Menjadi Ibu yang Dekat Bukan Hanya Lekat

Oleh: Shinta Erry Izayati

Yang menjadikan Anak-anak kita berpola hidup Islam, Yahudi, Nasrani atau Majusi adalah orang tuanya. Karena pada dasarnya anak lahir dalam keadaan fitrah.

Maka tugas orangtua adalah menjaga fitrah tersebut agar tetap dalam koridor islam, sesuai dengan apa yang ‘diamau’ Allah SWT terhadap anak anak kita.

Walaupun tak bisa dipungkiri saat anak anak hadir di dunia ini, mereka tidak hanya berada di lingkungan keluarga saja dalam dekapan ibunya.

Akan tetapi mereka akan ada di lingkungan sekolah, lingkungan rumah/tetangga yang tentunya sangat beragam suasana yang akan mempengaruhi pergaulan anak anak kita.

Maka menjadi tantangan bagi para ibu untuk tetap menjadi orang yang berpengaruh bagi putra putrinya.

Kunci keberpengaruhan itu adalah ‘kedekatan’ bukan kelekatan, juga jalinan komunikasi yang hangat dengan anak. Maksudnya kedekatan disini adalah ibu harus memiliki kegiatan harian bersama anak ditengah kesibukan yang banyak tetap bisa membersamai atau melibatkan langsung putra putrinya.

Misal ketika ibu mencuri piring libatkan anak untuk yang membantu membilas atau hanya mengembalikan piring yang sudah bersih ke rak nya sambil ngobrol dengan dialog iman tentang kebersihan dalam islam, atau tentang larangan mencaci makanan, atau ambil makanan secukupnya agar tidak mubadzir dst.

Berceritalah hal hal yang baik dan positif.

Contoh yang lain, ketika ibu berbelanja ajak anak untuk ikut belajar memilih bahan makanan yang sehat, bisa disertai fungsi bahan makanan tsb, seperti ikan itu mengandung protein yang baik gunanya untuk memperbaiki jaringan tubuh yang rusak, dst.

Misal lain nya ketika ibu ke majlis ilmu, jangan sungkan ajak anak untuk membiasakan belajar adab majlis agar ketika mereka dewasa terbiasa dengan taklim dan halaqoh. Oya, mengapa saya katakan kedekatan bukan ‘kelekatan’ karena pada dasarnya kita sebagai ibu harus bisa menyiapkan anak anak kita untuk kuat, tegar, siap ketika suatu saat melepaskan mereka di samudra kehidupan.

Bukan terus melekat dan menjadikannya manja tak bisa mandiri.

Yang tak kalah pentingnya adalah jalinan komunikasi dengan anak yang intens, penuh kebahagiaan, dengan tatapan yang ramah sehingga memunculkan ketentraman ketenangan pada batin jiwa anak. Baik dikala mereka berprestasi maupun saat mereka harus belajar menghadapi berbagai karakter kawan kawannya diluar sana yang kadang pola asuhnya berbeda dengan anak anak kita dirumah.

Tugas ibulah memberikan pujian sekaligus membesarkan hati anak anak dengan bahasa bahasa komunikasi dari hati yang positif, perlu direpetisi sehingga masuk merasuk ke alam bawah sadar anak anaknya.

Juga tidak lupa mendoakan mereka setiap hari _”ya Allah…aku ibu dari si fulan bin…, aku bersaksi bahwa anakku ini adalah anak yang soleh/solehah,aku ridho kepadanya dengan ridho yang sempurna dan paripurna atas segala kelebihan dan kekurangannya. Tolong Engkau ridhoi ya Allah, dan jagalah dia dari kemaksiatan dan gangguan jin dan manusia yang mengganggu.” Aamiin. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *