Menjual Gengsi Bukan Kontroversi

Oleh: Tawati (Pelita Revowriter Majalengka)

Terhitung 1 Januari 2020 kemarin pemerintah resmi memberlakukan kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT). Imbasnya, harga rokok naik mulai hari ini.

Keputusan menaikan harga rokok sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 152/2019 di mana diatur kenaikan cukai beberapa jenis rokok. Secara umum cukai rokok naik sebesar 23% dan harga jual eceran (HJE) sebesar 35%. (Radar Cirebon, 1/1/2020)

Rokok, benda satu ini masih menjadi perdebatan. Baik dari sisi kesehatan, hukum agama, hingga identitas yang menyertainya. Kalangan medis berpendapat, rokok adalah biang racun. Ulama ada yang berpendapat, merokok itu makruh hingga haram.

Apalagi bagi kaum Adam, rokok itu masih ditasbihkan sebagai simbol kejantanannya. Meski ada kaum hawa yang mungkin menilai lebih jika kelak calon suaminya bukan perokok. Karena yang mereka harapkan dari suaminya kelak adalah konsistensinya menjaga agar dapur tetap ngebul, bukan mulut yang ngebul!

Rokok itu bagi lelaki. Mungkin ada yang pernah bersoloroh, kalau lelaki tidak merokok itu banci. Soalnya, opini yang dikampanyekan iklan rokok selalu menempelkan sifat macho, jantan, petualang, tangguh, cool, calm, confident dan seabrek sifat kelelakian lainnya.

Walhasil, rokok itu selalu identik dengan makhluk yang berjenis kelamin lelaki. Makanya kalau ada pejantan tidak ngebul bibirnya, dianggap banci. Padahal faktanya tidak juga. Karena sekarang tidak sedikit wanita yang juga merokok. Bahkan lelaki jadi-jadian alias banci atau wanita jelmaan alias waria, banyak juga yang suka merokok. Jadi merokok tidak ada kaitannya dengan gender alias jenis kelamin. Karena merokok itu suatu perbuatan yang bisa dipilih siapapun untuk dikerjakan atau tidak.

Entah itu oleh lelaki atau wanita. Kalau pun sikap kelelakian yang selalu digambarkan dalam iklan tembakau giling itu seolah milik lelaki, itu hanya kerjaan para produsen dan tukang iklan saja. Biar produknya laku. Mereka menjual gengsi, bukan produk rokok yang cenderung kontroversi. Karena tidak setiap perokok itu lelaki jantan dan pemberani. Sebaliknya, lelaki yang tidak merokok bisa jadi lebih jantan dan pemberani.

Itu mitos palsu. Apa alasan mereka merokok? Sigmund Frued, pakar psikoanalisis Barat ini pernah berkata “merokok adalah salah satu kesenangan yang paling hebat dan paling murah dalam hidup”. Pernyataan freud ini perlu dikoreksi, karena faktanya semakin kesini, harga rokok bukan semakin murah. Tapi itu pun tidak membuat para perokok jera untuk menikmati rokok. Dan kalau benar merokok itu salah satu bentuk kesenangan, maka bisa dipastikan bahwa para perokok itu merokok just for fun.

Apalagi kalau mau jujur, apa yang didapatkan dari rokok? Rokok itu tidak bisa dikategorikan makanan, karena memang faktanya tidak mengenyangkan. Rokok hanya berisi asap yang dihirup lalu dikeluarkan lewat hidung atau mulut, hanya itu saja. Kalau pun ada yang membuat puas perokok ketika menikmati rokok adalah rasa gengsi, keren, gentle, mungkin itu saja alasan yang tersisa. Maka pertimbangkan dengan baik, apa alasan bertahan menjadi perokok?

Jika itu sebuah perbuatan, maka para ulama juga sudah banyak mengkategorisasikan hukum rokok dalam Islam. Ada ulama yang menghukumi mubah ada juga yang makruh, bahkan ada yang mengatakan haram. Tidak perlu bicara lagi untung-rugi dari merokok. Sebagai muslim pertimbangan kita adalah hukum atau syariat. Jika sudah ada yang menghukumi haram, atau makruh, maka segera saja tinggalkan. Kalau pun merokok itu berstatus sebagai sebuah perbuatan mubah, maka merokok adalah perbuatan yang sia-sia. Dan kalau itu perbuatan yang sia-sia, perhatikan sabda Nabi saw. “Di antara ciri kebaikan seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)

Tapi ingat, kalau pun meninggalkan rokok bukan karena ada untungnya, biar disukai wanita, itu salah besar. Bagi kaum Adam meninggalkan merokok bukan karena wanita, bisa batil niatnya. Tapi meninggalkan atau tidak merokok, benar-benar karena Allah. Kalau masih saja ada yang ngeyel, sambil berkata “mana bisa meninggalkan rokok”. Maka dengan berani dan tegas, kita katakan bahwa ini hanya soal pilihan saja. Mau atau tidak, bukan bisa atau tidak bisa. Wallahua’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *