Memaknai Spirit Perjuangan Alfatih

Oleh: Nusaibah Al Khanza (Member Revowriter, Malang-Jatim)

Nama Muhammad Alfatih ditulis dengan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam. Karena kegemilangan yang mampu dicapainya dalam menaklukkan Konstantinopel di usia 21 tahun.

Beda dengan anak zaman now, yang katanya generasi milenial. Di usia 21 tahun masih banyak yang belum bisa melakukan apa-apa, khususnya bagi kejayaan agamanya.

Namun tidak dengan Muhammad Alfatih yang hidup di sebuah era, dimana anak zaman now menyebutnya era kuno, zaman batu, bahkan masa kemunduran. Padahal di era yang diremehkan tersebut, justru kejayaan Islam masih berada di puncaknya.

Berbekal keimanan bahwa Alquran dan Alhadist adalah sebuah sumber hukum. Muhammad Al Fatih meyakini bahwa bisyarah Rasulullah pasti sebuah kebenaran yang akan terwujud.

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR. Ahmad)

Sebuah harapan untuk mewujudkan bisyarah Rasulullah tersebut, diupayakan dengan sekuat tenaga. Sultan Muhammad Al-Fatih yang merupakan pemimpin ketujuh dari Daulah Utsmaniyah. Sejarah menceritakan bahwa dia adalah seorang yang saleh. Sejak baligh, Al-Fatih tidak pernah meninggalkan kewajibannya dan senantiasa memperbanyak amalan sunnah. Setelah diangkat menjadi Khalifah, Al-Fatih langsung melanjutkan upaya pembebasan yang pernah dilakukan oleh para pendahulunya yakni dengan terjun langsung dalam penaklukan Konstantinopel.

Meski para pendahulunya telah gagal menaklukkan Konstantinopel karena memang lokasi Konstantinopel yang dikelilingi oleh tiga lautan yang dijaga sangat ketat. Daratannya dilindungi oleh benteng-benteng yang kokoh. Di dalamnya terdapat pagar-pagar yang menjulang tinggi beserta menara pengintai yang berdiri tegak. Juga para serdadu Bizantium yang tersebar di setiap penjuru kota. Wajar jika Konstantinopel sangat sulit ditaklukkan.

Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Al-Fatih untuk merealisasikan cita-cita umat Islam demi mewujudkan bisyarah nabi. Hingga Konstantinopel pun dapat takluk ditangan Muhammad Alfatih dan pasukannya.

Kemudian, sesuai bisyarah Rasulullah. Bahwa setelah Konstantinopel, kota yang selanjutnya akan ditaklukkan oleh umat Islam adalah Roma.

“Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Roma?’ Rasul menjawab, ‘Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.’ Yaitu: Konstantinopel’.” (HR. Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim)

Hadits ini dinyatakan shahih oleh al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Sementara Abdul Ghani al-Maqdisi berkata, “Hadits ini hasan sanadnya.” Syaikh Al-Albani sependapat dengan al-Hakim dan adz-Dzahabi bahwa hadits ini shahih. (Lihat Silsilah Ahadits al-Shahihah 1/3)

Dalam kitab Mu’jam al-Buldaan, karya Yakut al-Hamawi dijelaskan bahwa maksud Rumiyah dalam hadis di atas adalah ibu kota Italia hari ini, yaitu Roma. (Mu’jam al-Buldan, 3/100) Setelah pembebasan Konstantinopel tujuh abad yang lalu, hingga sekarang umat Islam belum berhasil membebaskan kota Roma. Penyebutan Roma setelah Konstantinopel tampaknya merupakan keistimewaan tersendiri karena hingga sekarang Roma merupakan simbol agama Nasrani dan juga peradaban Romawi (Barat).

Konstantinopel sudah ditaklukkan oleh Muhammd AlFatih, maka PR umat Islam saat ini adalah mewujudkan penaklukkan Roma. Dengan memaknai spirit perjuangan Alfatih dalam penaklukan Konstantinopel, umat Islam akan dapat mengambil hikmah dan teladan dari Muhammad Alfatih yang berkualitas tinggi.

Berkaca dari itu, maka tugas umat Islam saat ini adalah mempersiapkan generasi sekuat AlFatih yang nanti akan Allah kehendaki untuk menaklukkan Roma. In syaa Allah!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *