Menjadi Model Negara Bagi Dunia Tanpa Khilafah, Mungkinkah?

Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam
(Dosen dan Pengamat Politik dari Kalimantan Utara)

Baru-baru ini media internasional memberitakan tentang adanya cikal-bakal kebangkitan negeri-negeri islam dari keterpurukan. Kesadaran mulai muncul ditengah-tengah pemimpin negeri Islam. Seperti dilansir oleh media Islam India dari pidato yang disampaikan oleh Perdana Menteri Malaysia, Dr.Mohatir Muhammad di Kualau Lumpur. Mohatir menyampaikan bahwa bahwa negeri-negeri muslim mempunyai kapabilitas, kekuatan, dan persamaan untuk saling mengembangkan bangsa masing-masing dan dapat bersaing melawan mereka, tetapi tidak pernah ingin melakukannya.

PerdanaMenteri Malaysia itu membuat pernyataan pada saat berpidato di acara peringatan national ke 58 tahun The Muslim Welfare Organization of Malaysia (Perkim) pada Rapat Tahunan di hari Sabtu, 30 November. Mohatir juga mengatakan bahwa ia sangat kecewa karena ada 52 negeri muslim di dunia dan tidak satupun terkatgori sebagai sebuah Negara berkembang. Bahkan ia mempertanyakan dengan total 52 negeri muslim di dunia ini, tidak satupun dari semuanya terpikir menjadi sebuah Negara berkembang, apakah hal ini larangan dari agama Islam sehingga ummat tidak maju –maju? Dengan kata lain ia menegaskan apakah kondisi ummat Islam yang tidak maju hari ini karena tidak dizinkan untuk berkembang oleh ajaran Islam?

Mohatir Muhammad berharap ia dapat menjelaskan dan mengkalrifikasi bahwa sesungguhnya ummat Islam mampu bersaing dengan Negara maju (Barat). Ia mengatakan bahwa ummat Islam Kita sama dengan orang lain (Negara berkembang. Dalam artian pada kemampuan untuk berfikir tetapi hari ini ummat Islam tidak menggunakan berkah keistimewaan ini yang telah diberikan oleh Allah swt pada keragamaan yang selayaknya. Sebuah Keragaman yang memberikan kesempatan dan kemungkinan untuk kita untuk melindungi (Islam).

Perdana Meneteri Malaysia itupun memberikan perbandingan terdekat antar Hongkong dan Malaysia. Ia merasa kecewa untuk maju seperti Hongkong pun, Malaysia tidak mampu. Kemudian ia menutup pidatonya dengan mengatakan bahwa kelemahan ummat Islam hari ini karena tidak mengamalakn ajaran dalam Alquran dalam memerintah suatu Negara. Padahal kemajuan dapat diraih dengan menjalankan Alquran dan menikmati kemajuan selama tidak bertentangan dengan yang dituliskan dalam Alquran. (Siasat.com, Senin 2/12/2019)

Perdana Menteri Malaysia dari pidatonya tersirat keinginan agar negeri Islam bangkit dan mempu bersaing dengan negara-negara maju saat ini. Menurutnya, potensi yang ada pada ummat Islam sangat besar dan berpeluang mengejar kemajuan tersebut. Sebagai muslim, tentu keinginan Mohatis adalah keinginan ummat Islam. Namun perspektif berkembang yang ia sampaikan juga perlu diluruskan. Oleh karena itu ada beberapa poin kritik untuk hal tersebut.

Pertama, apa yang disebutkan oleh Perdana Menteri Malaysia, Mohatir Mohammad adalah benar. Bahwa negeri-negeri Islam hari ini sedang dihinakan, ditindas, dan mengalami kekerasan. Apa yang ia sebutkan adalah kenyataan yang tidak bisa ditutupi dari mata zahir manusia. Dunia melihat kondisi Palestina, Suriah, Rohingya, Kashmir, Uyghur, Yaman, Iraq, Afghanistan, Indonesia, Tunisia, dan bahkan Malaysia sendiri. Dengan jumlah 52 negara -negara bangsa yang merupakan tanah kaum muslimin, semuanya memiliki masalah yang darurat. Mulai dari kasus pemerkosaan, pendudukan, perampasan tanah, penyiksaan, perang, kelaparan, narkoba, pergaulan bebas, LGBT, Perceraian, aborsi juga kemiskinan yang hampir tidak dilewatkan dari satu negeri pun. Seolah-olah semua permasalahan ini adalah takdir yang tidak dapat dielakkan hingga menerimanya dengan pasrah dan tanpa perlawanan. Atau seperti kata Mohatir bahwa persepsi tidak boleh maju dianggap sebagai ajaran Islam. Padahal, kemajuan, kesejahteraan, keamanan, dan kekayaan bukanlah haram untuk dinikmati ummat Islam.

Bahkan alam semseta ini diciptakan untuk memenuhi kebutuhan mansuai secara keseluruhan. Dari potensi alam yang ada di 52 negara muslim, seharusnya semua malapetaka itu tidak layak terjadi bagi ummat Islam.

Kedua, Malaysia memang telah berupaya melakukan sebuah terobosan bagi Negaranya untuk mengejar ketertinggalan mereka dari negara-negara maju, yaitu membuat sebuah model keuangan non ribawai atau yang dikenal dengan nama “Sukuk”. Sebagaimana dilansir oleh Economy Anadolu Agency dalam sebuah wawancara eksklusif dengan CEO dari Pusat Keuangan Qatar, Yousuf Al Jaida mengatakan bahwa Malaysia harus mampu berperan sebagai pintu gerbang untuk keuangan Islami di Asia. Dia menekankan bahwa Malaysia sudah siap dengan kerangka hukum untuk fasiliitas sektor keuangan non ribawi tersebut. Al Jaida juga menambahkan agar Qatar, dan Turkey untuk melangkah lebih mengikuti Malaysia di sektor ini.

Menurutnya, Malaysia akan mampu menjadi model keuangan bagi Asia, Turkey bagi Eropa dan Qatar bagi Timur Tengah juga Afrika. Al Jaida juga mendesak Turkey untuk berkolaborasi dengan Qatar dan Malaysia untuk mendrikan keuangan Islam tersebut sebagai sektor yang harus suskses di negaranya. Bahkan CEO tersebut berharap, ketiga Negara ini telah rampung dan siap pakai pada tahun 2022. Malaysia punya potensi, Turkey memiliki pasar yang menggiurkan dengan Hidrokarbonnya, begitu juga dengan modal investasi oleh Qatar untuk Turkey tentunya mampu untuk merealisasikan ini. Menurutnya, dengan demikian akan memancing investor asing (luar) untuk berinvestasi untuk Malaysia, Turkey dan juga Qatar. (anews.com, 29/11/2019). Hal tersebut menandakan, bahwa telah ada susunan langkah nyata untuk maju khususnya Malaysia, Qatar dan Turki.

Keiga, tetap harus diapresiasi keinginan Malaysia, Qatar dan Turkey untuk menjadi model keuangan yang dirancang non ribawi. Ketiga Negara tersbut berfikir untuk keluar dari keterpurukan ekonomi dan menyelamatkan sektor keuangan negaranya. Karena jika sektor keuangan hancur dan tidak ada income dalam negeri, maka hutang pun akan membengkak. Cara kapitalis masuk dan menindas negeri-neegri muslim.

Keempat, jika dilihat dari persepsi bangkit dan maju oleh Malaysia masih digambarkan dalam perspektif kapitalis. Kiblatnya adalah Hongkong dan Barat. Padahal jelas, bahwa Hongkong juga telah tergadaikan kepada China dan juga menjadi lahan empuk untuk permainan hegemoni Barat (Amerika). Apakah maju namanya tapi tertindas dan didikte oleh Negara luar? Begitu juga dengan persepsi kemajuan Qatar dan Turkey, hanya bertumpu pada kemajuan keuangan. Apakah masalah ummat hari ini cukup pada keuangan saja? Bermimpi membangun sektor keuangan non ribawi dan jadi pionir negara lain, tetapi juga berharap pada investor luar (Barat).

Sungguh persepsi yang membingungkan dan tidak komitmen dengan aturan Islam. Kemandirian keuangan suatu Negara dalam Islam tidaklah butuh imvestor asing. Intinya, baik Malaysia, Qatar, dan juga Tukery masih memakai kaca mata kapitalis dalam memahami suatu kemajuan bangsa dan Negara. Berharap merujuk kepada Alquran namun tanpa sistem politik Islam, bagaimana Alquran akan diterapkan bernegara?

Namun demikian, harus disadari bahwa tanpa penyeruan kesatuan oleh negeri-negeri kaum muslimin dalam satu institui politik, ummat islam tidak akan maju. Tidak ada satupun yang akan memperoleh kemajuan hakiki.

Seharusnya, ketiga Negara tersebut menyerukan bersatu dalam satu kepemimpinan Islam seluruh dunia. Satu dalam Kekhilafahan. Bersatunya kembali 52 negeri Islam dalam satu komando pemimpin, yaitu Khalifah. Apa yang diinginkan oleh Mohatir akan terwujud, yaitu mengimplementasikan Alquran untuk kemajuan dan melangkahi Negara Barat. Keinginan Qatar dan Turki akan terwujud dengan menerapkan sektor keuangan non ribawi dan memberikan berkah bagi ummat. Sayangnya, Malaysia, Qatar dan Turkey belum sepenuhnya mampu melepaskan diri dari jebakan–jebakan kapitalis global. Tidak berani memutus semua kerjasama yang menyengsarakan dan menyeru kepada 52 negeri muslim untuk bersatu.

Sebab latar belakanng Malasyia sebagai Negara persemakmuran Inggris, begitu juga dengan Qatar. Sedangkan Turki sendiri adalah boneka Ameika. Hal itulah yang membuat ketiga Negara ini hanya mampu bicara menghibur ummat Islam (lip service) tanpa mampu menggunakan otoritas dan kekuaanntanya. Karena setiap langkah ada satelit yang memantau.

Ketika kekhilafahan itu tegak, maka ummat Islam akan terselamatkan dari penjajahan ekonomi, riba, perdaganan manusia, stunting, kelapaaran, pembantaian, pemerkosaan, dan kesemena menaan kaum kafir Barat. Kekuataan ummat Islam akan bisa terwujud hanya jika Khilafah ditegakkan.

Khalifah akan membebaskan ummat Islam dari cengkraman kafir Barat secara totalitas. Tidak akan ada ketergantungan dengan Negara asing karena potensi 52 negara melebur dalam satu kepemimpinan Islam tidak memerlukan investor asing. Khilafah adalah model Negara terbaik sepanjang sejarah. Khilafah adalah perisai dan pelindung ummat Islam. Tidak ada model Negara modern dan maju selain Khilafah yang membebaskan manusia dari cengkraman manusia. Karena pada hakikatnya, kemjuan itu adalah menjalani hidup sesuai fitrah yang diberikan Allah swt. Dan hanya dengan penerapan syariat Islam manusia akan dimanusiakan. Karenanya, mustahil Negeri muslim akan jadi model Negara terbaik bagi dunia tanpa Khilafah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *