MENILIK JEJAK IBUNDA PARA ULAMA (part 3)

Keempat, Rabiah bin Abdurrahman.

Sosok Imam besar di Madinah yang dikenal dengan panggilan Rabi’ah Ar-ra’yi. Mejelisnya dihadiri oleh Malik bin Anas, Yahya bin Said al-Qathan, al-Auzaiy, al-Laits bin Sa’ad dan lain sebagainya.

Ketika usianya masih muda, beliau telah menjadi seorang tokoh tabi’in yang terpandang di masanya, ahli hadits, faqih dan Imam yang dijadikan panutan.

Ketika di dalam kandungan ibunya, sang ayah meninggalkannya, bergabung pada pasukan Kaum Muslimin untuk melakukan jihad. Pada masa Bani Umayyah itu, kaum Muslimin akan melakukan penaklukkan wilayah Khurasan.

Ayahnya yang dikenal dengan nama Farukh itu meninggalkan sejumlah uang yang cukup besar untuk istrinya. Dan ia pun meninggalkannya selama 27 tahun sejak Rabi’ah masih berada dalam kandungan ibundanya. Sehingga ketika kembali ke Madinah, ia tak mengenali anaknya dan anaknya pun tak mengenali sang ayah.

Sempat terjadi pertikaian ketika Farukh datang ke rumahnya dan menemukan anaknya yang sudah dewasa itu berada di dalam rumahnya. Rabi’ah pun marah saat laki-laki tua yang asing itu tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya. Namun pertikaian itu selesai ketika istrinya datang dan menjelaskan yang sebenarnya.

Di saat berbincang dengan istrinya, Farukh pun meminta uang yang ia titipkan kepada istrinya. Ia berharap uang itu dapat disatukan dengan uang yang dibawanya, dan dapat digunakan untuk membeli kebun. Sedangkan uang itu telah dihabiskan untuk biaya menuntut ilmu anaknya, Rabi’ah. Namun, ibu Rabi’ah tidak terus terang, dan berserah diri kepada Allah.

Karena adzan berkumandang ia pun pergi ke Masjid Nabawi. Usai sholat ia duduk di sebuah halaqah yang dipimpin oleh seorang Syaikh dan didatangi calon Ulama-ulama besar di Madinah, seperti Malik bin Anas, al Hasan bin Zaid, Ibnu Abi ‘Ali al-Lahby, al-Musaahiqy. Maka setelah Farukh bertanya-tanya tentang guru yang mengajar dalam majelis itu, dan orang itu pun memuji-muji akan keilmuan serta kedermawanannya, kemudian menyebutkan nama dan nasabnya, maka Farukh pun menangis karena rasa bangganya terhadap anaknya.

Setelah kembali ke rumahnya, Farukh menceritakan hal itu kepada istrinya dengan penuh kebahagiaan. Maka ia mengabarkan bahwa seluruh hartanya telah dibelanjakan untuk kepentingan pendidikan putranya tersebut. Farukh pun berkata : “tak ada yang lebih kucintai melainkan apa yang kulihat barusan. Sungguh kamu tak menyia-menyiakannya kalau begitu”

Begitulah sosok ibu yang mengerti mahal dan berharganya ilmu. Oleh karena itu, ibunda Rabi’ah tidak segan dan takut jika hartanya habis dalam rangka menuntut ilmu yang merupakan jalan yang sangat mulia. Sikap seperti ini tentunya tak akan diambil oleh ibu kecuali yang memiliki ketaqwaan, tawakkal, dan pemahaman akan tingginya kedudukan ilmu Islam di sisi Allah.

Kelima, siapa yang tidak mengenal Imam Syafii? Seorang faqih, mujtahid, mujaddid di abad ke dua Hijriah ini memiliki pengaruh yang sangatlah besar di dalam kehidupan kaum Muslimin hingga di abad ini. Di seluruh penjuru dan pelosok negeri, baik Timur maupun Barat. Ilmunya teralalu luas untuk diukur, dan namanya terlalu masyhur untuk tak dikenal oleh ummat Islam dari kalangan manapun.

Nama beliau adalah Muhammad bin Idris As-Syafii al-Quraisy Al-Muthalib. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada Abdu Manaf. Kakeknya yang bernama As-Said bin Ubaid al-Muthalibi merupakan salah seorang tokoh Quraisy yang turut serta dalam perang Badar. Beliau lahir di Gaza pada tahun 150 H.

Ayahnya meninggal sebelum beliau lahir. Ibunya mendidiknya hingga mampu menghafal Al-Quran secara sempurna pada usia 7 tahun. Merupakan sebuah mimpi yang dititipkan oleh sang ayah, agar Syafi’i dididik oleh istrinya untuk menjadi seorang Imam yang akan memiliki sumbangan yang besar untuk Islam.

Sejak wafatnya sang ayah, maka ibu Syafi’i yang begitu cerdas itu mendidiknya dengan usaha yang keras walaupun dengan keterbatasan finansial. Maka, pada 10 tahun Imam Syafi’i diantar oleh sang ibu menuju Makkah, karena pada masa itu Makkah menjadi pusat keilmuan.

Maka sebelum bertemu dengan Imam Malik dan masuk ke Masjidil Haram untuk mempelajari hadits dan permasalahan fiqh dalam madzhab Maliki, beliau telah menghafal Al-Muwatha’ karya Imam Malik. Pada usia 14 tahun, sudah diperkenankan untuk berfatwa dan mengisi majelis di Masjidil Haram.

Selain itu, Syafii juga mengembara di arab badui selama 20 tahun untuk mempelajari seluk beluk bahasa arab, syair-syairnya, i’rab, gharibnya. Salah satunya adalah di Kabilah Hudzail, selama sepuluh tahun. Tak hanya itu, beliau juga belajar berkuda dan dan memanah. Setelah mempelajari dan mengumpulkan hadits dari banyak gurunya, juga mempelajari berbagai permasalahan fiqh, maka beliau pun mengembara ke Iraq, dan mempelajari madzhab Hanafi.

Setelah itu Syafii meletakkan ushul fiqh sendiri, setelah melakukan pendalaman di dua madrasah ahli hadits di Makkah dan madrsah ahli ra’yi di Baghdad. Maka dituliskan kitab Ar-Risalah dalam Ushul Fiqh dan Kitab Al-Umm yang mencakup permasalah Fiqh yang sangat luas serta mendalam menurut madzhabnya. Kehebatan Syafii memang tidak diragukan lagi oleh para gurunya, salah satunya Imam Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani yang dikenal sebagai Imam ahli ra’yi.

Itulah kehebatan Syafii yang tak lain karena kecerdasan dan didikkan sang ibu yang luar biasa. Ibunya yang rela berpisah dengan anaknya, membekali, dan mengantarkannya untuk bertemu dengan ulama-ulama besar di masanya, walaupun saat itu tak memiliki harta dan sarana belajar yang mencukupi. Tanpa perlu merasa takut dan malu, Syafii telah dilepas di usia yang masih sangat belia dengan kesiapan dan kematangan serta kecakapan ilmu yang tidak tertandingi oleh anak seusianya.

Ibunya yang bernama Fathimah binti Ubaidillah juga dikenal dengan kecerdasannya, salah satunya ketika ia diminta untuk menjadi saksi oleh Qadhi. Ia mengajar seorang kawan wanitanya. Ketika sang qadhi hanya membolehkannya untuk bersaksi, namun tidak mengizinkan kawannya, maka ia membacakan Surat Al-Baqarah ayat 282 :

“Jika tak ada dua orang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai..”. Maka si qadhi pun diam seribu bahasa. Mengakui kehebatan dan kecerdasan ibu Syafi’i ini.

Masih banyak sekali teladan dari para ibunda para Ulama dan Imam besar di berbagai masa, yang ilmunya terus digunakan, diperbincangkan dan terus diamalkan hingga saat ini. Nasehat yang ditanamkan oleh para ibunda Ulama ini juga merupakan sesuatu yang sangat membekas dan berpengaruh besar. Mengingat suatu kata-kata tak keluar dari lisan, melainkan apa yang terpikirkan dan apa yang menjadi keyakinan serta pemahaman.

Seperti nasehat ibu Imam Malik bin Anas yang bernama Aliyah kepada anaknya setelah memakaikannya jubah dan memberikannya beberapa dirham : “Sekarang pergilah ke mejelisnya Rabi’ah, dan pelajari bagaimana adabnya, sebelum kau ambil ilmunya”

Begitu pula nasehat ibunda Sufyan Ats-Tsauri, seorang amirul mu’minin dalam ilmu hadits di masanya, yaitu di Kufah. Nasehat ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab al-Wara’ dan as-Sahmi dalam Tarikh Jurjan. Nasehat yang diberikan kepada anaknya :

يا بني اطلب العلم وأنا أكفيك بمغزلي.. يا بني إذا كتبت عشرة أحرف فانظر : هل ترى في نفسك زيادة في خشيتك وحلمك ووقارك؟ فإن لم تر ذلك فاعلم أنها تضرك ولا تنفعك

“Wahai anakku, tuntutlah ilmu dan aku siap membiayaimu dari pintalanku. Wahai anakku, jika engkau telah mencatat sepuluh kalimat, maka perhatikan apakah engkau bertambah takut, sabar dan sopan? Jika engkau tidak demikian, maka ketahuilah bahwa semua kalimat itu tidak bermanfaat bagimu”

Nasehat yang tak lain keluar dari lisan seorang ibu yang sangat memahami hakikat ilmu. Karena ilmu yang dipelajari dengan niat dan cara yang benar pasti akan melahirkan rasa takut kepada Allah swt, juga kesopanan, kesabaran, dan kemampuan untuk menahan amarah. Allah berfirman :

إنما يخشى الله من عباده العلماء (فاطر : ٢٨)

“..Yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya hanyalah para ulama..”

#Meneladani_Ulama
#Lockdown_Produktif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *