Menuai Berkah Ramadhan Ditengah Pandemi

Oleh : Netty Susilowati,SPd (Guru Sekolah Tahfidz Plus Khoiru Ummah Malang)

Sebentar lagi Ramadhan menjelang. Bulan penuh berkah. Bulan Pengampunan. Sebagaimana sabda Rasulullah :

“Telah datang untuk kalian bulan yang penuh berkah, dikirim ke kalian ibadah puasa…”(HR Ahmad)

Ramadhan kali ini berbeda dengan Ramadhan-ramadhan sebelumnya. Ditengah kondisi pandemi covid19,kita dilarang berkumpul di masjid, harus berdiam diri di rumah, menjaga jarak bahkan juga dengan kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Virus Corona yang kecil, mampu memporakporandakan dunia. Dunia seolah bertekuk lutut dihadapannya. Tidak hanya di Indonesia, bahkan sekelas Negara Adidaya Amerika Serikat dan Chinapun kewalahan menghadapi virus ini. Laa haulawa laa quata illa billah. Semakin bertambah keyakinan dan keimanan kita, bahwa hanya Allah yang memiliki kekuatan penuh. Yang mampu membalikkan keadaan hanya dengan satu jentikan.

Musibah yang silih berganti dan yang sedang kita hadapi, sebenarnyan telah diperingatkan Allah dalam firmanNya :

ظهر الفساد في البر والبحر بما كسبت أيدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Ruum, 30: 41)

Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Muhamad Ali Ashabuni dalamkitab “Shafwah at Tafasir” Maksud “bi maa kasabat ayd an-nas” (karena tangan-tangan manusia) adalah “bi sababi ma’ashi an-nas wa dzunubihim” (karena kemaksiatan dan dosa-dosa manusia)

Apakah maksiat itu? Apakah hanya mencuri, berzina, mabuk-mabukan? Maksiat adalah setiap bentuk kemungkaran (pelanggaran) terhadap hukum Allah, yakni melakukan keharaman dan meninggalkan kewajiban. Setiap kemaksiatan akan menimbulkan dosa. Setiap kemungkaran terhadap hukum Allah pasti menimbulkan fasad (kerusakan).

Hari ini, sudah berapa hukum-hukum Allah yang kita tingalkan? Mungkin kita masih sholat, puasa, zakat, menjaga makanan halal, berinfaq, bahkan menambah dengan amalan nafilah yang lain. Tetapi bagaimana dengan seruan Allah dalam surat Al Baqarah 178? Yang seruannya persis sama dengan kewajiban puasa di surat Al Baqarah ayat 183? Bagaimana dengan hukum pergaulan dalam Islam? Bagaimana dengan hukum ekonomi dalam Islam? Bagaimana hukum sanksi peradilan dalam Islam? Apakah semua sudah kita terapkan? Belum ada satupun dari sistem itu yang kita terapkan.

Padahal Allah memerintahkan kita dalam Qur’an Surat Al BAqarah ayat 208 untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah :

• دْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

“Masuklah kalian ke dalam Islam (kedamaian) secara penuh” (QS al-Baqarah:208)

Al Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, Adh Dhahak, Qatadah As Suddi dan Ibnu Zaid, yaitu menafsirkan kata silmi adalah Islam. Sementara kata Kaffah, Ibnu Abbas, Mujahid, Abu Al Aliyah, Rabi’ bin Anas, As Suddi, Qatadah, Adh Dhahak menyatakan kaffatan adalah jami’an yang artinya keseluruhan. Imam Mujahid mengatakan tafsir dari surat ini adalah kerjakan semua amal sholih dan segala macam kebajikan. Jadi, mereka semua yang masuk Islam, diperintahkan untuk mengerjakan semua cabang ilmu dan syariat Islam yang jumlahnya sangat banyak.

Jadi, saat ini,menjelang Ramadhan Mubarak, pada akhir Sya’ban yang agung, kita bisa menyiapkan diri untuk menjadikan Ramadhan tahun ini lebih berkah ditengah pandemi. Beberapa hal yang bisa kita lakukan diantaranya :

1. Menyadari kemaksiatan dan segera bertaubat
Saat ini, kita belum terikat pada hukum Allah secara kaffah. Ini adalah satu bentuk kemaksiatan. Saatnya kita bertobat, atas kelemahan diri yang belum bisa terikat dengan Islam. Meskipun sebenarnya ada sebuah kerinduan untuk melaksanakannya.

2. Berupaya terikat dengan hukum Allahsecara kaffah
Hukum-hukum Allah yang bisa kita laksanakan dengan mandiri kita laksanakan. Misalnya sholat, puasa, menutup aurat, berakhlaq baik dansebagainya. Hukum-hukum yang lain yang belum kita ketahui saatnya kita mempelajarinya.

3. Mempelajari Islam kaffah
Beberapa hukum-hukum di dalam Islam bisa jadi kita belum mengetahuinya. Atau bahkan banyak yang belum kita ketahui. Karena Islam memang mengatur seluruh aspek kehidupan. Dari hal-hal kecil hingga besar. Dari urusan rumah tangga hingga pemerintahan. Dari kamar mandi hingga luar negeri. Jadi, di ramadhan berkah ini,saat kita hanya bisa berdiam diri dirumah, mari kita senantiasa haus ilmu Islam dan semkain bersemnagat mendalami Islam meskipun sambil rebahan.

4. Bersegera berupaya menegakkan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Saat ini belum ada sisitem Islam. Jadi mari kita bergabung bersama kaum muslimin yang lain yang saaat initengah berjuang berupaya menerapkan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Selagi ada kesempatan, dan nyawa masih dikandung badan. Kita tidak tahu kapan wabah ini akan berakhir. Kita tidak tahu bagaimana kondisi kita ke depan. Selagi masih ada kesempatan mari bersegera menuju syariah Islam. Karena hanya dengan syariah Islam, Indonesia berkah. Tidak hanya Indonesia, tetapi juga Dunia berkah dengan Syariah Kaffah. _Wa ma taufi illa billah._

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *