Memoar Kebrutalan Gerakan PKI dan Bahaya Laten Komunisme Gaya Baru  

Oleh : Taofik Andi Rachman, M.Pd.

(Pengisi Tetap Channel Youtube Majelis Baitul Ummah)

 

Komunisme sebagai sebuah ideologi yang dibawa Karl Marx sudah menjadi momok dan paling brutal dari sejarah kelam di banyak negara. Ideologi ini paling sadis sudah menyebabkan 120 juta jiwa manusia musnah sejak awal muncul di tahun 1917 sampai tahun 1999. Sehingga korban rata-rata 4.500 orang dalam satu hari.

Angka ini, tiga kali lipat banyak daripada total korban dari semua perang dunia dan perang lokal yang terjadi pada abad 20 sebanyak 38 juta korban.

Ideologi komunisme diturunkan melalui pemikiran dan buku-buku Karl Marx dan Friedrich Engels. Lewat buku kedua tokoh tersebut, memang disebutkan bahwa perebutan kekuasaan dilakukan dengan kekerasan. Benturan fisik antar masyarakat (Historical Dialectical Materialism) juga merupakan sebuah keharusan untuk membentuk masyarakat baru yang lebih ideal.

Sejarah mencatat ideologi ini melakukan pemberontakan atau kudeta di 75 negara. Komunisme telah berhasil di 28 negara, dan gagal di 47 tempat.  Faktanya menarik, 24 negara dari 28 negara berpaham komunis sudah hancur lebur dan ekonominya amburadul mengakibatkan rakyatnya mengungsi ke negara lain. 4 negara lain sedang terseok-seok, 2 negara mengadopsi ekonomi kapitalis yaitu China dan Vietnam. Sedangkan 2 negara lain menjalankan secara murni namun menjadi negara muskin tidak berdaya, Cuba dan Korea Utara.

Komunisme yang berkembang oleh pemikir dan penggeraknya menjadi Marxisme, Leninisme, Stalinisme, Maoisme, Hoisme, Aiditisme dan PolPotisme telah mendapat kesempatan berkuasa atau setidaknya mempengaruhi kekuasaan di tempatnya. Walaupun sudah diberi kesempatan berkuasa di sejumlah negara namun ternyata gagal memenuhi obsesi mensejahterakan rakyat dan membentuk masyarakat ideal. Ketika pemimpin partai komunis memegang kekuasaan dan memimpin negara, ternyata mereka lebih bobrok, korup, tidak kompeten dan juga bahkan bisa membabat rakyat sendiri. Akhirnya, seperti bunga dandelion ditiup angin, negara-negara komunis itu runtuh dan rapuh berterbangan. Kemudian negara itu menyatakan membuang ideologi komunisme. Ide sama rata sama rasa dan kemakmuran rakyat tidak pernah terwujud. Masyarakat ideal tanpa kelas juga hanya halu tingkat tinggi.

Puncaknya di tahun 1991 pada saat Presiden Soviet Rusia Boris Yeltsin membubarkan Partai Komunis Soviet Rusia, partai komunis tertua di dunia. Dunia shock. Rusia sudah tidak lagi memakai ideologi komunisme sebagai dasar negara, dan menyatakan sebagai ideologi bangkrut. Negara komunis lain RRC, Kuba, Korea Utara, dan Vietnam tercengang. Merasa bernasib sama atas kemampuan komunisme yang tidak bisa diandalkan. Sebagian negara melakukan perubahan dan mengkhianati ideologinya, sebagian lain menerima menjadi negara sengsara.

Indonesia sudah lama meninggalkan ajaran ini bahkan melarang keberadaanya setelah terjadi pemberontakan G30S PKI. Uniknya, pemberontakan komunisme di 75 negara itu umumnya satu kali saja, jika gagal maka tidak terjadi lagi. Namun di Indonesia sudah memegang rekor dunia sudah tiga kali melakukan pemberontak dan kudeta gagal pada tahun 1926, 1948, dan 1965.

 

  1. Gerakan PKI Tahun 1926

Ideologi komunisme masuk ke Indonesia pada tahun 1914. Ide ini masuk ke Indonesia dibawa Sneevliet dan Adolf Baars asal Belanda mendirikan Indische Sociaal Democratische Vereenigin (ISDV). Pada tahun 1920, ISDV menggelar Kongres di Semarang dan mengganti nama menjadi Perserikatan Komunis Hindia Belanda yang disingkat PKH. Kemudian berubah kembali dengan nama Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1924.

Awalnya, Syarikat Islam (SI) melihat ISDV hanya Asosiasi Buruh, tidak ada kaitan dengan Komunis. Karena ISDV anti Kapitalis dan SI juga anti Kapitalis maka ada kerja sama dalam perjuangan di antara dua organisasi ini. Namun setelah ISDV mengganti nama menjadi Perserikatan Komunis Hindia Belanda, SI tidak mau lagi bergabung dengan mereka. Namun, PKH merebut banyak anggota dari SI.

Pada tahun 1926, PKI melakukan pergerakan besar dengan membakar pabrik-pabrik, perkebunan, dan perusahaan. Mereka lakukan kerusakan di banyak tempat di Hindia Belanda. Kemudian untuk menghancurkan pemerintahan Hindia Belanda dan menancapkan ideologi komunisme di pemerintahan, mereka menyerang kantor-kantor Hindia Belanda di beberapa tempat.

Pemerintah Hindia Belanda marah dan menggagalkan semua upaya mereka. Kemudian menangkap pimpinan PKI ketika itu yaitu Semaun, Darsono, Muso dan Alimin. Dan mereka semua dibuang ke Moskow, Rusia. Konsekuensinya, ribuan orang yang terlibat dihukum mati dan sekitar 13.000 orang ditahan, 4.500 dipenjara, 1.308 diasingkan, dan 823 dikirim ke Boven Digul, sebuah kamp tahanan di Papua. Kebanyakan mereka merupakan para petani dan buruh. Dari dulu PKI sering mengorbankan rakyat kecil, buruh dan petani. Dari sini, PKI pun dibubarkan.

Pergerakan 1926 ini bukan untuk kemerdekaan Indonesia namun hanya ingin mengubah Hindia Belanda yang kapitalis menjadi pemerintahan komunis Hindia Belanda.

 

  1. Gerakan PKI Tahun 1948

Pada saat Indonesia merdeka, tanggal 17 Agustus 1945, yang merumuskan kemerdekaan adalah tokoh-tokoh Islam dan tokoh-tokoh Nasional. Tokoh-tokoh ini juga merupakan anggota Rapat Persiapan untuk Kemerdekaan Indonesia. Tokoh PKI tidak ada yang ikut memerdekakan Indonesia, bahkan ketika Jepang ada di Indonesia para tokoh yang diasingkan di Moskow juga tidak ikut berjuang. Padahal mereka bisa pulang setelah tidak ada Belanda yang mengasingkan mereka.

Setelah merdeka tokoh PKI ini baru pulang ke Indonesia. Kemudian tanggal 21 Oktober 194, setelah dua bulan Indonesia merdeka, mereka mendeklarasikan kembali PKI yang dipimpin oleh Muso. Namun tidak ada yang memperhatikan mereka karena memang tidak ada jasanya.

Agar mereka dianggap di saat Negara baru ini lahir dan sedang lemah-lemahnya, mereka melakukan teror di mana-mana. Pada bulan November 1945, mereka bergerak di basis mereka. Ketika itu sudah banyak pengikut di Tegal, Brebes, Pemalang, dan Pekalongan khususnya jawa tengah. Beberapa Bupati, Camat, Lurah dan Kepala Polisi ditangkap. Pejabat ini dipaksa untuk turun dari jabatannya, diganti dengan orang-orang PKI, kalau tidak, akan dibunuh.

Akhirnya mereka mendapatkan perhatian dan dipanggil oleh Sukarno. Sukarno membujuk mereka untuk tidak mengganggu rakyat. Pada tahun 1947, terpaksa akhirnya Bung Karno mengangkat Tokoh PKI menjadi Perdana Menteri (PM) Republik Indonesia yang bernama Amir Syarifuddin Harahap.

Saat menjadi PM, orang-orang PKI dimasukkan ke dalam jabatan-jabatan pemerintahan dari Tentara, Polisi, Pegawai Negeri Sipil, Camat, Bupati, sampai di mana-mana PKI jadi Pejabat.

Pada 17 Januari tahun 1948 terjadi perjanjian Renville antara Indonesia dengan Belanda. Indonesia diwakili oleh Perdana Menterinya yaitu tokoh PKI ini, dan hasil isi perjanjiannya sangat merugikan Indonesia dan menguntungkan Belanda. Ada upaya membuka Pintu Belanda masuk lagi ke Indonesia. Dan akhirnya tanggal 23 Januari 1948, 5 hari setelah Perjanjian Renville, Amir Syarifuddin diberhentikan dari PM dan kabinetnya dibubarkan.

Tokoh-tokoh Islam dan Nasionalis meminta Mohammad Hatta jadi PM dan menyelamatkan Indonesia dari PKI. Pada Mei 1948, beliau lakukan melakukan Program RERA (Rekonstruksi Rasionalisasi). Seluruh Orang PKI yang ada di TNI, PNS, dan Pejabat diberhentikan.

PKI marah kemudian pada tanggal 10 September, PKI mengumumkan di Madiun, ada satu Negara Baru yang namanya adalah Negara Republik Soviet Indonesia. Presidennya Muso dan Wakil Presidennya Amir Syarifuddin, Mantan PM Republik Indonesia. Mereka melakukan pembantaian siapa pun yang tidak sejalan. Sampai setelahnya di temukan 7 sumur dengan ribuan mayat. Dengan yel-yel ‘Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati’ PKI menyerbu pesantren dan membantai penghuni di dalamnya.

Kiyai dan santri Nahdlatul Ulama (NU), Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dan masyarakat anti PKI ditarik, diculik dan dimasukkan dalam pabrik gula Gorang Gareng. Banyaknya yang PKI bunuh mengakibatkan banjir darah di dalam pabrik gula itu.

Negara Republik Soviet Indonesia pun dihancurkan dan diserbu oleh TNI dari Jawa Timur dan Jawa Barat. Namun, Sukarno tidak mau membubarkan PKI. Sukarno mengatakan bahwa gerakan 1948 ini merupakan kesalahan segelintir oknum saja. Hanya salah Muso Alimin dan Amir Syarifuddin, anggota lain dan partai jangan disalahkan.

 

  1. Gerakan PKI Tahun 1965

Semenjak saat itu PKI diambil alih oleh D.N Aidit, Lukman dan Nyoto mengambil alih PKI. Tiga anak muda ini mendekati Sukarno. Mereka memuji-muji Sukarno. Bahkan, Seluruh Program Sukarno mereka dukung. Sampai-sampai Sukarno bersahabat dekat dengan PKI.

Tahun 1955 PKI resmi ikut Pemilihan Umum (PEMILU) pertama di Indonesia. Dan mengejutkannya, PKI menang 4 besar setelah PNI (Partai Nasional Indonesia), (Masyumi), NU (Nahdlatul Ulama).

Di bulan September 1957, digelar Kongres Ulama se-Indonesia di Palembang, Sumatra Selatan. Meminta kepada Presiden Sukarno untuk mengeluarkan Dekrit, Pelarangan Paham Komunis dan Pembubaran Partai PKI. Karena selalu tidak dianggap, segelintir tokoh bersama tentara nasionalis di Sumatra mengoreksi pemerintahan Sukarno. Kemudian mendirikan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia), yang sebenarnya untuk melawan PKI.

Tahun 1960, PKI memprovokasi Sukarno untuk membentuk Politik Nasakom (Nasionalisme, Agama dan Komunisme). Ketika itu NU, PNI dan PKI mendukung Nasakom. Karena Masyumi tidak mendukung, di tahun itu juga, dibubarkan.

Kemudian di tahun 1963, PKI memprovokasi lagi Sukarno untuk Ganyang Malaysia. Banyak organisasi Islam protes tidak setuju ganyang Malaysia begitu juga dengan politik nasakom dan rencana dipersenjatainya Buruh dan Tani. Akibatnya, ormas Islam GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dibubarkan. Semua yang tidak setuju dengan Politik Sukarno, pasti dibubarkan. Ulama-Ulama yang protes pun ditangkap dan dipenjara seperti KH. Buya Hamka, dan Kiyai lain karena Anti PKI.

Pada bulan Juli tahun 1965, Sukarno mengizinkan dibentuknya angkatan Kelima, Buruh dan Tani diberikan senjata. PKI mendatangkan 2.000 kadernya ke Jakarta untuk dilatih perang di lapangan Halim Perdana Kusuma.

TNI Angkatan darat sudah gerah dengan aksi PKI karena banyak kolonel dan prajurit direkrut PKI. PKI pun menganggap TNI AD sebagai ancaman. Tanggal 30 September pagi, Gerwani (Gerakan Waniata Indonesia) dan Pemuda Rakyat Milik PKI melakukan demo besar-besaran, puluhan ribu orang di Jakarta. Pada malam harinya, PKI menculik 7 Jenderal lalu membawanya ke Lubang Buaya. Dan besoknya, Radio Republik Indonesia (RRI) dikuasai. PKI mengumumkan bahwa telah dibentuk Dewan Revolusi Baru mengambil alih kekuasaan. Supaya Rakyat tidak marah, mereka menambahkan kalimat ‘Sukarno tetap Presiden kita’.

Alhamdulilah, Jenderal Abdul Haris Nasution selamat diri dari sergapan PKI dan menjadi think tank penyerangan balik. Dan ketika itu Letnan Jenderal Suharto diminta untuk segera memimpin TNI Angkatan Darat. Suharto merebut RRI pada tanggal 2 Oktober dan mengumumkan ke seluruh Indonesia bahwa kudeta PKI kacau balau, negara tidak bisa diambil alih oleh PKI, tentara mengambil alih dan Sukarno tetap sebagai Presiden.

Kemudian Suharto mengerahkan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat). RPKAD dipimpin oleh Sarwo Edhi untuk menyerbu Halim Perdana Kusuma. Mereka bertempur dengan PKI dan menangkapnya, di antaranya ada Tentara Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Polisi dan Cakrabirawa yang di berafiliasi dengan PKI.

Karena melihat kekejaman PKI, NU demo di kota-kota di Pulau Jawa menolak kekejaman PKI. PKI tersinggung dan terjadi bentrok besar-besaran antara NU dan PKI. Banyak kiyai dan santri dipenggal sebagaimana sebelumnya. Namun, NU bersama masyarakat dan TNI menyerang balik dan melumpuhkan PKI.

Setelah terjadi pergolakan, PKI resmi dibubarkan setelah Letjen Suharto menerima mandat Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari presiden.

 

  1. Gerakan PKI Gaya Baru

Masyarakat mengira bahwa keberadaan komunisme sudah mati setelah penumpasan habis-habisan saat pemerintahan Presiden Suharto sebelumnya. Apalagi saat Uni Soviet berakhir akibat kebijakan Glasnost Prestorica Pemerintahan Mikhail Gorbachev di tahun 1990. Komunisme sudah bangkrut dan partainya dibubarkan. Namun, ideologi akan terus ada dan akan ada yang selalu memungutnya walaupun sudah jadi sampah peradaban manusia.

Kelompok Komunisme Gaya Baru (KGB) mulai merangsek di institusi strategis dan melakukan pengalihan isu terhadap sejarah kelam dan kejam G30S PKI. KGB mengkonsolidasi di internal pengikut komunisme, mengadakan kajian ilmiah berkaitan komunisme, menerbitkan buku pencitraan positif atas komunisme, kemudian mendesak pemerintah membentuk Komite Kebenaran dan Rekonsiliasi terhadap korban 65, sampai ada isu upaya minta maaf presiden Jokowi ke PKI.

Usaha paling baru, beberapa kebijakan dan peraturan, diduga kuat berkaitan paham komunisme. Seperti pada Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) kemarin. Sampai-sampai Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta dilakukan pengusutan kepada para inisiator RUU yang bercorak menghidupkan kembali paham komunisme.

Kejadian ketika PKI masih ada juga mirip dengan kejadian sekarang ini. Ada HTI yang dibubarkan, FPI dibidik, Ulama dan Aktivis dikriminalisasi, kebebasan berbicara dibatasi, bersuara di dunia maya dijegal pasal ITE (Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik), mengkritik dianggap subversif dan penyerangan terhadap Ulama sudah sering kita lihat. Dan kejadian lainnya.

Sehingga, Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) bergerak dan membuat surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo. Di Dalam surat itu, KAMI menuntut agar Jokowi  bertindak dengan serius atas gejala kebangkitan neo PKI dan komunisme gaya baru yang dinilai nyata.

Dalam surat itu juga dinyatakan bahwa anak cucu kaum komunis ternyata sudah menyelusup ke lingkaran-lingkaran legislatif maupun eksekutif. Anak cucu kaum komunis ini menutup mata terhadap fakta sejarah, bahwa orang komunis yang lebih dulu membantai para ulama dan santri.

Kaum KGB merupakan Neo Komunis dengan tujuan untuk membangkitkan kembali ideologi komunisme. KGM menggunakan modus pergerakan anti korupsi, penegakkan HAM, pemberantasan kemiskinan dan kebodohan, dan pembelaan terhadap rakyat. Namun, itu semua hanya kedok untuk meloloskan tujuan mereka. KGB bergerak dengan cara lebih nyata dan menyusup ke mana-mana bersifat asimetrik dengan strategi soft power.

Fenomena ini sangat meresahkan dan ancaman nyata terhadap kehidupan bangsa Indonesia. Pengulangan kekejaman sejarah PKI bisa terjadi lagi jika tidak dicegah sesegera mungkin.

Pencegahan untuk mengatasi ancaman tersebut, bisa dilakukan sebagaimana pendapat Prof. Dr. Din Syamsudin yaitu, pertama dengan pendidikan. Penguatan landasan pendidikan di tingkat sekolah, dengan memahamkan sejarah kekejian PKI sehingga anak muda dan rakyat tertanam bahaya ideologi komunis sejak kecil.

Kedua, adanya perubahan struktural. Pemerintah, parlemen dan partai politik harus memberikan perhatian penuh dalam masalah KGB ini, jangan sampai komunisme masih diberi ruang untuk bergerak di Indonesia. Padahal Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 Tahun 1966 telah mengatur larangan ajaran komunisme, marxisme dan leninisme. Khususnya upaya KGB masuk lebih dalam ke ranah struktural pemerintah, parlemen dan partai politik.

Ketiga, proses politik harus segera dibenahi. Semua masalah KGB yang dihadapi ini merupakan sebuah proses politik. Oleh sebabnya, pemangku kebijakan harus mengambil keputusan yang dapat mengatasi masalah tersebut dengan juga secara politik. Namun beliau menyayangkan sikap pemerintah yang seolah-olah abai dan tidak melakukan tindakan apa-apa terhadap kebangkitan komunisme dan PKI. Padahal kondisi ini sangat membahayakan bagi bangsa Indonesia.

Kaum muslim juga harus bergerak bersama menyatukan misi untuk melawan penyebaran ideologi komunisme. Ideologi Islam secara alami merupakan lawan atas kezhaliman dan ideologi yang berdasarkan materialisme ini. Ideologi Islam juga sudah membabat habis konsep komunisme baik dari segi pandangan filosofis kehidupan bahkan pada sisi sistem baik sosial, ekonomi dan lainnya. Sistem ekonomi komunisme tidak bisa diandalkan dari awal, dalam kitab Sistem Ekonomi Islam (Nizhamul Iqtishadi fil Islam) sudah dijelaskan kenapa bisa seperti itu. Sehingga kita perkuat kembali Islam sebagai ideologi solusi di tengah masyarakat agar penyebaran komunisme tidak terjadi kembali. []

Selesai, Wa AllahuA’lam.

Dari Berbagai Sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *