Menghapus Nestapa Ibu Dengan Sistem Berkah

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Mbak Poer (Penggiat Sosmed)

Elitha Tri Novianty adalah seorang buruh dari produsen es krim PT. Alpen Food Industry (AFI) atau Aice, yang mengalami penyakit endometriosis. Namun saat mengajukan pemindahan divisi agar tidak melakukan pekerjaan kasar seperti mengangkat barang tidak dikabulkan. Akibat fatal dari pekerjaan kasar maka dia harus menjalani kuret karena mengalami pendarahan hebat (theconversation.com, 18/3/20

Juru bicara Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (F-SEDAR) Sarinah yang menaungi ratusan buruh es krim Aice dalam Serikat Gerakan Buruh Bumi Indonesia PT Alpen Food Industry (SGBBI PT AFI) mengungkapkan, hingga kini sudah ada 21 kasus buruh keguguran akibat tekanan kerja (suara.com, 5/3/20)

Para pengamat buruh dan gender berargumen praktik penindasan hak buruh perempuan merupakan akibat dari pelanggengan budaya patriarki di sektor ketenagakerjaan di Indonesia.

Undang-Undang (UU) Ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003 memberikan perlindungan terhadap hak buruh, misal untuk cuti haid yang selalu dipersulit. Mungkin pekerja perempuan terlihat sering ijin atau cuti karena alasan keluarga.

Perlindungan Perempuan Dalam Undang-undang Sistem Demokrasi Undang-undang Ketenagakerjaan sudah mempunyai aturan yang baik dalam mengatur perlindungan perempuan menurut serikat pekerja buruh. Namun karena kurang tenaga kerja hingga pengawasannya lemah. Menurut theconversation.com pada tanggal 18 Maret 2020 jumlah pengawas pada Dinas Tenaga Kerja tingkat provinsi dan kabupaten tidak sebanding dengan jumlah perusahaan. Data ILO menunjukkan hingga akhir 2016, rasio pengawas dan perusahaan adalah 1:11.228.

Belum lagi perempuan memang hanya dipandang sebelah mata sebagai pekerja karena kelemahan fisiknya juga masih harus melakukan tugas dalam rumah tangga padahal bekerja di luar rumah seringnya perempuan juga sebagai tulang punggung keluarga hingga saat pandemi makin terasa nestapa bukan hanya beban ekonomi juga beban edukasi anak yang daring memperberat beban dipundak ibu.

Masih ingin memperjuangkan kesetaraan gender diberbagai bidang? Padahal saat perempuan berada di luar rumah tak mendapatkan haknya, karena bekerja hanya mubah dan membuat kewajiban pengasuhan anak terabaikan nantinya malah menimbulkan berbagai masalah pada anak.

Adakah payung hukum yang benar-benar dapat melindunginya? Adakah sistem demokrasi mempunyai solusi menghapus derita ibu? Apalagi saat pandemi solusi yang ditawarkan tak menyentuh akar masalah, bantuan yang diberikan tak membuat rakyat terlepas dari masalahnya, celakanya bantuan tersebut malah menggiurkan sang pejabat untuk mencicipi hingga terjadi korupsi. Intinya solusi yang ditawarkan malah menimbulkan masalah.

Belum lagi maraknya kasus pelecehan perempuan saat berada di lingkungan kerja. Sungguh miris nasib perempuan dalam sistem demokrasi yang katanya mengutamakan rakyat namun saat bergandeng mesra dengan kepentingan kapitalis maka hak-hak rakyat banyak dikalahkan. Dalam sistem kapitalis demokrasi menganggap masalah perempuan merupakan masalah yang harus diselesaikan oleh perempuan itu sendiri. Padahal konflik perempuan sejatinya disebabkan oleh sistem yang dilandasi liberalisme yang menumbuh suburkan paham kesetaraan gender (feminisme).

Perempuan dalam sistem Islam

Allah telah mengirimkan permasalahan, maka kembalikan solusinya kepada Allah. Kembalikan kepada aturan Allah Al Mudabbir. Allah telah memberikan solusi sesuai fitrah manusia. Dimana Islam tidak memberdayakan kaum perempuan untuk pemenuhan ekonomi, namun pemberdayaan ibu dengan melindungi dan menyejahterakan ibu, dimana perempuan dijamin haknya oleh negara. Pendidikan dan kesehatan ditanggung sepenuhnya oleh negara, ibu hanya bertugas mengasuh anak tanpa memikirkan beban ekonomi yang membuat stress hidupnya.

Demokrasi tak pernah memikirkan bagaimana agar umat taat syariat. Karena tak pernah ada ruang untuk Islam dalam demokrasi. Solusi bagi muslim adalah taat pada syariat. Sejatinya dalam kehidupan hanya membutuhkan keimanan dan ketakwaan.

Jaminan kehidupan yang dapat menghilangkan nestapa ibu dan anak hanya ada dalam sistem yang berkah yaitu sistem Islam. Saat muslim dijauhkan dari syariat ibarat ikan yang jauh dari air karenanya hanya dengan kepemimpinan Islam yang dimunculkan akan tercipta rahmatan lil alamin bagi kehidupan.
Menjadi seorang ibu yang tangguh adalah ibu pembelajar, rajin menuntut ilmu menguatkan diri
dalam jamaah yang mengusung sistem Islam.
Wallahua’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.