Menjaga Kewarasan Ditengah Gelombang Kebohongan

Oleh : Anita Rachman (Ibu Pembelajar)

Mengamati timeline facebook, trending topic twitter, storyline instagram hingga headline-headline media mainstream rasanya cukup mengaduk-aduk emosi. Amarah, sedih, bahkan terpancing suasana kadang tak terelakkan. Semakin hari permusuhan terhadap Islam terasa semakin masif dan kuat, mulai dari kriminalisasi ulama, intervensi para aktivis dakwah, stigma negatif ajaran-ajaran Islam, sampai pada penghinaan, pelecehan, penistaan pada Alquran yang suci dan Rasulullah S.A.W yang mulia.

Banjirnya informasi di media dengan beragam bentuk dan motif, menjebak kita masuk ke dalam zaman disrupsi informasi, yaitu sulitnya membedakan mana informasi yang benar dan mana yang salah. Masyarakat awam yang belum memiliki banyak ilmu dan pemahaman tentang sesuatu yang diberitakan, kerap menjadi korban dari penggiringan opini yang sengaja diciptakan untuk tujuan tertentu. Bisa dibayangkan akan terjadi kebingungan dan kekacauan, bahkan konflik horizontal karena masing-masing pihak mempertahankan pendapat berdasar informasi yang dipercaya.

Jika kita mengamati fakta yang terjadi hari ini, siapa sebenarnya yang punya andil besar menyebarkan kebohongan? Benarkan hanya oleh individu atau sekelompok orang saja? Bagaimana dengan pemerintah sendiri? Tentang janji-janji kampanyenya yang tidak ditepati? Tentang sikap pemerintah yang dengan mudah melabeli teroris, radikal, intoleran sehingga tercipta opini negatif terhadap kelompok yang dianggap berbeda? Tentang upaya pemerintah menghapus materi khilafah dan jihad dari kurikulum sekolah? Apakah semua itu tidak disebut sebagai sebuah kebohongan? hasut? dusta? fitnah?
Kita lihat satu kasus saja, impor beras, jelas Jokowi berjanji akan stop impor pangan jika terpilih menjadi presiden di periode pertama, tahun 2014 lalu.

Buktinya, 2 juta ton lebih beras diimpor selama tahun 2018 dan 20 ribu ton terpaksa dibuang karena membusuk. Belum komiditi lain yang juga gencar diimpor. Belum masalah-masalah seperti; penjualan aset-aset BUMN, eksploitasi Sumber Daya Alam oleh korporasi asing, menjulangnya angka hutang. Masalah-masalah tersebut, penangannya jauh dari apa yang pernah dijanjikan.

Berikutnya, begitu mudahnya pemerintah secara sepihak, tanpa diskusi ataupun mediasi, memberikan label kelompok tertentu sebagai teroris, radikal, intoleran, melawan negara, hanya karena mendakwahkan Islam dan penerapan syariatnya secara total. Bahkan 11 kementerian dikerahkan khusus menangani radikalisme. Masjid diawasi, majelis taklim harus terdaftar, PAUD dicurigai, ASN diintimidasi.

Apakah benar kelompok yang diklaim radikal, intoleran dan melawan negara ini terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan kekerasan? merusak fasilitas umum? merugikan negara karena melakukan korupsi? menjual aset negara? mengganggu ibadah penganut agama lain? melakukan tindakan amoral yang merusak dan meresahkan? Jika tidak terbukti, bukankah ini termasuk perkara fitnah? Dampaknya cukup serius, terbentuk opini negatif yang menyesatkan masyarakat dan membahayakan kelompok yang menjadi tertuduh.

Berikutnya, bagaimana dengan menyembunyikan sejarah, dapatkah dikategorikan sebagai kebohongan? Kementerian Agama di sebuah negeri mayoritas muslim, mengeluarkan kebijakan menghapus materi khilafah dan jihad dari kurikulum madrasah, lagi-lagi dengan alasan mencegah radikalisme. Meskipun tak selang berapa lama, Menag Fachrul Razi melunak dan mengatakan hanya akan memindah materi khilafah dan jihad dari fiqih ke bagian sejarah. Apapun dalihnya, kebijakan ini tentu melukai naluri keimanan umat. Khilafah dan jihad merupakan ajaran Islam, warisan agung yang dibawa manusia mulia, Rasulullah Muhammad S.A.W. Apa yang terjadi jika sejarah ini dihapuskan dari pikiran-pikiran generasi masa depan?

Kebohongan dengan segala macam bentuk dan beragam dalih tentu membahayakan banyak pihak, termasuk mengancam persatuan umat. Umat menjadi terkotak dan terpecah karena banyaknya infromasi yang membingungkan bahkan beberapa mengandung fitnah. Dari Abdullah bin Amr bi Ash ra. Bahwa Rasulullah besabda: “Ada empat hal, yang apabila empat hal tersebut terdapat pada diri seseorang maka ia benar-benar orang munafik tulen. Dan apabila ada salah satunya, maka ia memiliki salah satu sifat munafik hingga ia benar-benar meninggalkannya. Yaitu: apabila dipercaya, ia berkhianat, apabila berbicara berdusta, apabila berjanji mengingkari dan apabila bermusuhan maka ia berbuat keji (berlebihan)” (HR. Bukhari Muslim)

Ditengah arus disrupsi informasi yang tidak bisa dihindari, kita harus tetap bisa berpikir waras dan bertindak rasional. Sebagai seorang muslim yang memegang prinsip aqidah yang kokoh, kita dituntut untuk menjadi pribadi yang benar dan amanah dalam menerima, menyaring dan menyampaikan informasi. Dalam sebuah hadist disebutkan: “Cukuplah seseorang disebut pendusta jika ia mengabarkan semua yang ia dengar” (HR. Imam Muslim).

Untuk itu jadilah bagian dari orang-orang yang amanah dengan tidak reaktif dalam menerima informasi. Selalu dahulukan rasa sabar begitu menerima sebuah informasi. Sabar menunggu perkembangan informasi, sabar untuk tidak langsung menyebarkannya kembali, sabar untuk kemudian melakukan cek dan ricek baik dari sumber maupun sisi konten, sabar melakukan konfirmasi dengan mencari informasi pembanding dari beberapa media yang berbeda. Sebelum akhirnya kita memutuskan untuk menyebarkannya kembali jika memang informasi tersebut berdampak pada kemaslahatan umat atau untuk menyadarkan umat akan sebuah kemudharatan.

Selain itu, kita juga harus mempunyai tsaqofah (wawasan) islam yang kuat agar 1) tidak mudah terpengaruh dengan informasi yang beredar, dan 2) mampu berkontribusi dalam dakwah bil qalam, untuk meng-counter opini-opini menyesatkan dengan opini-opini yang shahih, yang haq tentang Islam, agar umat tercerahkan atau setidaknya mempunyai referensi pembanding.

Disadari atau tidak, media sekuler saat ini hanya semakin menjauhkan umat dari tsaqofah Islam, kemudian menjejalinya dengan tayangan yang merusak aqidah. Karena memang semata-mata hanya memikirkan profit dan profit tanpa peduli halal-haram.
Bagaimana dalam sistem Islam ? Media justru berperan besar dalam membangun masyarakat islami yang kuat dan kokoh melalui tayangan-tayangannya. Media juga berperan dalam menyebarkan kemuliaan Islam keseluruh dunia, keagungannya, keadilannya sekaligus menyadarkan masyarakat akan sistem rusak buatan manusia. Terbayang dengan sistem Islam, akan tercipta negara yang kondusif jauh dari hoax dan fitnah yang meresahkan dan membahayakan.

Semakin tak terelakkan lagi kebutuhuan untuk segera diterapkannya aturan Islam secara total, yang mengatur segala lini kehidupan, demi terwujudnya kemaslatan dan keberkahan bagi seluruh umat manusia.
Wallahu’alam bishowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *