Membongkar Kebusukan Ide Liberalisme Atas Nama Seni

Oleh : Heni Andriani (Ibu Pemerhati Umat dan Member AMK)

Jikalau kita mencermati kondisi saat ini terutama yang dijalankan para aktris semakin hari bermunculan aksi yang membuat jagat dunia maya heboh entah karena mencari sensasi agar ratingnya naik ataukah memang memiliki suatu misi.

Peran media sosial dijadikan untuk ajang pamer kekayaan, kulineran, perselingkuhan, terjerat narkoba hingga buka – buka pakaian alias telanjang tanpa busana menjadi hal yang biasa.
Kondisi inilah yang dilakukan oleh aktris Tara Basro dengan bangganya mengunggah foto dirinya tanpa balutan busana. Dia berujar agar setiap wanita percaya diri terhadap kondisi tubuh yang dimilikinya.
“Coba percaya sama diri sendiri,” tulis Tara di Twitternya pada Selasa, 3 Maret 2020.

Menanggapi pernyataan Tara sesungguhnya bagi kita akan berpikir bahwa apa yang dilakukannya sudah termasuk sebuah pelanggaran hukum. Namun sayangnya, di negeri mayoritas muslim ini yang menjunjung etika, adat ketimuran justru pemangku kekuasaannya malah membelanya atas nama seni.

Hal inilah yang diungkapkan oleh
Menkominfo Johnny G Plate terhadap aktris Tara Basro yang mengunggah foto bugil dirinya sendiri di twitter. Pasalnya Menkominfo Johnny G Plate menyatakan sudah melihat foto tersebut dan menganggap Tara Basro tidak melanggar UU ITE terkait unggahan tanpa busana di media sosial twitter pribadi Tara.

“Kata siapa melanggar UU ITE? Nggaklah. Harus dilihat baik-baiklah. Jangan semua hal itu didiametral begitu. Ada yang mengetahui itu. Evaluasinya adalah itu bagian dari seni atau bukan. Kalau itu bagian dari seni, maka itu hal yang biasa. Namanya juga seni. Saya juga udah liat fotonya kok, ” kata Johnny di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2020).

Sungguh ungkapan yang menyedihkan terhadap para pembela Tara Basro serta pembelaan oleh pejabat bangsa ini. Dimanakah nilai-nilai moral bangsa yang selama ini di dengarkan?
Atas nama HAM mereka bebas berekspresi dan berpendapat sesuka hati. Apalagi dengan alasan seni mereka berlindung untuk melegalkan setiap tindakan ekspresi yang merendahkan harga diri.

Sesungguhnya nilai manusia beradab terdapat pada perilaku dan sikap sesuai dengan akidah dari Ilahi. Sebuah kesalahan besar apabila menstandarkan setiap perilaku berdasarkan suara (pendapat) manusia. Menganggap budaya bugil sebagai seni sesungguhnya merupakan kembalinya zaman jahiliyah. Zaman dimana manusia belum memahami peradaban yang mulia dan cemerlang.

Jangan hanya karena alasan banyak orang dewasa khususnya para perempuan yang kena body shaming lantas foto tanpa busana menjadi tamengnya. (news.detik.com)

Faham liberalisme yang telah menancap pada tubuh kaum muslimin hingga saat ini banyak orang dari berbagai kalangan mengkampanyekan ide ini. Para perempuan dihinakan dan hanya dinilai dari segi materi semata.
Tengok saja bagaimana para model (aktris) yang rela mengorbankan kehormatan dirinya dengan membuka tabir rasa malunya semakin gencar. Sangat disesalkan pula hal ini dilakukan juga oleh para muslimah yang semestinya menjaga kehormatan dirinya.

Sistem demokrasi sekuler menjadikan agama hanya dipakai dalam masalah ibadah mahdoh saja sementara dalam berperilaku diabaikan. Kondisi ini pun diperparah dengan dukungan media yang terus menerus menggaungkan ide-ide ini hingga banyak kaum muslimin terutama muslimah yang ridha terhadap ide menyesatkan ini.

Islam Memuliakan vs liberalisme menghinakan perempuan

Hanyalah Islam yang memuliakan kaum perempuan tak ada satu agama pun yang menghargai dan memuliakan wanita .
Saat Islam datang para perempuan diberikan berbagai aturan semata-mata demi menjaga kehormatan diri dan kemuliaannya. Bukan untuk mengekang apalagi memenjarakan. Aturan menutup aurat diberlakukan sebagai penghargaan atas perempuan. Begitupun dengan aturan yang lainnya.

Bagi seorang perempuan rasa malu menjadi hal pokok yang harus dimiliki. Ketika rasa malunya tercabut maka tengoklah korban-korban manusia tanpa busana semakin merajalela. Hal ini menjadi pertanda taraf berfikirnya sudah rendah. Bisa dikatakan kembali ke zaman batu yang tidak mengenal adab.

Di dalam sebuah hadis dikatakan rasa malu sebagian dari Iman.
الحياء شعبة من الإيمان

” Malu itu adalah cabang dari iman. HR. An-Nasai’dari Abu Hurairah

Di dalam hukum Islam siapapun yang melakukan tindakan porno aksi dan pornografi akan dikenakan sanksi. Semua ini dilakukan agar kemaksiatan tidak merajalela di tengah-tengah masyarakat.

Oleh karena itu Islam datang untuk menyelesaikan dan menyelamatkan kaum perempuan. Islam sepenuhnya sangat memperhatikan segala sesuatu yang berkaitan dengan perempuan. Hal tersebut bisa kira lihat dari sejarah Islam banyak para ilmuwan, ulama dan pahlawan lahir dari rahim para perempuan yang mulia dan terjaga harga diri dan kehormatannya.

Siapapun yang membiarkan dan membela aksi pornografi dan pornoaksi sesungguhnya sedang menanti kehancuran generasi.

Di dalam Al-Qur’an Surah al-Maidah ayat 49-50:

“Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.

Wallahu a’lam bi bishowwab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *