Mempersiapkan Diri Menyambut Amanah Baru

Oleh: Nursonah

Amanah itu apa ya? Apa yang kita harus persiapkan dalam menyambut amanah tersebut? “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. Sehingga Allah mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 72-73).

Imam Al-Aufi dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Yang dimaksud dengan al-amanah adalah, ketaatan yang ditawarkan kepada mereka (langit, bumi, dan gunung-gunung) sebelum ditawarkan kepada Adam ‘Alaihissalam, akan tetapi mereka tidak menyanggupinya. Lalu Allah berfirman kepada Adam, ‘ Sesungguhnya Aku memberikan amanah kepada langit dan bumi serta gunung-gunung, akan tetapi mereka tidak menyanggupinya. Apakah engkau sanggup untuk menerimanya?’ Adam menjawab, ‘Ya Rabbku, apa isinya?’ Maka Allah berfirman, ‘Jika engkau berbuat baik maka engkau akan diberi balasan, dan jika engkau berbuat buruk maka engkau akan diberi siksa’. Lalu Adam menerimanya dan menanggungnya. Itulah maksud firman Allah, ‘Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh’.”

Ketika masih muda kita bersemangat menjalankan amanah sebagai seorang pelajar mulai dari SD lanjut ke SMP, SMA hingga akhirnya menjadi seorang mahasiswa. Setelah lulus kuliah kita harus mempersiapkan untuk mengemban amanah untuk terjun kedalam lingkungan masyarakat seorang laki-laki harus mempersiapkan amanah menjadi seorang imam bagi keluarganya, seorang wanita dengan amanah menjadi seorang istri yang insyallah akan menjadi seorang ibu. Bagi yang akan menikah maka harus mempersiapkan amanah tidak hanya untuk menjadi seorang istri/ suami tapi dimulai dari mencari pasangan sesuai dengan harapan rumah tangga ideal bagi kita. Semuanya dicapai untuk menjadi mardhatillah sejati.

Ketika kita diberi amanah tentu pemberi amanah percaya bahwa kita mampu mengemban amanah tersebut. Siapa pemberi amanah tersebut, tentu saja hakikatnya dari Allah SWT. Contoh dan suri tauladan kita dalam menjalankan amanah adalah Rasul kita Nabi Muhammad SAW, bagai mana beliau mengemban amanah untuk menyebarkan islam di bumi, perjuangan dengan banyak kegetiran yang beliau alami dalam menjalankannya tetapi tidak ada sedikitpun terucap keluhan dari beliau, beliau menjalankan semuanya dengan ikhlas berharap ridha Allah ta’ala.

Yang pertama kali harus dilakukan sebelum menyambut amanah baru adalah berbenah diri. Dilakukan dari hal yang terkecil yaitu merubah diri sendiri sesuai dengan standar Allah SWT.

Banyak bertafakur diri bersujud dihadapanNya, mengevaluasi setiap kekurangan dan kelebihan yang dimiliki. Meminta kepada Allah yang maha membolak-balikan sesuatu, bertaubat dan berupanya memperbanyak amal sholeh. Sehingga kita bisa semakin dekat dengan keridhoanNya.

Ketika Allah memberikan amanah kepada kita itu merupakan suatu proses pembinaan, penjagaan, serta kasih sayang Allah kepada kita agar kita selamat dunia dan akhirat. Sambutlah setiap amanah yang datang, karena setiap amanah yang dating kepada kita tentunya hanya dari Allah semata.

Persiapkan diri dalam melaksanakan amanah yang diberikan dengan cara luruskan niat, dan motivasi karena Allah semata, laksanakan amanah yang hakikatnya Allah SWT percaya bahwa kita mampu melaksanakannya. Mintalah kepada Allah dengan penuh harap agar kita diistiqomahkan dalam menjalannnya. Dekatkanlah diri kita kepada Allah, agar Allah dekat dengan kita.
Wallahu’alam bish shawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *