Menuju Era Baru yang Gemilang

Oleh : Nur Aisyah

Mulai Juni ini pemerintah mulai memberlakukan new normal life atau hidup normal baru. Pemerintah membuat kebijakan ini dengan tujuan untuk membuka kembali aktifitas yang sempat terhenti akibat wabah covid-19. Seperti membuka kembali perkantoran, pabrik, mall, pasar dan sekolah.

Kebijakan baru ini menuai pro dan kontra. Yang pro beranggapan perlu kembali beraktifitas seperti sedia kala karena jika terus terhenti akan mengakibatkan krisis ekonomi. Sedangkan yang kontra menilai kebijakan ini terlalu gegabah karena wabah masih berlangsung.

New normal life sendiri telah lebih dulu diterapkan oleh negara lain yaitu Korea Selatan. Pemerintah Korsel telah berhasil menekan kasus covid-19 dibawah 50 kasus perhari bahkan pernah nol kasus dalam sehari. Namun setelah memberlakukan new normal ternyata ditemukan kasus baru, gelombang corona kedua terjadi. Salah satu tempat sebarannya terjadi di sekolah.

Bagaimana dengan Indonesia? Jika melihat grafik, yang positif covid masih tinggi bahkan menjelang lebaran, orang yang terjangkit hampir seribu orang dalam sehari. Inilah yang menjadikan publik was was jika semua aktivitas kembali seperti dulu. Akan memudahkan virus makin menyebar dengan liarnya. Bakal ada banyak korban baru. berbagai kalangan menilai kebijakan new normal ini terlalu dipaksakan. Condong kepada pelaku usaha dibanding menyelamatkan nyawa rakyat. Bercermin kepada Korsel yang selama 2 bulan kasus sudah turun saja, ternyata ketika melonggarkan pembatasan sosial mengalami kenaikan kasus lalu bagaimana nasib negeri ini jika diberlakukan hal yang sama padahal kurva masih terus naik.

Ditengah wabah yang masih menghantui rakyat, penguasa acap kali membuat publik geram dengan segala peraturannya yang melawan arus, seperti menaikan bpjs, membebaskan puluhan ribu narapidana, memotong gaji karyawan dengan PP Tapera, tidak menurunkan BBM padahal minyak dunia anjlok, impor TKA hingga impor buah dan sayuran. Dan berbagai kebijakan yang syarat akan kepentingan tertentu. Rakyat dibuat babak belur, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Inilah wajah buruk demokrasi. Sistem ini gagal menangani pandemi. Bahkan terkesan mengambil kesempatan diatas derita rakyat dengan berbagai kabijakannya. Carut marut peraturan yang dihasilkan hanya menambah masalah diatas masalah. Inkonsistensi dalam mengambil keputusan yang kerap kali melenceng dari sebelumnya malah membuat masalah semakin besar seperti diberlakukan PSBB tapi dibuka bandara, jadilah cluster baru penyebaran covid. Sistem rusak yang merusak tak lagi harus dipertahankan toh sudah terlihat akan kehancurannya. Tinggal menunggu waktu. Inilah saatnya beralih kepada sistem yang berasal dari sang pencipta manusia. Sistem yang sudah terbukti dalam sejarah pernah menjamin perlindungan bagi rakyatnya, tanpa membedakan status sosial, agama dan ras. Sistem yang melahirkan pemimpin amanah, yang bersinergi antar keimanan dan pengetahuan. Sebutlah sosok Khalifah Umar bin Khattab yang terkenal akan kepemimpinanya. Beliau sangat apik dalam mengatasi wabah yang terjadi dibawah kepemimpinannya. Dimana beliau membuat kebijakan dengan mengisolasi tempat terserangnya wabah agar tak menyebar ke wilayah lain dan menjamin kebutuhan pangan rakyat yang diisolasi agar tak ada yang mengalami kelaparan. Hanya butuh waktu 1 bulan, wabah pun sirna. Masya Allah. Tanpa menghitung untung rugi, yang penting nyawa rakyat terselamatkan.

Pemimpin yang dirindukan itu akan hadir hanya jika diterapkan Islam secara kaffah. Rasulullah bersabda :
“Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada.¬† Selanjutnya¬† akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad)

Janji Allah pasti. Kemenangan segera tiba. Kegemilangan hidup hanya bisa diraih dengan menerapkan aturan Allah. Berjuanglah tanpa kenal lelah. Terus suarakan kebenaran. Karena kebenaran pasti menang. Allahu Akbar!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *