MENILIK JEJAK IBUNDA PARA ULAMA DAN MUJAHIDIN (Part 1)

Lahirnya para ulama dan Imam, tokoh-tokoh besar dalam Islam, serta Mujahidin tak mungkin dilepaskan oleh peran seorang perempuan dibaliknya. Di balik seorang lelaki yang hebat pasti ada sosok wanita yang luar biasa.

Namun sayang, tidak banyak buku atau catatan sejarah yang menuliskan peran dan kontribusi para wanita yang berdiri di balik layar yang karena keikhlasan, kerja keras, pengorbanan, ketabahan, ketaqwaan dan tentunya kecintaannya yang begitu besar terhadap Islam menjadikan mereka memiliki motivasi yang begitu kuat untuk mencetak generasi-generasi yang memiliki pengaruh dan kontribusi yang besar untuk agama yang mulia ini. Sebagai bukti kecintaan yang besar terhadap Allah dan Rasul-Nya, memenuhi seruan dan perintahnya sebagai seorang muslimah, yakni mengatur urusan rumahnya dan mendidik anak-anaknya menjadi generasi rabbani.

Islam pun telah memperhatikan awal dari perkara ini mulai perkara yang sangat mendasar, yaitu hak seorang anak dari ayahnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.”

Dalam kitab Faidhul Bari’ Fii Syarhi Shahih Bukhari karangan Syaikh Ahmad Umar Hasyim dijelaskan : Rasulullah memerintahkan bagi seorang Muslim yang memiliki keinginan untuk menikah, hendaknya memperhatikan beberapa perkara dalam rangka mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan. Pada hadits di atas, Rasulullah menjelaskan di awal sabdanya apa yang sering diperhatikan kebanyakan lelaki yang akan menikah dalam memilih wanita, yaitu mengutamakan perkara duniawi seperti halnya harta, nasab dan kecantikan, daripada perkara yang lebih penting dari ketiganya, yaitu agamanya. Maka dari itu, hal ini disebutkan paling akhir. Oleh karenanya pada aspek terakhir, beliau justru mendorongnya dengan menyebutkan sighat amr (perintah) dari asal kata “dzafar” yang menunjukkan betapa besar dan pentingnya hikmah yang diperoleh ketika mendapatkannya, “maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya kamu beruntung”

Dalam hadits lain dari Aisyah RA, Rasulullah saw bersabda :

تخيروا لنطفتكم فإن النساء يلدن أشباه إخوانهن وأخواتهن

“Pilihlah untuk air mani kalian, sebab kaum wanita akan melahirkan seperti saudara laki-laki dan saudara perempuan mereka”

Hadits ini menunjukkan pentingnya untuk memilih wanita shalihah ketika seorang muslim memilih istri, karena dengan itulah ia akan menjalankan kewajiban yang Islam perintahkan dalam menjalankan peran sebagai istri dan ibu. Ia yang memahami bahwa dengan amanah itu ia akan dimintai pertanggungjawaban dari-Nya. Dari Ibnu Umar radhiyallau anhu, Rasulullah saw bersabda :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ قَالَ وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” Aku menduga Ibnu ‘Umar menyebutkan: “Dan seorang laki-laki adalah pemimpin atas harta bapaknya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atasnya. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.”

Maka ketika seorang wanita telah memahami agamanya, maka ia akan berusaha menjalankan kewajibannya karena keterkaitannya dengan syariat Allah dalam setiap gerak-geriknya. Dengan begitu aktivitasnya pun akan dihiasi dengan akhlak yang diridhai Allah dan Rasulullah saw.

Secara fitrah atau naluri, wanita memiliki sifat keibuan dimana ia akan memiliki keikhlasan, semangat dan rasa senang untuk memperhatikan anak-anak kecil, mencintai, berkorban dan lemah lembut kepada mereka. Dalam hal ini Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda :

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الْإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ

“Sebaik-baik wanita adalah yang dapat mengendarai unta. Sebaik-baik wanita Quraisy adalah yang paling lembut dan simpati pada anak di masa kecilnya, dan paling bisa menjaga harta suaminya.”

Oleh karena itu Umar bin Khattab ketika ditanya oleh seorang sahabat tentang hak anak terhadap bapaknya, maka beliau menjawab : Pertama, hendaklah ia memilih calon ibu yang baik bagi putranya. Kedua, hendaklah ia menamainya dengan nama yang baik. Ketiga, hendaklah ia mengajarinya menghafal Al Qur’an.

Hak pertama, yaitu memilihkan ibu yang baik tentunya memiliki pengaruh yang sangat besar bagi masa depan sang anak. Karena, jika si ibu telah dibesarkan oleh keluarga dan lingkungan dengan didikan yang Islami, memiliki ilmu yang banyak, serta memiliki kecerdasan, maka itulah langkah awal yang akan memiliki pengaruh besar terhadap kualitas anaknya. Termasuk ketika ia memberikan air susu kepada anaknya, maka itu akan memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadapnya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath, dari Ibnu Umar berkata :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن رضاع الحمقاء

“Bahwasanya Rasulullah saw melarang untuk menyusukan anak kepada wanita yang dungu”

Karena air susu itu akan mewarisi sifat dan watak sang ibu, oleh karena itu Islam memerintahkan untuk menyusui dalam kurun waktu dua tahun dan tidak seharusnya sang anak disusukan kepada sembarang wanita.

Dengan berbekal ketaatan, ketaqwaan, serta ilmu Islam yang dimiliki oleh sang ibu, maka sudah sewajarnya anak yang dididiknya akan meneladani dan mencintai apa yang dicintai oleh orangtuanya. Jika sang ibu adalah sosok yang ahli ibadah, seorang ahli quran, memiliki kepribadian yang Islami, dan seorang yang memiliki kecintaan yang besar akan ilmu dan da’wah, kemudian ia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mendidik dan menularkan apa yang ia miliki tersebut kepada anaknya, maka anak tersebut akan cenderung mengikutinya.

Ia akan menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah dengan menjadikan hal itu sebagai motivasi terbesar ketika melakukan amalan yang shalih dan meninggalkan amalan yang buruk. Begitu juga ketika perbuatan yang dilakukan, kepentingan atau kesenangan pribadinya tidak Allah ridhai, maka ia akan menanamkan betapa pentingnya mendahulukan ridha Allah diatas kesenangan pribadi. Menanamkan cinta kepada kedua orang tua semata-mata karena terdapat perintah Allah, sehingga sang anak akan merasa ringan untuk menjalankan perintah orangtua sekalipun berat baginya.

Semua diatas hanyalah pembuka bagi tulisan ini. Betapa Islam sangat memperhatikan kedudukan wanita, yang dari rahim dan tangan merekalah akan lahir generasi-generasi yang siap mengisi peradaban Islam yang mulia.

Tidak diragukan lagi, bahwa salah satu puncak prestasi tertinggi yang sudah sewajarnya dikejar oleh generasi Islam adalah posisi ke-ulamaan yang tertinggi, yaitu mujtahid. Yang dengan kemampuan, kedalaman serta keluasan ilmu yang dimilikinya ia dapat menggali hukum terhadap permasalahan yang baru muncul di dalam kehidupan. Karena pada dasarnya setiap aktivitas kaum Muslimin harus terus terikat dengan hukum syara’ yang artinya pada setiap zaman ummat ini membutuhkan Mujtahid yang mampu menggali hukum tersebut dengan bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah.

Selain Mujtahid, kedudukan tertinggi yang sudah semestinya dikejar oleh generasi Muslim agar memiliki kontribusi yang sangat besar di atas muka bumi ini adalah mujahid. Karena dengan tangan merekalah panji Islam berkibar di seluruh penjuru dunia, dengan darah merekalah keadilan Islam bisa dirasakan banyak manusia, dengan nyawa merekalah rahmat Islam bisa sampai di berbagai bangsa, dan karena jasa merekalah penghambaan terhadap manusia dihapuskan, kemudian diganti dengan penghambaan terhadap Allah semata.

Kehidupan seorang Muslim tak lain adalah dalam rangka beribadah kepada Allah tuk gapai ridha-Nya, maka sudah semestinya ambisi yang ditanamkan dalam jiwa generasi Islam adalah untuk mengabdi kepada-Nya dengan terus meninggikan kalimat Allah dengan mencurahkan segala fikiran, waktu, tenaga, harta bahkan nyawa untuk menggoreskan tinta atau berperang melawan musuh-musuh-Nya.

Maka inilah beberapa wanita yang karena kesungguhan, keikhlasan serta kecerdasan mereka lahirlah ulama, imam dan mujahid yang namanya tak pernah luput dari lisan manusia juga mampu mengguncang arsy-Nya karena persembahannya yang luar biasa tuk meninggikan serta menyebarkan kalimat-Nya.

