Menerapkan Al-Qur’an Dalam Kehidupan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Ummu Fatih II

 

Bulan Ramadhan sering disebut Bulan al-Quran. Sebab, pada bulan Ramadhanlah al-Quran diturunkan. Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (TQS al-Baqarah [2]: 185).

Sejak pertama al-Quran diturunkan, yakni sejak awal mula dakwah Rasulullah saw., berbagai fitnah dan makar telah ditimpakan pada al-Quran. Beragam fitnah terhadap al-Quran juga terjadi saat ini. Bentuk dan pelakunya beragam. Di antaranya, menciptakan keraguan terhadap al-Quran sebagai Kalamullah.

Al-Quran secara bahasa memang artinya bacaan. Membaca al-Quran akan mendatangkan pahala (Lihat: QS al-Fathir [35]: 29). Bahkan Rasul saw. menyatakan bahwa siapa saja yang membaca satu huruf dari al-Quran akan mendapatkan satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan yang semisalnya (HR at-Tirmidzi).

Karena itulah para Sahabat dan generasi salafush-shalih senantiasa bersemangat membaca al-Quran. Para Sahabat, misalnya, ada yang sebulan sekali khatam al-Quran, ada yang seminggu sekali, ada yang tiga hari sekali, bahkan ada yang sehari sekali khatam. Demikian pula para ulama terdahulu.

Namun demikian, para Sahabat dan generasi salafush-shalih tak hanya semangat membaca al-Quran. Mereka juga sekaligus semangat mengamalkan dan menerapkan al-Quran. Sebabnya, mereka paham, al-Quran diturunkan bukan sekadar agar dibaca. Al-Quran tentu harus dijadikan sebagai petunjuk hidup agar manusia hidup sesuai dengan al-Quran. Allah SWT berfirman:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sungguh al-Quran ini memberikan petunjuk ke jalan yang lebih lurus dan memberikan kabar gembira kepada kaum Mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (TQS al-Isra’ [17]: 9).

Sebagai petunjuk hidup bagi manusia, al-Quran telah memberikan penjelasan hukum atas segala sesuatu. Allah SWT menegaskan:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Kami menurunkan kepada engkau al-Kitab (al-Quran) sebagai penjelas segala sesuatu, petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (TQS an-Nahl [16]: 89).

Karena itu tentu penting mengamalkan dan menerapkan seluruh isi al-Quran. Baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara. Di sinilah pentingnya formalisasi dan pelembagaan al-Quran. Di sini pula pentingnya negara menerapkan al-Quran dalam seluruh aspek kehidupan. Inilah yang dipraktikkan oleh Rasulullah saw. saat memimpin Daulah Islam di Madinah, juga oleh Khulafaur Rasyidin dan para khalifah setelah mereka sepanjang sejarah Kekhilafahan Islam.

Dengan demikian al-Quran tak cukup hanya dibaca dan dihapal. Al-Quran pun harus direnungkan dan dikaji isinya. Selanjutnya hukum-hukumnya wajib diterapkan agar bisa menjadi solusi atas seluruh problem kehidupan manusia. Allah SWT berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى . وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

Jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maka siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sesungguhnya bagi dia ini kehidupan yang sempit (TQS Thaha [20] 123-124).

WalLâh a’lam bi ash-shawâb.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.