingkungan,

“….Sungguh saya berwasiat kepadamu dengan sepuluh perkara; jangan sekali-kali kamu membunuh wanita, anak-anak dan orang yang sudah tua. Jangan memotong pohon yang berbuah, jangan merobohkan bangunan, jangan menyembelih kambing ataupun unta kecuali hanya untuk dimakan, jangan membakar atau merobohkan pohon kurma. Dan janganlah berlebihan atau menjadi seorang yang panakut.”

Alam tak sepatutnya digerus habis-habisan demi memenuhi nafsu eksplotatif segelintir manusia. Bukankah kelak yang ingin kita wariskan pada anak cucu adalah mata air bukan air mata. Wallahu’alam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.