Menjadi Manusia yang Paling Dicintai Allah

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Yuni Puspita

 

Kita sering kali lupa bahwa segala aktivitas yang kita lakukan seharusnya ditujukan semata-mata untuk mendapat ridha dari Allah SWT. Tidak jarang juga kita sering abai dalam menentukan skala prioritas dalam beraktivitas. Banyak mendahulukan yang mubah dari pada yang wajib, bahkan lalai atas kewajiban dan sering berbuat dosa.

Padahal Rasulullah saw. telah mengingatkan kita untuk melakukan amal yang dicintai Allah agar menjadi manusia yang paling dicintai-Nya.

Disebutkan dalam hadist Nabi Saw. dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah amal perbuatan yang paling utama?” Rasulullah SAW menjawab, “Melaksanakan shalat pada waktunya.” Kemudian aku bertanya, “Lalu apa lagi?” Rasulullah SAW menjawab, “Berjihad di jalan Allah.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Rasulullah SAW menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Ia berkata, “Demikianlah Rasulullah SAW menyebutkannya kepadaku, andai aku menambah pertanyaan, niscaya Rasulullah SAW menambahkannya.

Dari Ibnu ‘Umar, bahwasanya ada seorang laki-laki yang mendatangi Rasulullah Saw. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, manusia apa yang paling dicintai Allah? Dan amal apa yang paling dicintai Allah? Nabi Saw menjawab, manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lain.

Adapun amalan yang paling dicintai Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk suatu keperluan lebih aku cintai dari pada beri’tikaf di masjid ini (masjid Nabawi) selama sebulan penuh.” (HR Thabrani di dalam Mu’jam Al Kabir no. 13280)

Sebagai seorang Muslim, jika ada pilihan antara kebijakan, perbuatan, atau aktivitas yang salah satunya bermanfaat bagi banyak orang dan lainnya bermanfaat bagi sedikit orang, kita seharusnya memilih aktivitas yang bermanfaat bagi banyak orang. Dan berdakwah menjadi salah satu aktivitas yang bagi banyak orang selain memberikan pengajaran atas ilmu yang kita miliki.

Sebagaimana firman Allah SWT, “Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.

Orang-orang yang beriman, berhijrah, serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajat mereka di sisi Allah dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS at-Taubah: 19-20)

Ayat tersebut menegaskan kepada kita tentang tingkatan prioritas amal kebaikan yang dicontohkan dengan jihad lebih baik dari pada haji karena manfaat dan jenis pengorbanan jihad adalah untuk orang lain dan haji adalah suatu ibadah dan kebaikan yang bermanfaat dan berpahala hanya bagi yang menunaikannya. Oleh karena itu, Rasulullah Saw melarang sahabat berfokus ibadah untuk dirinya sendiri serta meninggalkan aktivitas jihad yang lebih bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.

Sebagai salah satu contoh penerapan standar memilih aktivitas yang lebih bermanfaat yaitu ketika seseorang memilih menjadi pemimpin yang adil dan amanah. Karena hal itu lebih prioritas dengan segala keterbatasan dan kekurangan, kebijakannya memiliki nilai manfaat yang lebih luas untuk masyarakat umum.

Dengan kekuasaan, seseorang bisa mengeluarkan kebijakan yang berisi kebaikan untuk masyarakat, jika ia mampu memimpin dengan adil dan amanah. Ia akan menjadi salah satu manusia yang paling dicintai Allah SWT.

Dan sebaliknya, jika ia memimpin dengan menipu rakyatnya dan menyengsarakan rakyatnya ia menjadi manusia yang dimurkai Allah SWT.

Maka memilih aktivitas yang lebih bermanfaat menjadi suatu keharusan bagi kita agar tidak termasuk orang-orang yang merugi.

Wallahua’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.