Mencari Hikmah Hari Raya Kurban di tengah New Normal

Oleh : Desi Anggraeni Putri (Aktivis Dakwah)

Tepat pada Jum’at 31 Juli 2020, dunia dengan serentak merayakan Hari Raya Idul Adha. Perlu diketahui, betapa beruntungnya orang yang menunaikan haji tahun ini. Karena mereka tidak perlu berdesak-desakan dalam mencium batu hitam mulia hajar Aswad. Dalam kondisi sedang pandemi ini, membuat putaran orang yang menunaikan haji harus mengikuti protokol kesehatan yang telah ditentukan. Oleh karena itu wabah Corona, tidak menjadikan halangan beribadah. Hal ini semata-mata cara Allah SWT mengistimewakan orang-orang ini dan ini pun menjadikannya sebagai bentuk ketaatan hamba kepada Rabb-Nya.

Wabah Corona mulai datang di akhir bulan Desember 2019 dan begitu cepat menyebar bahkan sampai keseluruh dunia. Tak terkecuali Indonesia. Mereka mulai ramai dibicarakan hingga pada bulan Maret 2020, kondisi perekonomian di Indonesia yang kritis memaksanya agar bisa menjadi lebih baik. Dengan menerapkan kebijakan “New Normal”. Sayangnya, ketika diberlakukan “New Normal”, justru perkiraan data yang Positif perhari mencapai 1000-2000 orang terinfeksi.

Selain itu, pandemi pun menghasilkan banyak krisis lanjutan bukan hanya dari segi kesehatan. Namun, berdampak pula pada sektor ekonomi dan sektor sosial (Pendidikan, ketahanan keluarga, kerusakan generasi). Hal ini sangat jelas, ketika melihat fakta, bahwa antisipasi penanganan dan strategi mengurangi dampak buruk melalui agenda New Normal sepertinya belum mampu menjadi solusi.

Bagaimana Islam Menghadapi Wabah?

Ternyata, dulu ketika di zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan di zaman sahabat Rasulullah yaitu Umar bin Khattab, pernah terjadi wabah. Solusinya dengan memberlakukan sistem lock down. Dengan tegas dan beraninya, agar virus tidak cepat menyebar.

Sesuai hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Disini sangat jelas, bahwa kita tidak boleh keluar dari wilayah, agar tidak ada penyebaran. Selain itu, juga dari sektor kesehatan, makanan, minuman, bahkan ekonomi, seorang pemimpin dengan penuh tanggungjawab memenuhi sepenuhnya kondisi rakyat. Tinta emas peradaban islam menulis bahwa ketika krisis ekonomi di zaman Umar bin Khattab, sebagai seorang Khalifah, ia lebih memilih untuk mengikat kuat ikat pinggangnya. Artinya ia bertahan untuk tidak makan layaknya melihat rakyatnya kelaparan. Rasa empati yang muncul dari seorang khilafah ini adalah bentuk dari sebuah keimanan dan ketaatan, yang didalamnya ada rasa tanggungjawab dan sebuah kesabaran untuk menjalani kehidupan di dunia.

Hikmah Idul Adha Ketika Pandemi
Sejarah adanya Hari Raya Idul Adha, berkurban dan melaksanakan ibadah haji. Adalah hasil dari sebuah bentuk ketaatan yang sempurna, hingga rela berkorban demi meraih keridhoan dari Allah Subahanahu Wa Ta’ala. Maka sepatutnya umat islam menyikapinya dengan rela berkorban untuk menjadikan Islam sebagai sistem dengan ditegakkannya syariat sebagai solusi.

Sejatinya, pandemi bukan sebuah keterpurukan secara totalitas, tapi adanya sebuah hikmah yang bisa kita ambil. Yaitu dengan mengambil Islam sebagai aturan dalam kehidupan.

Kebutuhan untuk mendapatkan solusi atas krisis akibat pandemi, semestinya menguatkan kesadaran seluruh komponen umat untuk taat secara sempurna, dengan menerapkan Islam secara kaffah (menyeluruh) yang langsung aturan langsung dari Sang Pengatur Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan menguatkan tekad untuk berkorban seluruh daya upaya demi menegakkan aturan Allah dalam kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *