Menerapkan Syari’ah Islam Secara total, Wujud dari Ketaqwaan

Oleh : Usniati (Ibu Ideologis Banyuasin)

Perayaan Idul Fitri tahun ini harus dirayakan dengan cara yang berbeda. Karena Indonesia sedang menghadapi pandemi virus corona.
Sehingga tradisi lebaran seperti mudik dan bersilaturahmi tidak bisa dilakukan dengan cara biasanya. Hari Raya Idul Fitri ini kita rayakan dengan cara berbeda. Menuntut pengorbanan kita semua untuk tidak mudik dan bersilaturrahmi seperti biasanya. Presiden Jokowi menekankan situasi lebaran tahun ini dilakukan berbeda demi kepentingan semua masyarakat.

Namun ia yakin cobaan ini dapat dilewati bersama-sama .
“Saya mersakan hal ini sangatlah berat, tapi keselamatan handai taulan harus menjadi prioritas kita semua, Saya yakin bersama-sama kita bangsa Indonesia akan mampu melewati ujian berat ini”.
Demikian ucapan Presiden Jokowidodo dalam keterangan nya saat mengucapkan Selamat Hari Raya Jdul Fitri Tahun 1441 Hijriah kepada seluruh umat Islam di Indonesia. Kumparan News,Sabtu(23/5/2020).

Presiden Jokowidodo juga menambahkan “Semoga Allah meridhai ikhtiar dari pencegahan covid-19 ini” (Tempo co)

Sementara itu Wakil Presiden, Ma’ruf Amin mengatakan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk terus bersabar ditengan pandemi.

Bulan suci Ramadhan, meskipun sudah berlalu adalah momen yang tepat untuk menempa diri menjadi manusia yang bertaqwa. Karena perintah puasa itu sendiri sejatinya adalah perintah agar setiap jiwa yang beriman menjadi bertaqwa. Firman Allah SWT artinya “Wahai orang -orang yang beriman. Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa (TQS : AL-Baqoroh ayat 183)

Namun kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah dalam menangani covid-19 tidaklah berpijak pada syari’ah islam sebagai konsekuensi dari ketaqwaan itu sendiri yaitu terikat langsung dengan perintah dan larangan Allah SWT beserta Rasul-Nya.

Dalam mengelola dan mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara, hingga mengurus semua kebutuhan rakyat nya .
Padahal pemimpin dihadapan Allah mempunyai tanggung jawab yang sangat berat ketika ia tidak mengurus rakyat nya dengan adil. Sabda Nabi Muhammad SAW “Tidaklah seorang penguasa diserahi urusan kaum muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia menelantarkan urusan mereka, kecuali Allah mengharamkan Surga untuk dirinya (HR. Bukhari & Muslim).

Di Bulan Ramadhan ini adalah momentum yang tepat untuk mengoreksi (muhasabah) kepada segenap unsur pemerintahan negeri ini. Apa dan mengapa musibah terus saja menimpa negeri? Akankah ini adzab dari Allah SWT tersebab kita enggan menerapkan syariat-Nya untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Khalifah (pemimpin) sekelas Umar Bin Khattab yang terkenal sebagai seorang pemimpin yang adil, bijaksana dan tegas dalam menerapkan syari’ah islam. Dalam mengatur urusan umat nya langsung melakukan muhasabah diri, mengajak umat nya untuk bertaqwa. Dimana pada massa kepemimpinan beliau terjadi paceklik, kelaparan terjadi hampir diseluruh Jazirah Arab. Maka, hukuman potong tangan bagi pencuri tidak diterapkan saat itu, demi menjaga kemaslahatan umat yang mencuri. Karena kelaparan, perekonomian terseok-seok bahkan binatang sampai masuk keperkotaan untuk mencari makanan, begitu dahsyatnya musibah yang terjadi saat itu, dan diyakini bahwa musibah merupakan ujian atau cobaan untuk meningkatkan ketaqwaan disisi Allah SWT.

Maka, Khalifah Umar bin Khattab langsung berpidato dan menyeruh kepada umat nya “Wahai manusia bertaqwalah kalian kepada Allah dan kepada diri kalian sendiri, bisa jadi terjadi nya musibah ini karena banyak nya dosa-dosa kita, kalian tertimpa musibah karena saya, dan saya pun tertimpah musibah karena kalian”

Ketaqwaan seorang pemimpin seperti Umar bin Khattab hanya bisa dilahirkan dari sistem pemerintahan islam kaffah, yaitu Khilafah yang sudah tercatat dalam sejarah peradaban dunia selama tiga setengah abad lama nya, memimpin dunia penuh dengan kedamaian, kesejahteraan dan keadilan terhadap umat manapun.

Ketaqwaan tidak mungkin dilahirkan dari sistem kapitalis -sekuler. Dimana sistem ini tegak diatas dasar manfa’at semata, dan atas dasar memisahkan kehidupan dari agama, memisahkan negara dari agama.

Dalam islam kekuasaan tidak bisa dipisahkan dari agama, Imam Al-Ghazali dalam kitab nya “Ulumuddin”. “Maka kekuasaan dan agama adalah saudara kembar, Agama adalah pondasi/pokok nya(ushul) sedangkan penguasa adalah penjaga nya. Dan apa-apa yang tidak ada pondasinya maka dia akan runtuh. Sedangkan apa-apa yang tidak memiliki penjaga, maka dia akan lenyap” Pernyataan Imam Al-Ghazali ini hanya bisa diwujudkan dalam Sistem Islam (Khilafah).

wallahu’alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *