MENYINGKAP LEMBARAN KEMBANGKITAN YANG TERLUPAKAN DAN DISEMBUNYIKAN

Oleh: Azhary Ideologis (Mahasiswa asal Indonesia di Universitas Al Azhar, Mesir)

Keresahan ummat Islam terhadap kondisi negeri-nya di masa-masa pasca runtuhnya Daulah Ustmaniyyah menjadikan para pemikir, penulis, sastrawan, ulama, dan tokoh-tokoh besar tak mau mengambil sikap diam untuk mengungkapkan kebusukan para penjajah yang ingin menguasai negeri kaum Muslimin dengan menanamkan slogan-slogan, pemikiran dan tawaran-tawaran yang pada hakikatnya hanya ingin menjatuhkan kewibawaan Islam dan kedigdayaan negaranya.

Dalam hal ini, para penyair Islam juga mengambil andil dengan mendengungkan syair-syair untuk membongkar tabiat serta ketamakan para penjajah dengan menjelaskan serta mengobarkan semangat kepada Ummat Islam untuk terus melawan berbagai bentuk penjajahan, baik fisik maupun pemikiran.

Berbagai slogan yang dikampanyekan para penjajah yang seakan-akan membawa kebangkitan, seperti pemujaan terhadap kebebasan, hak asasi manusia, persaudaraan atas dasar kemanusiaan, perdamaian internasional, demokrasi dan lain sebagainya tak lain hanya menambah penderitaan Ummat Islam dan justru menjerumuskan mereka pada berbagai malapetaka serta konspirasi para penjajah.

Oleh karena itu syair-syair Islami yang mereka buat tak lain merupakan bentuk pengungkapan atas ketidakrelaan akan penjajahan ini. Mereka tahu, bahwa penjajahan itu tak lain bertujuan untuk meraup kekayaan alam ummat Islam, menghapuskan sisa-sisa peradaban Islam dan melenyapkan jati diri Islam, juga memecah belah dan mencerai beraikan tubuh ummat dengan meruntuhkan Khilafah Islamiyah yang berpusat di Turki dari kekuasaannya yang membentang sangat luas. Negara adidaya ini pun disekat-sekat menjadi negeri-negeri kecil yang begitu banyak.

Syair-syair Islam ini tidak hanya dimaksudkan untuk menentang penjajahan saja, tapi juga melucuti segala bentuk westernisasi. Dengan syair itu mereka menyerang dengan keras berbagai macam ideologi buatan manusia yang pada hakikatnya penuh kecacatan dan tak akan bertahan lama, seperti marxisme, komunisme, dan kapitalisme.

Tersebutlah seorang penyair, yang karyanya diabadikan dalam buku Majmumah Du’at Al Islamiyah karangan Ahmad Muhammad Shadiq. Dikatakan dalam sebuah kitab, bahwa penyair ini memiliki jiwa revolusioner, kata-kata dalam bait syairnya menentang dengan penuh keyakinan ketika melihat Islam semakin dicampakkan :

يا دعوة الحق سيري رغم أنفهم

Wahai seruan kebenaran, melangkahlah meski melawan kehendak mereka

وجلجلي في الورى فخرا و إيمانا

Berteriaklah kepada manusia dengan penuh kebanggan serta keimanan!

لن نستكين المغرور يحاربنا

Kita tak akan tenang dengan penipu arogan yang memerangi kita

مهما تطاول إلحادا ونكرانا

Walaupun ia (penipu) itu terus-menerus dalam kekufuran dan keingkaran

قالوا : العروبة، قلت : دين محمد

Mereka berkata : Arabisme (Nasionalisme Arab), tapi aku katakan : Agama Muhammad

إنا به لا بالعروبة نهتدي

Sesungguhnya hanya dengan agama itu kita mendapatkan petunjuk, bukan malah dengan Arabisme

هي قالب الإسلام إما أفرغت

Sungguh Arab itu hanya sebagai acuan Islam, namun jika ia (Arab) kosong dari Islam

منه فقد صارت مطية ملحد

Maka ia tak lain akan menjadi tunggangan orang kafir

يا من يريد الجاهلية منهجا

Wahai siapapun kalian yang menginginkan hukum jahiliyah sebagai sistem (manhaj kehidupan)

يدعو إليه والسوء المرود

Yang ia serukan, maka sungguh itu seburuk-buruknya rujukan

أيقال إنك نابه متقدم

Apakah (dengan menggunakan sistem Jahiliyah), engkau akan dikatakan orang yang cerdik dan maju

كذبوا عليك لقد نصحتك فاقعد

Ah, mereka telah berdusta kepadamu. Maka aku sungguh telah menasehatimu, maka sadarlah!

بل أنت في رجعية مذمومة

Yang ada kamu malah akan mengalami kemunduran penuh kehinaan

وتقهقر نحو المتاه الأبعد

Kamu pun akan merosot menuju kelinglungan yang semakin jauh

Ini hanya salah satu contoh syair yang tak lain untuk membuat opini di tengah ummat, agar menjadi sadar dan terguncang perasaanya ketika melihat penjajahan terus menggerus tubuh ummat ini. Dengan begitu mereka, terutama orang-orang Arab bisa memahami, bahwa kemerdekaan yang dijanjikan oleh para penjajah dengan mengkotak-kotakkan wilayah Islam itu hanyalah kemerdekaan semu. Bukan sekedar tak akan membawa kemajuan apalagi kebangkitan, namun lebih dari itu, tak lain hanya ingin menjadikan umat ini semakin lemah ketika tidak berada dalam satu naungan yang dipimpin oleh kekuasaan Islam, sebagaimana yang Rasulullah wariskan.

Syair itu mengisyaratkan bahwa adanya pemikiran nasionalisme yang bercokol di tubuh ummat Islam saat ini tak lain adalah produk yang sudah laku dan akhirnya dengan bangga ummat Islam pun mengadopsinya. Mereka pun lupa, bahwa sejak Islam ini diturunkan, maka Allah melalui lisan Rasul-nya telah menghapuskan ikatan kekeluargaan dan kebangsaan apalagi kemanfaatan belaka untuk mengikat manusia dengan yang lainnya. Kemudian menjadikan ikatan diantara mereka hanya dibangun atas dasar aqidah. Ikatan inilah yang dibangun atas keimanan serta kecintaan pada Allah. Ketundukkan terhadap syariat Islam, dan mendahulukan apapun yang Allah perintahkan daripada sekedar mengutamakan eksistensi serta kepentingan keluarga, kaumnya, bangsanya.

Ikatan yang dibangun atas dasar kekeluargaan atau kebangsaan adalah ikatan yang lemah, yang tak lain lahir dari naluri baqa’ (eksistensi diri), sehingga ikatan tersebut akan bersifat lemah, relatif, mudah pudar, dan akan muncul hanya saat ada ancaman.

Dalam Al-quran surat At-Taubah ayat 24 Allah berfirman :

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَاۤؤُكُمۡ وَأَبۡنَاۤؤُكُمۡ وَإِخۡوَ ٰ⁠نُكُمۡ وَأَزۡوَ ٰ⁠جُكُمۡ وَعَشِیرَتُكُمۡ وَأَمۡوَ ٰ⁠لٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةࣱ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَاۤ أَحَبَّ إِلَیۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادࣲ فِی سَبِیلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ یَأۡتِیَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا یَهۡدِی ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَـٰسِقِینَ

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri dan kaum keluarga kalian dan harta kekayaan yang kalian usahakan dan perniagaan yang kalian khawatir kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”

Ayat ini turun setelah Allah memerintahkan kepada Kaum Muslimin untuk hijrah ke Madinah, namun ada beberapa kaum Muslimin yang berada di Makkah masih berat untuk meninggalkan istrinya, anaknya, keluarganya, harta dan tempat tinggal mereka. Sehingga Allah menegur dengan ayat ini. Bahwa perintah-Nya, yaitu hijrah dan jihad adalah cinta yang harus didahukulan dari segalanya.

Ayat ini memberikan banyak pelajaran kepada kita akan kisah para muhajirin. Pertama, mereka harus meninggalkan keluarganya, istri, dan anaknya jika mereka masih bertahan pada kekufuran, walaupun merasa iba, tidak tega dan masih ada rasa cinta pada keluarganya.

Kedua, mereka juga harus meninggalkan harta serta perniagaan yang sudah mereka miliki, walaupun disana ada manfaat yang sangat banyak dan keuntungan yang bergelimang.

Ketiga, mereka juga harus meninggalkan tanah kelahiran. Meninggalkan kaum dan semua kerabatnya di tanah airnya. Mencintai kampung halaman adalah suatu yang naluriah. Namun, karena perintah Allah untuk berhijrah dalam rangka agar dapat menerapkan syariat Islam secara sempurna, maka mereka rela menanggalkan semua ikatan baik kekeluargaan dan kebangsaan, dan karena ketundukkan pada Allah serta Rasul-Nya mereka pun mau diikat dan dipersatukan karena aqidah, kemudian tergeraklah langkah mereka untuk hijrah.

Karena di Madinah lah, Rasulullah bisa mendirikan Negara Islam. Dengan begitu syariat Islam bisa diterapkan secara kaffah, persatuan ummat di bawah panji Islam bisa terwujud, dan da’wah serta jihad bisa terus dilaksanakan tanpa henti. Melakukan futuhat (pembebasan) ke berbagai wilayah dalam rangka menebarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin dengan menghapuskan segala bentuk perbudakan serta peribadatan kepada makhluk menjadi hanya kepada khaliq.

Inilah salah satu faktor terbesar kebangkitan Ummat Islam. Persatuan sebagimana yang diajarkan Rasulullah itu tak lain akan menguatkan barisan Kaum Muslimin, dan akan membuat musuh Islam gemetar. Pemahaman inilah yang sengaja Barat jauhkan dari benak Kaum Muslimin, kemudian mereka menjejalkan paham nasionalisme yang akan menjadikan ummat ini lupa, bahwa hakikat kemerdekaan dan kebangkitan serta terlepasnya dari cengkraman mereka adalah dengan persatuan.

Kenapa disembunyikan? Karena opini serta syair diatas dikutip dari sumber diktat kuliah yang sengaja dilewatkan dari materi pengajaran di kelas. []

Cairo, 31 Oktober 2019

(Sumber : Kitab Muqaarar Al-Adab, Semester 4, Tahun 2, Jurusan Ushuluddin, Fakultas Dirasat Islamiyyah wal ‘Arabiyyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *