MENELADANI KEPEMIMPINAN ISLAM DARI PERISTIWA ISRA MI’RAJ

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Iffah Ummu Yumna (Pengasuh Majelis Ta’lim Online Rindu Syariah)

 

Alhamdulillah wa syukrulillah, telah hadir kembali salah satu bulan haram yang dimuliakan seluruh muslim sedunia yakni Rajab. 14 abad yang lalu, tepatnya setahun sebelum Baginda Rasulullah Muhammad SAW hijrah, terjadi peristiwa yang menggemparkan dunia yakni Isra Mi’raj. Isra Mi’raj demikian istimewa sehingga seluruh kaum muslimin sedunia senantiasa memperingatinya dan mengambil hikmah darinya. Kisah tentang perjalanan dimalam hari Baginda Nabi SAW dari masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Palestina kemudian diangkat ke langit hingga Sidratul Muntaha menerima perintah shalat 5 waktu, demikian membekas dalam ingatan kaum muslimin baik tua maupun muda. Insya Allah para mubaligh senantiasa mengingatkan ummat akan hal ini sepanjang tahun.

Selain kisah tersebut, sebenarnya peristiwa Isra  Mi’raj memiliki pelajaran penting bagi kehidupan kaum muslimin di masa kini. Para mufassir telah menjelaskan bahwa ada tiga isyarat kepemimpinan yang bisa dijadikan teladan bagi umat Islam dan seluruh manusia. Sebab, Rasulullah SAW diutus Allah SWT tidak hanya kepada umat Islam, tetapi juga untuk menebarkan rahmat bagi alam semesta. Allah berfirman, “Kami tiada mengutus Rasul-Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui,” (QS Al Anbiyaa : 7).

Isyarat pertama adalah adanya perubahan arah kepemimpinan politik Islam dari kepemimpinan jahiliyah. Kalau memperhatikan uraian sirah, ternyata Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra tidak langsung dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil al-Aqsha di Baitul Maqdis al-Quds (Yerusalem), tetapi melewati Yatsrib (Madinah), Madyan Thursina di Mesir, Bethlehem. Dari paparan tersebut, dapat dilihat adanya isyarat kepemimpinan dan kekuasaan Rasulullah serta umat Islam melampaui daerah yang disinggahi Rasul dan itu terbukti, bahkan melebihi daerah tersebut.

 

Itulah mengapa setelah Rasulullah SAW diperjalankan oleh Allah SWT, beliau dengan gigih melakukan dakwah dan perjuangan politik hingga tegak daulah Madinah, menggantikan sistem kepemimpinan jahiliyah yang selama ini berlangsung di jazirah Arab. Kepemimpinan Rasulullah SAW di Madinah otomatis menjadi tonggak baru bagi kepemimpinan peradaban Islam hingga beberapa abad setelahnya.

Isyarat kedua adalah adanya penegasan bahwa kepemimpinan Rasulullah SAW adalah kepemimpinan manusiawi yang sesuai dengan fitrah manusia. Hal ini bisa dilihat ketika Rasul SAW ditawari Jibril saat sampai di Baitul Maqdis, yaitu dua gelas minuman yang berisi susu dan khamar. Rasul SAW pun memilih susu.

Ketika Rasul SAW memilih susu, Jibril memberi komentar bahwa Rasul SAW mendapat petunjuk untuk memilih yang sesuai dengan fitrahnya. Ini tidak lain mengabarkan kita bahwa agama Islam yang dibawa Rasul SAW sesuai dengan fitrah manusia sepanjang masa.

Merindukan Kepemimpinan Islam

Umat saat ini tentu merindukan kepemimpinan Islam. Sebabnya, kesadaran keislaman mereka makin meningkat. Selain itu mereka juga sesungguhnya telah muak dengan sistem sekular-kapitalis-liberal yang terbukti gagal. Sistem ini hanya memproduksi banyak persoalan seperti: kemiskinan, pengangguran, utang luar negeri, dll.

Namun demikian, berbicara tentang kepemimpinan Islam sesungguhnya berbicara tentang dua hal: sosok pemimpin dan sistem kepemimpinan. Dua-duanya harus sesuai syariah.

  1. Pemimpin Islam

Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, beliau menyebutkan syarat-syarat syar’i yang wajib ada pada seorang pemimpin Islam (Imam/Khalifah) yaitu:

(1) Muslim;

(2) laki-laki;

(3) dewasa (balig);

(4) berakal;

(5) adil (tidak fasik);

(6) merdeka;

(7) mampu melaksanakan amanah Kekhilafahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW.

Syaikh an-Nabhani juga menyebutkan syarat tambahan—sebagai keutamaan, bukan keharusan—bagi seorang pemimpin di antaranya: (1) mujtahid;

(2) pemberani;

(3) politikus ulung.

Syaikh Abdul Qadim Zallum dalam kitab Al-Afkâr as-Siyâsiyyah juga menyebutkan beberapa karakter seorang pemimpin yaitu:

(1) berkepribadian kuat.

Orang lemah tidak pantas menjadi pemimpin. (HR Muslim).

(2) bertakwa.

Seorang pemimpin yang bertakwa akan selalu menyadari bahwa Allah SWT senantiasa memonitor dirinya dan dia akan selalu takut kepada-Nya. Dengan demikian dia akan menjauhkan diri dari sikap sewenang-wenang (zalim) kepada rakyat maupun abai terhadap urusan mereka.

(3) memiliki sifat welas kasih.

Ini diwujudkan secara konkret dengan sikap lembut dan bijak yang tidak menyulitkan rakyatnya.

(4) penuh perhatian kepada rakyatnya.

(5) istiqamah memerintah dengan syariah.

  1. Sistem Kepemimpinan Islam.

Sistem kepemimpinan Islam adalah sistem kepemimpinan yang dibangun oleh Rasulullah SAW. Dalam sirah nabawiyyah, berdasarkan riwayat-riwayat yang terpercaya, telah disebutkan informasi akurat mengenai bentuk dan stuktur sistem kepemimpinan yang dibangun Rasulullah SAW.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW di Madinah menunjukkan bahwa beliau membangun negara, melakukan aktivitas kenegaraan serta meletakkan landasan teoretis bagi bentuk dan sistem pemerintahan yang maju. Bahkan di kemudian hari, sistem pemerintahan Islam, baik yang menyangkut aspek kelembagaan maupun hukum, banyak diadopsi dan menjadi dasar bagi sistem pemerintahan modern.

Memang pada masa Rasulullah SAW sistem dan struktur kenegaraan belum dilembagakan dalam sebuah buku khusus. Namun demikian, praktik kenegaraan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat adalah perwujudan nyata dari sistem pemerintahan Islam, yang berbeda dengan sistem pemerintahan manapun.

Pemerintahan Islam yang dibangun oleh Rasulullah SAW meliputi asas negara, struktur, perangkat, mekanisme pemerintahan, serta kelengkapan-kelengkapan administratif. Pemerintahan Islam didasarkan pada prinsip: kedaulatan di tangan syariah dan kekuasaan di tangan rakyat. Pemerintahan Islam dipimpin oleh seorang khalifah yang bertugas untuk menerapkan dan menegakkan syariah Islam di dalam negeri serta mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Karena itu, aturan yang diberlakukan di dalam Daulah Islam adalah aturan Islam, bukan aturan lain.

 

Allah SWT berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ 

Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan (TQS an-Nisa’ [4]: 65).

Allah SWT pun berfirman:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ 

Hendaklah kamu (Muhammad) memutuskan perkara di tengah-tengah mereka menurut wahyu yang telah Allah turunkan (TQS al-Maidah [5]: 49).

Atas dasar ini, seluruh perundang-undangan di sistem dalam pemerintahan Islam, baik undang-undang dasar maupun undang-undang lain yang ada di bawahnya, wajib berupa syariah Islam yang digali dari akidah Islam, yakni bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah.

Dengan demikian agenda umat dan ulamanya saat ini sejatinya adalah bagaimana mewujudkan kepemimpinan Islam yang meliputi: sosok pemimpin Islam dan sistem kepemimpinan Islam. Kita berharap, hal ini bisa menjadi kesadaran dan opini umum kaum Muslim. Dengan itu aspirasi dan kecenderungan kaum Muslim tidak hanya sekadar memilih sosok pemimpin yang berkarakter sebagaimana disebutkan syarat-syarat dan kriterianya di atas. Lebih dari itu, mereka juga mau memperjuangkan sistem kepemimpinan Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW saat membangun Daulah Islam di Madinah. Sistem ini kemudian dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin yang oleh Rasul SAW disebut sebagai Khilafah ‘ala minhâj an-Nubuwwah.

Aammiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.

Wallahua’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.