Adapun dari kalangan ulama salaf diantaranya adalah Anas bin Malik. Seorang sahabat dari kalangan Anshar yang sering disebut namanya karena banyaknya hadits yang diriwayatkan olehnya. Ia adalah salah satu dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Terdapat sekitar 2286 hadits yang beliau riwayatkan. Dari beliau, lahirlah ulama-ulama besar dari kalangan tabi’in, diantaranya Hasan Al-Bashry, Ibnu Siirin, Asy-Sya’bi, Abu Qilabah, Makhul, ‘Umar bin Abdul Aziz, Tsabit al-Bunany, Ibnu Syihab az-Zuhri, Qatadah as-Sadusy, dan lain-lain. Rasulullah saw pun pernah mendoakannya : “Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya, serta panjangkanlah usianya”. Dengan doa itu, terkumpulah pada diri beliau keistimewaan berupa keturunan yang banyak, harta yang melimpah, ilmu yang luas dan usia yang sangat panjang. Bahkan dikatakan dalam sebuah riwayat bahwa Anas menjadi orang yang paling banyak hartanya diantara kalangan Anshar.

Dibalik kehebatan yang telah diraih oleh Anas bin Malik, ada sosok ibu yang memiliki peran besar dalam semua itu. Ia bernama Ummu Sulaim atau Rumaisha’. Karena kecintaannya yang begitu besar terhadap Allah dan Rasulullah saw, dalam sebuah riwayat Anas bin Malik berkata : ketika Rasulullah saw tiba di Madinah aku berumur delapan tahun. Waktu itu ibuku menuntunku menghadap Rasulullah saw, seraya berkata : “Wahai Rasulullah, tak tersisa seorang Anshar pun kecuali datang kepadamu dengan hadiah yang istimewa, namun aku tak mampu memberimu hadiah kecuali puteraku ini, maka ambillah dia dan suruhlah dia membantumu kapan saja kau inginkan”

Ia adalah seorang wanita yang sangat cerdas. Hal itu nampak ketika seorang lelaki, yaitu Abu Thalhah melamarnya setelah suaminya wafat. Namun ia menolak lamaran tersebut lantaran Abu Thalhah masih dalam keadaan musyrik. Oleh karena itu Ummu Sulaim menjawab lamaran tersebut dengan kata-kata yang dapat menggetarkan jiwa Abu Thalhah ketika beliau menyindir sesembahan berhala mereka, bahwa berhala-berhala itu hanyalah dibuat oleh budak mereka dan kalaupun disulut api pasti ia akan terbakar. Maka setelah itu Abu Thalhah merenung dan menyatakan keislamannya, yang dijadikan sebagai mahar pernikahan dengan Ummu Sulaim.

Ummu Sulaim juga telah meriwayatkan 14 hadits dari Rasulullah saw, dan beliau juga telah bergabung dalam perang Uhud dan perang Hunain, dengan membawa sebilah pisau di tangannya. Hal ini menunjukkan keberaniannya yang luar biasa dalam melawan kaum musyrikin.

Selain itu, beliau termasuk shahabiyah yang cepat memenuhi seruan Islam bersama kaumnya saat terdengar dakwah Rasulullah saw. Ummu Sulaim juga termasuk salah satu penghuni surga yang Rasulullah saw kabarkan. Dalam Shahih Bukhari terdapat sebuah riwayat dari Jabir bahwa Rasulullah bersabda : “Ketika aku masuk Jannah, tiba-tiba aku melihat disana ada Rumaisha istri Abu Thalhah”.

Itulah sekilas kepribadian yang dimiliki oleh Ummu Sulaim. Sosok yang cerdas, penyabar, dan pemberani yang akhirnya sifat-sifat itu menurun kepada Anas bin Malik. Dan jikalau bukan karena kecintaannya yang besar terhadap Rasulullah, maka ia tak akan rela memberikan anaknya yang masih sangat kecil untuk dijadikan pembantu Rasulullah saw. Namun rasa cintanya terhadap Rasulullah mengalahkan rasa cinta seorang ibu yang secara naluri tak akan sanggup dipisahkan dengan buah hatinya.

(Bersambung…)

#Azhariah_Mabdaiyyah
#LockDown_Produktif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *