Mengenang Runtuhnya Khilafah Untuk Mencetak Generasi Emas

Oleh: Dian (Muslimah Pemerhati Generasi)

Hilangnya sistem Khilafah berarti hilangnya sebuah sistem peradaban Islam yang menyatukan dunia Islam di bawah satu kepemimpinan berlandaskan syariat Islam yang merupakan perwujudan dari ideologi Islam. Sejarah panjang pada masa keemasan Islam diwarnai oleh banyak orang besar. Para Khalifah menorehkan namanya sebagai pemimpin yang terbaik saat itu.

Namun sejak tanggal 3 Maret 1924, runtuhnya Khilafah Utsmaniyah atau dikenal dengan kesultanan Turki Utsmani (Ottoman). Sebelumnya kejayaan Islam berdiri tegak sejak 13 abad yang lalu dan menguasai 2/3 wilayah dunia.

Umat Islam dahulu bersatu dibawah penerapan syariat Islam secara penuh dengan Al-Qur’an sebagai dasar negara, setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah umat Islam hancur dan tercerai-berai menjadi 50 negara dan jadi bahan fitnah dan target kebencian umat-umat lain. Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah menjadi awal penderitaan umat Islam, berlangsung dengan cukup lama hingga akhirnya benar-benar runtuh dengan deklarasi perubahan sistem pemerintahan menjadi Republik oleh Mustafa Kemal Attaturk.(https://www.kompasiana.com/amp/masdikdok/5c7b95c96ddcae5e4100bfd7/3-maret-1924-mengenang-runtuhnya-khalifah-utsmaniyah)

Di balik runtuhnya Khilafah Utsmaniyah sejatinya adalah wujud konspirasi Barat yang ingin menghancurkan Khilafah. Runtuhnya Khilafah menjadi peristiwa besar yang memilukan umat Islam. Keruntuhan Khilafah disebabkan karena buruknya pemahaman kaum muslimin tentang Islam dan kesalahan dalam menerapkan Islam.

Pada masa ini banyak terjadi penyimpangan yang dipicu adanya upaya menjauhkan pemahaman umat Islam tentang syariat Islam. Masuknya tsaqofah asing dan menyerang misionaris membuat kaum muslim tak lagi mampu membedakan mana tsaqofah yang bertentangan dengan Islam.

Adanya upaya mengganti undangan-undang syariah dengan kodifikasi hukum ala Barat. Gerakan misionaris dan orientasi jelas merupakan bagian yang tak terpisahkan dari imperialisme Barat di dunia Islam. Ini adalah bukti bahwa untuk mengusai dunia Islam mereka harus menghancurkan asas Islam yang menjadi penjaga umat Islam dengan meruntuhkan Khilafah. Bukan hanya itu saja mereka menyerang pemikiran Islam dan dengan sengaja menyebarkan paham nasionalisme di dunia Islam serta menciptakan stigma negatif terhadap Khilafah Utsmaniyah.

Kekuatan Khilafah Utsmaniyah dilumpuhkan sehingga bisa dijatuhkan lebih muda, secara intensif mereka terus memprovokasi gerakan-gerakan patriotisme dan nasionalisme di dunia Islam agar memisahkan diri dari kesatuan Khilafah Islam.

Bahkan gerakan-gerakan keagamaan juga dieksplorasi, seperti gerakan Wahabi di Hijaz. Sejak pertengahan abad ke 18 M, gerakan ini telah dimanfaatkan oleh Inggris melalui agennya, Ibn Saud, untuk menyulutkan pemberontakan di beberapa wilayah Khilafah, yakni Hijaz dan sekitarnya.

Setelah kekalahan Daulah Utsmaniyah gerakan Turki Muda dan partai-partai berasas nasionalisme mulai mengemuka. Pada pertengahan 1876 M, mereka membentuk Konstitusi Utsmani yang banyak berkiblat pada sistem pemerintahan ala Barat. Tak hanya itu serangan bertubi-tubi yang dilancarkan kaum kafir Barat semakin membuat kekuasaan Khilafah Utsmani hancur.

Terjadinya keruntuhan juga disebabkan karena lemahnya pemahaman terhadap Islam, para penguasa ketika itu mulai membuka diri terhadap demokrasi, yang didukung oleh fatwa-fatwa Syaikh al-Islam yang dipenuhi kontroversi. Bahkan, juga hukum-hukum syariat diabaikan dan bahkan direndahkan dan dianggap sebagai hukum yang tidak sesuai jaman dengan dibentuknya Dewan Tanzimat tahun 1839 M, tsaqofah Barat di dunia Islam semakin kokoh.

Termasuk setelah disusunnya beberapa undangan-undang seperti UU Acara Pidana (1840 M) dan UU Dagang ( 1850 M) yang bernuansa sekuler. Keadaan semakin diperparah dengan dirumuskannya Konstitusi 1876 oleh Gerakan Turki Muda, yang berusaha membatasi fungsi dan kewenangan Khilafah, sedikit demi sedikit menjadi sekularisasi terhadap Khilafah Islam.

Sejak saat itu problem kaum muslimin tidak mendapatkan solusi yang bersumber syarit Islam lagi. Sejak hukum-hukum syariat Islam diabaikan
menjadi peristiwa besar yang memilukan bagi umat Islam.

Mengingat kembali sejarah kelam keruntuhan Khilafah adalah pelajaran penting untuk mengambil hikmah dan memperjuangkan kembali, khususnya muslimah untuk mengingatkan peristiwa keruntuhan Khilafah dalam rangka menyadari urgensitas keberadaannya dan mendorong mewujudkan kembali di era saat ini.

Melihat hingga hari kini, penderitaan umat muslim dunia kian merana dan tak tau harus mengadu ke siapa. Pembantaian muslim India, pengusiran Rohingnya dari tanah kelahirannya, penjajahan Israel atas Palestina, invasi Amerika atas Irak dan Afghanistan, kebengisan rezim Assad atas Suriah, perebutan wilayah Kashmir dan penindasan Uyghur atas komunis China.

Umat saat ini tak berdaya. Hanya bisa berdoa dan langkah sosial kemanusiaan saja, hanya bisa meratap memohon pada pemilik jagat. Nampak dari sini betapa umat membutuhkan Khilafah Ala Manhaj Nubuwwah.

Maka mewujudkan kembali syariat Islam, dengan melihat sejarah para pejuang Islam membawa Islam dalam kemenangan gemilang mereka tak takut mati, bahkan di jalan Allah menjadi tujuan tertinggi hidup mereka. Para ulama berjuang dengan tinta dan pena mereka, karena merekalah kita mengenal dan bisa mempelajari Islam hingga saat ini.

Dengan mewujudkan persatuan umat Islam dalam generasi menjadi peran utama seorang ibu. Di era saat ini, peran yang utama dalam kehidupan generasi bermula pada orang tua mereka harus memberikan pendidikan yang utama menanamkan akidah sejak dini, dalam pembiasaan pelaksanaan hukum-hukum Islam dan memberikan pemahaman sejarah Islam yang harus di perjuangkan.

Belajar dibalik sosok mereka, marilah kita melihat contoh, Khaizauran adalah ibu Khalifah Harun al-Rasyid adalah mantan budak yang dinikahi Khalifah al-Mahdi karena kecerdasan dan keluasan ilmunya. Ia rela mendampingi anaknya mencari ilmu ke Madinah. Jauh dari keluarga dan kehidupannya sebagai istri Khalifah. Ia mendidik anak-anaknya sehingga layak menjadi seorang Khalifah.

Adapun ibu Muhammad al-Fatih mendidik dan memberikan motivasi kepada anaknya setiap pagi, setelah shalat subuh, sang ibunda mengajari dia geografi, garis batas wilayah Konstantinopel. Ia menanamkan keyakinan dalam diri Muhammad sejak kecil, bahwa kelak ialah yang akan menaklukkan Konstantinopel. Benar saja, pada usianya yang baru 21 tahun. Ia berhasil memimpin pasukan untuk menaklukkan Konstantinopel.

Para imam mashab Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal di besarkan sebagai anak yatim begitu pun perawi hadis terbesar Imam al-Bukhari. Ibu mereka berjuang keras untuk mendidik mereka dan mengantarkan mereka kepada para ulama besar untuk belajar. Mereka rela mewakafkan anak-anak mereka untuk agama, sungguh luar biasa perjuangan mereka.

Itulah para ibu pejuang yang tangguh dan teladan zaman. Mereka yang menanamkan fondasi agama yang kuat pada anak-anaknya sehingga mampu menjadi pemimpin pejuang dan ulama terbaik pada zamannya. Mereka menjadi generasi yang tangguh dan generasi emas yang gilang gemilang.

Menyandangkan kedua potret generasi masa kejayaan Islam dan masa sekarang, membuat kita bertanya-tanya. Bahwa kegemilangan generasi pada masa Islam tampak paradoksal dengan gambaran generasi saat ini.

Sedangkan gaya hidup saat ini, mereka jauh dari tuntunan agama. Iman dan kepribadian mereka rapuh, inilah fakta yang menonjol pada generasi sekarang, dengan arus sekulerisme, kapitalisme, liberalisme dan pluralisme telah menghantam mereka membuat hanyut terlalu jauh.

Lihatlah bagaimana mereka telah meninggalkan Rasul sebagai idola mereka, dan berpaling kepada para artis Barat, Korea, Jepang dan artis-artis lokal yang tak kalah merusak jiwa mereka. Hidup mereka habis di gemerlap dunia hiburan, film, komik game dan kesenangan-kesenangan lainnya. Menjadikan orientasi hidup mereka bukan lagi ridha Allah dan surga-Nya.

Melainkan mereka masuk dalam pengaruh budaya kapitalis-liberalis yang membuat jiwa mereka lemah, terjangkiti penyakit wahn, cinta dunia takut mati. Disinilah guru yakni orang tua sebagai peran utama, namun karena ayah terbebani kewajiban untuk mencari nafkah, maka tugas utama jatuh lebih banyak kepada ibu.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw menggambarkan begitu pentingnya fungsi ibu dalam hadits; “Nikahilah oleh kalian wanita penyayang lagi subur, karena sungguh aku akan membanggakan banyaknya kalian di hadapan para nabi pada Hari Kiamat”.(HR. Ahmad).

Di hadist lain juga menggambarkan fungsi ibu; “Seorang perempuan adalah pemelihara di rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggung jawaban mengenai apa yang menjadi tanggung jawab pemeliharaannya”.(HR. al-Bukhari).

Dengan demikian selayaknya para ibu menoleh kembali sejarah para ibu-ibu hebat pada masa lalu. Meneladani perjuangan mereka dalam mencetak generasi emas, dan memperjuangkan sistem Islam dan menjamin lahirnya generasi berkualitas. Yakni (khayru ummah ukhrijat linnas) umat terbaik yang dilahirkan bagi manusia.
Wallahu a’lam bish-shab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *