Mempersiapkan Ramadhan Terbaik di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh: Siti Farihatin, S.Sos (Guru Kelompok Bermain dan Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam)

Pandemi covid-19 layaknya gunung es yang semakin hari semakin memakan banyak korban. Indonesia mendapat peringkat no 1 se asia Tenggara setelah Singapura dengan korban sebanyak 6.000 lebih. Bagi seorang muslim, yang beriman kepada Allah, tentunya harus senantiasa mengingat Allah dan memperkuat keyakinan bahwa Allah Maha Pencipta dan Maha Pengatur. Segala sesuatu yang Ia ciptakan wajib tunduk pada aturan-Nya.

Dalam hal virus corona, setiap mukmin wajib meyakini bahwa makhluk mikron tak kasat mata ini pun ciptaan-Nya. Dan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan qodarnya. Allah telah menciptakan api mempunyai qodar (khosiyat) membakar. Allah pun telah menciptakan virus dengan qodar dapat menjangkit manusia hingga menyebabkan sakit. Allah juga telah menciptakan manusia dengan qodar memiliki akal untuk memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah SWT dalam firman-Nya sering kali memperingatkan manusia untuk mnggunakan akalnya dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah lantas mengambil pelajaran darinya. “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (QS Al Ghosiyah:17-21)

Demikian juga dibalik terciptanya wabah corona. Telah pasti bahwa manusia dengan kapasitasnya harus berupaya penuh memikirkan tentangnya, memetik hikmah di balik penciptaan corona. Bagi yang bukan ahli dan tidak memiliki kapastas untuk itu, tetaplah wajib membangun keimanan bahwa  corona, makhluk Allah tak kasat mata itu pun menunjukkan tanda kebesaran Allah. Betapa dunia guncang , atas kehendak-Nya semata manusia tak berdaya di hadapan makhluk kecil tak kasat mata bernama corona.

Datangnya wabah atau suatu penyakit juga demikian. Semuanya adalah ketetapan (qodlo) dari Allah. Dalam hal ini seorang muslim wajib iman bahwa Allah telah menciptakan suatu penyakit, dan Allah pula telah menciptakan obatnya.  Sebagai seorang muslim yang beriman kita diwajibkan untuk ridho dengan qodho’Nya. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Innalillahi wainna ilaihi roji’un.

Hikmah dari wabah covid-19 ini bisa kita rasakan bagaimana seorang muslim akan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi insal kamil untuk menyambut ramadhan, bulan suci yang ditunggu tunggu kedatangannya. Meskipun dengan adanya wabah ini tapi tidak akan menyurutkan diri kita untuk lebih mendekatkan dan dan menyambutnya karena bulan ramadhan ini adalah bulan yang penuh dengan keberkahan

Ramadhan yang ditunggu tunggu sudah di depan mata, tinggal menghitung hari untuk bisa bertemu dengannya. Meskipun di tengah wabah corona yang spt ini kita harus melaksanakan apa yang menjadi kewajiban seorang muslim menahan lapar dan dahaga di siang hari dengan keikhalasan yang maksimal. Itu adalah konsekwenai seorang muslim karena akan mendapatkan pahala ketika kita mampu untuk melaksanakannya. Dan sebaliknya ketika kita meninggalkan maka akan mendapat dosa.

Di tengah wabah covid-19, yang faktanya semua diliburkan mulai dari sekolah sampai beberapa pekerja diberhentikan bukan berarti kewajiban (puasa ramdhan) ditiadakan, karena itu semua sudah kewajiban sebagai seorang muslim. Kita harus benar2 mempersiapkan dengan sebaik baiknya untuk menyambut bulan yang suci ini, dan tidak memgabaikannya. Meskipun jikalau wabah ini belum berakhir ketika ramadhan datang dan masjid-masjid terlihat sepi karena tidak adanya terawih yang dilakukan jamaah itu tidak akan menyurutkan kita sebagai seorang muslim melaksanakan yang wajib karena puasa adalah perintah syari’at yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim.

Negara dan penguasa juga mempunyai peran yang penting dalam situsi yang semakin memanas ini, negara harus menjamin kesehatan, keamanan dan kebutuhan masyarakat di tengah pandemi. Sudah menjadi rahasia umum bagaimana pemimpin Umar bin Khatab dalam tarikh Khualafah ketika terjadi wabah tho’un beliau menjadi garda terdepan untuk mencegah wabah. “Apabila kamu mendengar wabah terjangkit di suatu negwri jangalah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu terjangkit di negeri yang kamu berada di dalamnya janganlah keluar dari negwri itu hendak melarikan diri”

Kebijakan yang jelas dan tidak menimbulkan kebingungan bagi rakyatnya, dengan lockdown secara sempurna maka wilayah yang terdampak wabah akan mendapat perhatian khusus dengan menyembuhkan yang terdampak wabah. Dan bagi wilayah yang tidak terdampak wabahh, maka mereka bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.

Begitulah gambaran sempurna Islam menyelesaikan wabah, ketika tidak kita dapati dalam sistem ini sosok pemimpin yang amanah maka kita wajib meningkatkan iman dan yakin bahwa ini adalah qodho’ Allah, senantiasa menjadi manusia yang mengingat Allah dan berfikir positif untuk kedepannya. Ketika Allah menciptakan penyakit pasti Allah juga menciptkan obatnya.

Tidakkah kita disini sudah muak dengan kondisi kedzoliman penguasa? Dan menjemput kemulyaan Islam?? Agar kita bisa melaksanakan setiap aktivitas dengan kesempurnaan dan keberkahan, seperti bulan yang sedang kita nanti ini yaitu bulan ramadhan yang penuh dengan keberkahan. Mersiapkan diri kita untuk menyabutnya dengan penuh suka cita tanpa ada pikiran negatif yang menimpa. Corona, semoga segera berakhir sebelum ramadhan menjelanang. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *