Menyoal Banjir di Kalsel

Oleh : Nurul Afifah

 

” Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum :41)

Bencana alam adalah bagian dari ketetapan Allah SWT. Diluar ketetapan Allah, bencana alam juga diakibatkan oleh ulah tangan manusia. Seperti banjir di Kalimantan Selatan bukan disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi, namun juga atas perbuatan tangan manusia (keserakahan korporasi).

Selain curah hujan tinggi yang berdampak dan menjadi penyebab banjir secara langsung, massifnya pembukaan lahan yang terjadi secara terus menerus turut andil dari bencana ekologi yang terjadi di Kalimantan selama ini.

Pembukaan lahan terutama untuk perkebunan sawit terjadi secara terus menerus. Dari tahun ke tahun luas perkebunan mengalami peningkatan dan mengubah kondisi sekitar.

Dilansir dari laman berita Kompas.com, (15/01/2021) Staf Advokasi dan Kampanye Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel, M. Jefri Raharja mengatakan : “Antara 2009 sampai 2011 terjadi peningkatan luas perkebunan sebesar 14 persen dan terus meningkat di tahun berikutnya sebesar 72 persen dalam 5 tahun,” ujarnya.

Direktorat Jenderal Perkebunan (2020) mencatat, luas lahan perkebunan sawit di Kalimantan Selatan mencapai 64.632 hektar.

Untuk jumlah perusahaan sawit, pada Pekan Rawa Nasional I bertema Rawa Lumbung Pangan Menghadapi Perubahan Iklim 2011, tercatat 19 perusahaan akan menggarap perkebunan sawit di lahan rawa Kalsel dengan luasan lahan mencapai 201.813 hektar.

Mongabay melaporkan, 8 perusahaan sawit di Kabupaten Tapin mengembangkan lahan seluas 83.126 hektar, 4 perusahaan di Kabupaten Barito Kuala mengembangkan sawit di lahan rawa seluas 37.733 hektar, 3 perusahaan sawit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dengan luasan 44.271 hektar, 2 perusahaan di Kabupaten Banjar dengan lahan sawit seluas 20.684 hektar, kemudian, di Kabupaten Hulu Sungai Utara ada satu perusahaan dengan luas 10.000 hektar dan di Kabupaten Tanah Laut mencapai 5.999 hektar.

Selain untuk perluasan perkebunan sawit, pembukaan lahan juga untuk perluasan lahan pertambangan.

Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mencatat terdapat 4.290 Izin Usaha Pertambangan (IUP) atau sekitar 49,2 persen dari seluruh Indonesia.

Berdasarkan laporan tahun 2020 saja sudah terdapat 814 lubang tambang milik 157 perusahaan batu bara yang masih aktif bahkan ditinggal tanpa reklamasi, belum lagi perkebunan kelapa sawit yang mengurangi daya serap tanah.(Suara.com, 15/01/2021).

Inilah kebobrokan sistem kapitalis sekuler bekerja . Sistem kapitalisme yang berasaskan materi melahirkan keserakahan . Hutan dialih fungsikan sebagai lahan sawit dan tambang yang berorientasi pada keuntungan semata. Akibatnya akar-akar pohon yang membantu mengikat dan menyimpan air hujan berkurang, sehingga dapat memperparah bencana di kondisi cuaca ekstrem.

Keserakahan inipun didukung adanya izin dari penguasa untuk korporasi mengeksploitasi SDA, salah satunya hutan. Penguasa mempermudah korporasi mengeksploitasi SDA dengan dalih mengejar pertumbuhan ekonomi yang akan menghantarkan kesejahteraan rakyat. Bukannya sejahtera, rakyat semakin menderita akibat kebijakan pemerintah . Pasalnya, rakyatlah yang menjadi korban bencana yang ditimbulkan akibat keserakan penguasa.

Jadi banjir di Kalsel bukan disebabkan hanya intensitas hujan yang tinggi, namun disebabkan juga oleh manusia yang mengeksploitasi alam secara ugal-ugalan .

Hutan, dalam islam termasuk harta kepimilikan umum . Harta kepemilikan umum haram dikelola oleh perorangan atau swasta. Rasulullah SAW bersabda : ” Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara, yaitu padang rumput/hutan, air, api. (HR. Abu Dawud).

Hutan wajib dikelola oleh negara . Hal ini akan menjauhkan dari aspek eksploitatif dalam pemanfaatan sumber daya alam yang akan menguntungkan segelintir orang .

Eksplorasi kekayaan alam tidak boleh sembarangan dalam islam. Manusia boleh mengambil manfaat dari alam hanya sebatas untuk pemenuhan hidupnya . Bukan mengeksplorasi sesuka hatinya, hingga dapat menimbulkan kerusakan alam yang akan berdampak bencana. Begitulah aturan islam dalam eksplorasi alam , alam boleh dimanfaatkan sebatas pemenuhan kehidupan bukan untuk pemenuhan nafsu kekuasaan.

Wallahu’alam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *