Menata Ulang Ekonomi Keluarga Ditengah Pandemi

Oleh: Endah Husna

Covid-19 belum juga ada tanda-tandanya punah, wabah yang semakin membuat manusia tak tentu arah. Utamanya yang paling merasakan akan dampak dari wabah ini adalah Ekonomi Rumah tangga atau keluarga, yakni yang tidak mempunyai penghasilan tetap atau bekerja di sektor informal. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan sektor rumah tangga mengalami tekanan dari sisi konsumsi.
Bank Indonesia pun melaporkan adanya penurunan konsumsi rumah tangga. (https://bisnis.tempo.co/read/1339205/bank-indonesia-komsumsi-rumah-tangga-dan-investasi-turun). Kemudian peneliti dari Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Zainul Hidayat memperkirakan ada 17,5 juta rumah tangga terancam termiskinkan karena penurunan upah dan bahkan PHK yang semakin mengkwatirkan angkanya, sebagai akibat pandemi ini.

Dalam survei online yang diadakan oleh Komnas Perempuan tentang Perubahan Dinamika Rumah Tangga dalam masa pandemi Covid-19 yang berlangsung pada bulan April hingga bulan Mei 2020, didapati bahwa peremluan adalah salah satu kelompok yang rentan. Yakni perempuan pekerja yang berpenghasilan kurang dari 5 juta rupiah per bulan, pekerja informal, berusia antara 31-40 tahun, berstatus perkawinan menikah, memiliki anak lebih dari 3 orang, dan menetap di 10 provinsi dengan paparan tertinggi Covid-19. Mereka adalah kelompok paling terdampak baik dari segi kesehatan fisik dan psikis, sosial dan ekonomi dalam rumah tangga, dan rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangga(KDRT).(https://www.komnasperempuan.go.id/read-news-siaran-pers-hasil-kajian-komnas-perempuan-tentang-perubahan-dinamika-rumah-tangga-dalam-masa-pandemi-covid-19-3-juni-2020).

Demikian suram harapan didepan mata, cita-cita hidup tercukupi kian jauh saja, jika melihat pandemi belum juga berakhir, ditambah penanganan pandemi yang lebih mementingkan menyelamatkan sektor ekonominya ketimbang sektor kesehatan dan nyawa rakyatnya. Jika manusia punah, siapa yang akan menjadi pelaku berlangsungnya ekonomi? Apakah para kapitalis saja? Yang bisa berlindung dibalik kebijakan-kebijakan yang abnormal ini. Kapitalis tega membiarkan rakyatnya menderita, padahal sesungguhnya mereka mampu membantunya.

Kapitalis hanya menginginkan kemakmuran dan kesejahteraan menjadi milik mereka sendiri. Bertindak jika ada manfaat. Sistem inilah yang sedang diterapkan dinegeri 62+ini. Yakni sistem yang memisahkan agama dalam mengurusi seluruh permasalahan kehidupan sehari-hari manusia. Maka yang terjadi adalah adanya solusi atau kebijakan-kebijakan yang jauh dari sistem atau aturan Allah SWT.

Berbeda dengan Islam yang mempunyai aturan yang sempurna. Mulai dari individu, masyarakat dan negara. Berikut beberapa tuntunan Islam yang bisa kita lakukan ketika kita dihadapkan dengan masalah keuangan di masa pandemi ini:

1) Memahami dan meyakini bahwa Rizki adalah ketetapan Allah SWT.
2) Membicarakan kondisi keuangan denfan anggota keluarga.
3) Prioritaskan kebutuhan pokok.
4) Mengutamakan penuaian kewajiban
5) Tidak besar pasak daripada tiang.
6) Berhemat dan sederhana.
7) Membantu pendapatan keluarga.
8) Menyisihkam sebagian harta untuk bersedekah.

Kemudian dari sisi negara, negara wajib mengurusi urusan rakyatnya dan memastikan setiap individu rakyat muslim maupun non muslim terpenuhi semua kebutuhan dasarnya secara layak, lebih-lebih saat pandemi. Biaya dari semua pemenuhan ini diperoleh dari sumber daya alam yang dimiliki oleh negeri ini. Keselamatan nyawa manusia menjadi hal pokok yang diperhatikan Islam, apalagi saat terjadi pandemi seperti sekarang.

Inilah sistem Islam yang tidak hanya mampu menyelamatkan ekonomi rumah tangga, tapi ekonomi dunia dengan tegaknya Syariat Islam dimuka bumi.
Wallahu a’lam biasshawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *