Menyikapi Wabah Sebagai Berkah

Oleh: Binti Muzayyanah (Indramayu)

Seminggu sudah Ramadhan ada di tengah kita. Itu berarti kita sedang ada di sepuluh hari yang awal di bulan suci ini, yang menjadikan Ramadhan sebagai rahmat bagi manusia. Sebagaimana hadits Rasulullah menjelaskan bahwa Ramadhan itu awalnya adalah rahmat, tengahnya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.

Sungguh rahmat Allah di awal Ramadhan ini sangat terasa. Selama sepekan ini setiap menjelang sahur bahkan kadang sampai pagi harinya ditemani hujan, meski kadang hanya rintik kecil, gerimis, hingga hujan ringan. Insan beriman memahami hujan adalah rahmat dari Allah. Di saat itu adalah waktu yang mustajabah untuk berdoa. Begitu pula waktu sahur, juga merupakan waktu mustajabah untuk berdoa. Maka saat sahur ditemani hujan, berlipat ganda lah ke-mustajabah-an waktu ini untuk berdoa.

Ramadhan bulan mulia, bulan istimewa. Allah lebihkan bulan ini dari bulan-bulan lainnya. Di bulan ini Allah membuka pintu surga selebar-lebarnya, dan menutup pintu neraka serapat-rapatnya. Allah lipat gandakan pahala kebaikan, pintu ampunan dibukakan lebar-lebar, peluang kebaikan begitu besar, dan peluang keburukan diminimalkan. Belum lagi di 10 hari terakhir Allah turunkan Lailatul Qadar, satu malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Maasyaa Allah. Alangkah ruginya manusia jika tak memanfaatkan bulan ini untuk memperbanyak kebaikan di dalamnya.

Di bulan istimewa ini pula Allah syariat amalan istimewa untuk insan beriman. Puasa sebagai amalan utama di bulan ini, merupakan amalan yang istimewa. Sebagaimana hadits Rasulullah menjelaskan bahwa amalan ibadah manusia itu untuk manusia, kecuali puasa, dia untuk Allah, dan Allah pula yang akan menentukan balasannya.

Lebih istimewa lagi Ramadhan tahun ini bertepatan dengan terjadinya wabah Covid-19 yang melanda dunia. Dimulai dari serangan pertama di Wuhan China sejak akhir tahun 2019 lalu, kemudian menyebar ke seluruh dunia melalui pergerakan manusia. Hingga kini sudah 5 bulan serangan wabah belum nampak akan berakhir.

Di negara +62 sendiri wabah ini direspon dengan penerapan social/phisycal distancing, work from home, dan stay at home, meski respon ini dinilai lambat. Dan yang terakhir diberlakukan PSBB di wilayah-wilayah tertentu. Walhasil masyarakat muslim negeri ini menjalani puasa Ramadhan dalam situasi pandemi.

Situasi pandemi ini berdampak pula dalam suasana umat muslim dalam menyambut dan menjalankan ibadah di bulan mulia ini. Sholat tarawih yang biasanya ramai diselenggarakan di masjid-masjid atau surau-surau dengan berjamaah, kini tak dianjurkan. Ibadah tarawih disarankan diselenggarakan di rumah masing-masing.

Untuk saya pribadi, menjalani puasa Ramadhan dalam kondisi WFH, sangat menguntungkan saya untuk mengisi hari-hari Ramadhan dengan berbagai amal shalih.

Sebagai seorang pengajar yang seringkali harus berbicara dengan keras saat menjalankan tugas, maka puasa dalam situasi kerja seringkali terasa berat. Apalagi dengan masalah pencernaan yang ada, maka bicara keras seringkali berdampak pada perut yang merasakan mual dan kepala pusing hingga membuat badan tak nyaman. Maka dengan ditiadakannya kegiatan belajar mengajar di sekolah, membuat saya bisa menambah aktivitas yang bermanfaat sebagai bekal akhirat.

Meski wabah ini telah menyulitkan hidup manusia, berdampak buruk dalam banyak hal, terutama ekonomi, namun kita pun bisa menyikapi wabah ini dengan sikap positif. Menerima datangnya wabah sebagai qadha Allah dan tawakkal kepada Allah merupakan sikap pertama yang harus muncul pada insan beriman. Tentu diiringi dengan berbagai upaya untuk mengatasi dampak yang timbul akibat wabah.

Sikap positif selanjutnya yang harus diwujudkan adalah kreatif dan inovatif dalam menjalani hari-hari Ramadhan saat ini. Dengan banyaknya waktu diam di rumah, kita bisa mengoptimalkan waktu kita untuk memperbanyak berbagai amal shalih.

Banyak amal shalih bisa kita lakukan. Membaca Alqur’an, mendalami dan menghafalnya, menjaga shalat wajib dan sunnahnya, mengkaji berbagai tsaqafah Islam, memperbanyak shadaqah dll. Apalagi saat pandemi ini banyak kajian online bisa diikuti. Maka dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk memperbanyak kebaikan, menjadikan wabah ini sebagai berkah dan anugerah. Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *